Info Teknologi » Hypoma 3, VUB Kacang Tanah Tahan Penyakit Karat dan Bercak Daun

Gambar 1. Keragaan VUB Hypoma 3 (Mc/Gh7-04c-135-111).

Gambar 1. Keragaan VUB Hypoma 3 (Mc/Gh7-04c-135-111).

Laju kebutuhan kacang tanah (Arachis hypogaea L.) di Indonesia hingga saat ini masih cukup tinggi, yaitu sekitar 4,4% setiap tahun, sementara laju peningkatan produksi masih sekitar 2,5% setiap tahun. Senjang sebesar sekitar 1,9% atau setara dengan 200.000 ton/tahun dipenuhi dengan cara mengimpor (Ditjen Tanaman Pangan 2011).

Upaya meningkatkan produksi untuk mempersempit senjang tersebut dilakukan dengan intensifikasi yaitu dengan menerapkan teknik budidaya yang lebih baik, pengendalian organisme pengganggu tanaman secara terkontrol, perbaikan pemenuhan kebutuhan hara tanaman melalui pemupukan/pengapuran, atau melalui perbaikan sistem perbenihan dan penggunaan varietas unggul (Rahmianna et al 2009, Rahmianna et al 2010).

Penyakit bercak daun dan karat daun termasuk penyakit utama pada tanaman kacang tanah, menyebabkan daun-daun kacang tanah menjadi berwarna coklat dan mengering, dapat menyebabkan kehilangan hasil hingga 70% akibat dari polong-polong yang tidak berisi penuh dan biji keriput saat kering. Salah satu cara untuk mencegah kehilangan hasil yang lebih besar adalah dengan aplikasi fungisida secara tepat, atau dengan menanam varietas tahan dan berdaya hasil tinggi.

Perakitan varietas unggul telah menghasilkan sejumlah galur tahan penyakit bercak dan karat daun sekaligus berproduksi tinggi, salah satunya adalah GH 12 (Mc/GH7-04C-135-111) yang pada tahun 2015 berhasil dilepas sebagai varietas unggul baru dengan nama Hypoma 3.

Varietas baru ini mempunyai tinggi tanaman rata-rata sekitar 40‒54 cm, pada lingkungan subur atau saat ditanam musim hujan (MP) tinggi tanaman dapat mencapai 85–92 cm. Jumlah polong rata-rata 42–54 polong/tanaman dari kemampuan tertinggi 62–69 polong/tanaman, bobot polong kering sekitar 1–1,25 g/polong dengan ukuran biji sekitar 50,0–51,7 gr/100 biji termasuk berbiji sedang, pada lingkungan atau musim optimum bobot tersebut dapat meningkat menjadi 61,1–63,7 gr/100 biji.

Secara umum ukuran biji Hypoma 3 lebih besar dari ukuran biji varietas Jerapah dan Singa yang masing-masing memiliki bobot 100 biji sekitar 47,8–48,7 g/100 biji. Hypoma 3 memiliki umur masak antara 97–115 hari tidak berbeda dengan varietas Singa. Indeks panen Hypoma 3 sekitar 29–32%, menggambarkan bahwa varietas baru ini mempunyai postur pertumbuhan yang agak rimbun.

Dengan tingkat ketahanannya yang baik terhadap penyakit bercak dan karat daun membuat varietas ini masih segar hingga mencapai saat panen. Dalam program pengembangan bio-industri primer, biomass varietas ini berpotensi dijadikan sumber bahan hijauan pakan ternak. Secara umum ketahanan Hypoma 3 terhadap penyakit utama tanaman kacang tanah lebih baik dibandingkan dengan lima varietas Domba, Kancil, Bima, Talam 1, Hypoma 1, Jerapah, dan Singa.

Uji statistik menunjukkan bahwa varietas Hypoma 3 memiliki stabilitas di atas rata-rata, dan beradaptasi khusus di lingkungan marginal (karena terdera kekeringan di fase generatif). Beberapa keunggulan lain Hypoma 3 diantaranya adalah daya hasil tertingginya mampu mencapai mencapai 5,9 t/ha polong kering dengan rata-rata 4,57 t/ha polong kering, hasil ini 33,92% lebih tinggi dari Jerapah dan Singa.

Varietas kacang tanah Hypoma 3 tahan terhadap penyakit karat daun (Puccinia arracidis Speg) dan bercak daun (Phaeoisariopsis personata Berk & Curt.), dengan skor penyakit sampai saat panen umur 115 hari masih sekitar 3–4. Varietas ini juga cukup tahan terhadap penyakit layu bakteri (Ralstonia Solanacearum). Kandungan protein Hypoma 3 antara 26,98–27,90 % BK dan kandungan lemak 47,95–49,14 % BK cukup tinggi. Hypoma 3 termasuk tipe Spanish (satu polong dua biji), ukuran polong dan biji sedang, kulit ari biji berwarna rose.

Varietas kacang tanah Hypoma 3 mampu beradaptasi baik di sebagian besar jenis tanah, dengan kisaran pH 5,0–7,8. Dalam budidayanya, dengan tetap mempertahankan kelengasan tanah sekitar 70–75% kapasitas lapang (tidak becek dan juga tidak kering), jarak antar baris 40 cm dan jarak dalam baris 10–15 cm, satu tanaman/rumpun.

Dengan aplikasi pupuk 50 kg Urea/ha + 150 kg SP36/ha + 100 kg KCl/ha pada saat tanam, atau setara dengan 250–300 kg/ha pupuk majemuk Ponska apabila kesulitan mendapatkan pupuk tunggal, maka rata-rata hasil hingga 4,5 t/ha polong kering sangat mungkin dicapai.

Joko Purnomo