Info Teknologi » Intensitas Kerusakan Daun, Kriteria Seleksi Ketahanan Kedelai terhadap Kutu Kebul

Secara umum, mekanisme tanaman inang terhadap serangan hama dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu antixenosis, antibiosis, dan toleran (Emden 2002). Setiap tanaman memiliki mekanisme ketahanan yang berbeda dan spesifik terhadap hama yang menyerang. Mekanisme ketahanan tersebut dikaitkan dengan morfologi tanaman inang, sifat biologis serangga hama, dan produksi hasil biji dari tanaman inang yang diserang.

Mekanisme antixenosis, baik antixenosis fisik maupun kimia, mengacu pada kurangnya daya tarik tanaman inang sebagai tempat untuk makan dan tinggal bagi serangga. Pada tanaman kedelai, trikoma daun yang rapat dan panjang lebih disukai kutu kebul untuk meletakkan telurnya (Gambar 1), karena dengan karakteristik trikoma daun seperti itu dapat mencegah telur terbawa angin dan menjaganya tetap berada pada permukaan daun (Vieira et al. 2011). Disisi lain, trikoma daun yang rapat dan panjang dapat pula mengganggu pergerakan hama pada permukaan daun sehingga mengurangi akses ke epidermis daun (War et al. 2012). Selain trikoma, ketebalan daun merupakan bentuk antixenosis fisik yang umum dijumpai pada tanaman. Daun yang tebal pada tanaman kedelai mempersulit stilet kutu kebul menembus epidermis daun dan mencegah proses pengisapan cairan daun, sehingga genotipe kedelai dengan daun yang tebal cenderung sedikit dihinggapi kutu kebul (Sulistyo dan Inayati 2016).

Eratnya kaitan antara jumlah populasi kutu kebul dengan mekanisme antixenosis fisik pada tanaman kedelai, memberikan petunjuk dapat dijadikan tolok ukur dalam pengelompokkan antara genotipe yang tahan dan tidak tahan. Penelitian di Turki, China dan Mesir mengelompokkan ketahanan genotipe kedelai terhadap kutu kebul berdasarkan jumlah populasi kutu kebul per satuan luas daun (Xu et al. 2005, Amro et al. 2007, Gulluoglu et al. 2010). Di Indonesia, cara pengelompokkan seperti itu kurang sesuai, karena out break kutu kebul tidak selalu terjadi. Namun, pada genotipe kedelai rentan seperti varietas Anjasmoro, jumlah populasi kutu kebul yang sedikit sudah mampu menyebabkan tingkat kerusakan daun yang tinggi.

Mekanisme antibiosis mengacu kepada konsekuensi biologis yang bersifat negatif terhadap siklus hidup serangga hama akibat dari kegiatan makan pada tanaman inang yang tahan. Penelitian di Brasil menemukan indikasi mekanisme ketahanan antibiosis pada tanaman kedelai terhadap serangan hama kutu kebul berupa sedikitnya jumlah telur yang menetas, panjangnya periode nimfa, berkurangnya imago yang keluar dari pupa hingga mencapai 80%, serta siklus hidup yang cepat (Lima dan Lara 2004, Vieira et al. 2011, Silva et al. 2012). Kegiatan seleksi yang mengandalkan pengamatan gejala antibiosis akan membutuhkan waktu dan tenaga yang tidak sedikit, sehingga kurang tepat apabila diaplikasikan pada kegiatan seleksi ketahanan kedelai terhadap kutu kebul.

Bentuk mekanisme ketahanan yang lebih umum adalah toleransi, yaitu kemampuan suatu tanaman inang untuk memperbaiki jaringan yang rusak akibat serangan hama tanpa kehilangan kualitas atau hasil. Toleransi juga dapat diartikan sebagai kemampuan tanaman inang untuk memberikan hasil yang lebih baik daripada varietas rentan pada tingkat serangan hama yang sama. Di Indonesia, salah satu persyaratan untuk melepas varietas unggul baru adalah memiliki potensi hasil yang sama atau lebih baik dari varietas yang sudah ada. Apabila varietas baru tersebut tidak memiliki keunggulan hasil, maka diperlukan keunggulan lain seperti ketahanan terhadap hama. Jika membandingkan ketiga mekanisme ketahanan yang ada, maka toleransi merupakan bentuk mekanisme yang memiliki peluang lebih besar untuk memperoleh varietas unggul baru yang dapat dilepas oleh Pemerintah Indonesia. Hal ini karena hasil biji yang relatif stabil merupakan kata kunci pada mekanisme toleransi (Tabel 1).

Gambar 1. Perbedaan jumlah trikoma daun antara genotipe kedelai yang disukai untuk peletakan telur (a) PI 274453 dan (d) PI 227687 dengan genotipe kedelai yang tidak disukai untuk peletakan telur (b) PI 171451, (c) PI 229358, (e) Pintado, dan (f) Suprema (Sumber: Valle et al. 2012).

Gambar 1. Perbedaan jumlah trikoma daun antara genotipe kedelai yang disukai untuk peletakan telur (a) PI 274453 dan (d) PI 227687 dengan genotipe kedelai yang tidak disukai untuk peletakan telur (b) PI 171451, (c) PI 229358, (e) Pintado, dan (f) Suprema (Sumber: Valle et al. 2012).

apri1

Penentuan toleransi tanaman terhadap hama biasanya memperhatikan tingkat serangan yang terjadi. Tingkat keparahan serangan hama dapat dilihat dari intensitas kerusakan yang ditimbulkan. Pada kasus hama kutu kebul, intensitas kerusakan daun merupakan salah satu indikator yang dapat menggambarkan besar atau kecilnya serangan hama tersebut (Tabel 2). Hal ini berarti informasi intensitas kerusakan daun dapat mendukung kesahihan dalam menentukan toleransi suatu genotipe kedelai terhadap hama kutu kebul.

Pengamatan kerusakan daun dapat langsung dilakukan di lapangan dan lebih mudah dibandingkan dengan pengamatan trikoma daun, ketebalan daun, jumlah populasi kutu kebul, siklus hidup kutu kebul, maupun kandungan senyawa kimia dalam daun yang harus dilakukan di laboratorium. Artinya, pengamatan intensitas kerusakan daun lebih efektif dan efisien digunakan oleh pemulia tanaman dalam melakukan seleksi. Di samping itu, intensitas kerusakan daun merupakan karakter yang diturunkan dari tetua ke keturunannya. Sulistyo et al. (2016) melaporkan bahwa karakter intensitas kerusakan daun memiliki nilai heritabilitas sedang dan berkorelasi negatif dengan jumlah polong isi dan bobot 100 biji. Seleksi berdasarkan intensitas kerusakan daun pada intensitas seleksi 20% akan memberikan kemajuan genetik sebesar 41,6% (Sulistyo 2016). Oleh karena itu, intensitas kerusakan daun dapat dijadikan sebagai salah satu kriteria seleksi dalam perakitan varietas kedelai toleran terhadap kutu kebul.

apri2

Apri Sulistyo