Info Teknologi » Induksi Pembungaan pada Ubi Jalar

infotek-1

Ubi jalar merupakan tanaman bersari bebas dan hexaploid (2n = 6x) dengan 90 kromosom. Sehingga di alam ubi jalar sangat heterogen dan menunjukkan keragaman yang luas pada karakter morfologinya. Salah satu yang terlihat adalah pada kemampuan berbunga ubi jalar yang cukup beragam. Pada kondisi alami, beberapa klon/varietas ubi jalar dapat berbunga sedikit atau banyak, bahkan ada yang tidak berbunga (di daerah sub tropis kebanyakan ubi jalar tidak berbunga sama sekali). Bunga pada ubi jalar mempunyai peranan penting dalam program pemuliaan tanaman. Pada perakitan varietas, bunga diperlukan untuk menggabungkan karakter-karakter yang diinginkan melalui persilangan terkendali antar sumber genetik. Untuk menghasilkan biji hasil persilangan dalam jumlah yang banyak, maka diperlukan jumlah bunga yang sangat banyak untuk disilangkan karena keberhasilan persilangan pada ubi jalar mempunyai variasi yang tinggi antara 1– 47%.

Kemampuan berbunga dan menghasilkan biji pada ubi jalar dikendalikan oleh faktor genetik dan lingkungan. Meskipun demikian ada beberapa teknik yang dikembangkan untuk meningkatkan pembungaan dan pembentukan biji (seed set). Salah satu diantaranya adalah menggunakan rumah kaca dengan memanipulasi lingkungan tumbuh seperti fotoperiode pendek, suhu sedang, dan nutrisi, namun cara ini memerlukan biaya yang cukup besar.

Ada beberapa teknik lain dengan biaya lebih murah yang digunakan untuk menginduksi pembungaan ubi jalar, yaitu:

Penggunaan Ajir/tiang penyangga
Perlakuan pengajiran pada ubi jalar selain bertujuan untuk memudahkan proses persilangan juga dapat menginduksi pembungaan tetua untuk meningkatkan biji hasil persilangan. Hasil penelitian Afolabi et al. (2014) menunjukkan 18 klon dari 40 klon ubi jalar dapat berbunga dengan perlakuan pengajiran, sedangkan tanpa perlakuan pengajiran klon-klon ubi jalar tidak berbunga sama sekali.

Penggunaan zat pengatur tumbuh (growth regulators)
Kelebihan dari penggunaan zat pengatur tumbuh adalah penerapan yang mudah terutama untuk aplikasi pada genotipe ubi jalar dengan jumlah yang banyak. Zat pengatur tumbuh yang sering digunakan untuk menginduksi pembungaan ubi jalar adalah:

  1. 2,4-D (2,4-dichlorophenoxyacetic acid)
    Pada konsentrasi rendah, 2,4-D merangsang pembungaan dengan menembus daun, akar dan batang dan dengan cepat diangkut melalui jalur symplastic dan apoplastic dan merangsang biosintesis berlebih dari asam etilen dan asam absisat. Kenaikan asam etilen dan asam absisat secara endogen menyebabkan vine drooping, epinasti daun, pembengkakan jaringan, retak batang, dan penuaan daun. Kelainan fisiologis ini berakibat pada pelepasan berbagai sinyal yang akan mengaktifkan serangkaian gen yang terlibat dalam pengembangan organ bunga dan pembungaan.
  2. GA (Gibberellic acid)/Giberelin
    GA yang diaplikasikan secara eksogen akan berinteraksi dengan gibberelin endogen tanaman dan memacu pembungaan. Namun seringkali aplikasi GA tidak bisa menginduksi pembungaan karena perlu kesesuaian antara GA yang diaplikasikan (eksogen) dengan giberelin endogen.
  3. BA (Benzyladenin)
    Pemberian Benzyladenin (BA) merangsang tanaman untuk menghasilkan tunas vegetatif, oleh karena itu, pemberian BA harus tepat pada waktunya. Waktu pembungaan didistribusi oleh level asimilasi, ketersediaan karbon untuk perkembangan bunga. Benzyladenin (BA) memberi efek konsisten dalam menginduksi pembungaan anggrek.
  4. Ethephon ((2-chloroethyl) phosphoric acid)
    Ethephon adalah salah satu zat pengatur tumbuh sintetik yang dikenal dengan nama dagang ethrel. Ethephon dapat menimbulkan berbagai respon fisiologis dan morfologis tanaman antara lain mendorong pemecahan dormansi tunas, menghambat pertumbuhan batang, mendorong pembungaan, pembentukan buah, pembentukan umbi, inisiasi akar, dan penuaan, mengontrol ekspresi seks tanaman, merangsang eksudasi (pengeluaran getah atau lateks) dan menghambat perluasan daun.

Penyambungan/Grafting

Grafting ubi jalar (batang atas) dengan Ipomoea nil cv. Kidachi Asagao (batang bawah) (photo: Vilma HualGrafting ubi jalar (batang atas) dengan Ipomoea nil cv. Kidachi Asagao (batang bawah) (photo: Vilma Hualla/CIP) http:\\cropgenebank.sgrp.cgiar.org)la/CIP) http:\\cropgenebank.sgrp.cgiar.org)

Grafting ubi jalar (batang atas) dengan Ipomoea nil cv. Kidachi Asagao (batang bawah) (photo: Vilma HualGrafting ubi jalar (batang atas) dengan Ipomoea nil cv. Kidachi Asagao (batang bawah) (photo: Vilma Hualla/CIP) http:\\cropgenebank.sgrp.cgiar.org)la/CIP) http:\\cropgenebank.sgrp.cgiar.org)

Ipomoea setosa (https://www.onaleseed.com) (kiri), Ipomoea nil (https://es.aliexpress.com/) (tengah), Ipomoea carnea (https://www.flickr.com) (kanan)

Ipomoea setosa (https://www.onaleseed.com) (kiri), Ipomoea nil (https://es.aliexpress.com/) (tengah), Ipomoea carnea (https://www.flickr.com) (kanan)

Perlakuan stres ( air dan nutrisi)
Kondisi cekaman pada tanaman akan meningkatkan produksi phenylalanine ammonia-lyase (PAL) yang berperan dalam pembungaan (Wada dan Takeno 2010). Kekeringan dan kekurangan nutrisi pada ubi jalar merupakan faktor stres yang dapat meningkatkan pembungaan.

Kombinasi dari dua atau lebih metode
Dari beberapa hasil penelitian kombinasi penggunaan zat pengatur tumbuh dan penyambungan memberi efek additive untuk pembungaan, persentase pembentukan kapsul biji, dan jumlah biji.

 

Wiwit Rahajeng