Info Teknologi ยป Invigorasi Benih Kedelai

invigor

Produksi kedelai dalam negeri hanya mencukupi sekitar 40% dari kebutuhan nasional yang sebesar 2,0 juta ton/tahun, sehingga kekurangannya harus dipenuhi melalui impor. Peningkatan produksi harus selalu dilakukan dengan sasaran mencapai swasembada kedelai pada tahun 2014. Salah satunya adalah dengan perluasan areal tanam di lahan kering masam dan lahan marginal. Karakteristik benih kedelai yang mudah rusak dengan harga yang rendah dibanding benih komoditas lainnya terutama hortikultura menyebabkan pengusaha swasta tidak tertarik. Kondisi ini menyebabkan benih kedelai sulit ditemui di pasaran sehingga peredarannya di tingkat petani lebih banyak menggunakan sistem Jabalsim (jalur benih antar lapang dan musim), dimana penangkar lokal dengan fasilitas prosesing dan penyimpanan benih yang sederhana akan sangat berperan. Fenomena ini menyebabkan mutu benih yang beredar cepat menurun. Salah satu solusi untuk mengatasi hal ini adalah dengan teknologi invigorasi. Perlakuan invigorasi benih dimaksudkan untuk meningkatkan performansi benih, diantaranya dengan perlakuan hidrasi dengan direndam, pembasahan dan pengeringan, osmoconditioning dan matriconditioning. Perlakuan invigorasi benih pada dasarnya merupakan proses untuk mengontrol hidrasi. Yang dimaksud dengan osmoconditioning (disebut juga priming) adalah penambahan air secara terkontrol dengan menggunakan larutan garam yang memiliki potensial osmotik rendah seperti PEG, KNO3, K3PO4, MgSO4, gliseral dan mannitol. Prinsip matriconditioning seperti halnya osmoconditioning, yaitu suatu perlakuan yang dilakukan sebelum benih ditanam. Matriconditioning adalah peningkatan fisiologis dan biokimiawi dalam benih selama penghambatan perkecambahan oleh media imbibisi yang memiliki potensial matrik rendah dan potensial osmotik yang dapat diabaikan. Tujuan dari perlakuan matriconditioning adalah menyeimbangkan tekanan potensial air benih guna merangsang metabolisme benih agar siap berkecambah tetapi pemunculan radikula terhambat. Terhambatnya pemunculan radikula mengakibatkan perubahan fisiologi dan biokemis benih dapat dicapai dengan cepat sehingga proses perkecambahan terjadi dengan serentak. Selama conditioning benih akan menyerap air tetapi radikula tidak muncul, dengan demikian proses metabolisme dalam benih berjalan secara optimal sehingga terjadi kerempakan perkecambahan serta mengurangi tekaman lingkungan yang kurang kondusif.

Kombinasi matriconditioning dan Rhizobium pada benih kedelai Tanaman kedelai dapat bersimbiosis dengan Rhizobium yang menambat N2 dari udara dan memasok 60% dari total N yang diperlukan tanaman. Efektivitas Rhizobium dalam memasok N pada tanaman inang ditentukan oleh jenis tanaman, kesesuaian genetik antara tanaman dan Rhizobium, sifat kimia dan biologi tanah. Kepadatan sel Rhizobium endogen pada tanah yang bukan bekas tanaman kacang-kacangan umumnya sangat rendah (sekitar 102 sel/g tanah), sedangkan kebutuhan minimal untuk pembentukan bintil akar adalah 103 sel/g tanah. Matriconditioning menggunakan serbuk arang sekam lembab (perbandingan benih : serbuk arang sekam : air = 9 : 6 : 7) yang dikombinasi dengan inokulasi Rhizobium pada benih kedelai hitam. Kedelai hitam varietas Detam 1 dan Detam 2 yang mendapat perlakuan matriconditioning plus Rhizobium menghasilkan jumlah bintil akar tertinggi, lebih tinggi dibanding matriconditioning dan inokulan saja serta kontrol (Gambar 1). Fenomena ini menunjukkan bahwa perlakuan matriconditioning plus inokulan dapat meningkatkan jumlah bintil akar. Hal ini merupakan indikasi bahwa inokulasi yang dilakukan bersamaan dengan matriconditioning dapat meningkatkan infektivitas Rhizobium. Perlakuan matriconditioning plus inokulan mempunyai kadar klorofil daun paling tinggi dibanding perlakuan lainnya. Tanaman yang mendapat perlakuan matriconditioning mempunyai kadar klorofil daun tidak berbeda dengan perlakuan inokulasi, namun demikian masih lebih tinggi dibanding kontrol (Gambar 1). Fenomena ini mengindikasikan bahwa matriconditioning dapat meningkatkan efektifitas Rhizobium dalam meningkatkan kadar klorofil daun dibanding inokulasi biasa dan kontrol tanpa perlakuan.

Gambar 1. Pengaruh perlakuan matriconditioning terhadap jumlah bintil akar dan kadar klorofil daun kedelai hitam.
Mo-Io: kontrol, M-1: Matriconditioning, I-1: Inokulasi rhizobium, M1-I1: matriconditioning plus rhizobium. Perlakuan matriconditioning plus inokulan atau inokulan dapat meningkatkan hasil biji kering sehingga lebih tinggi dibanding kontrol dan perlakuan matriconditioning saja, walaupun secara statistik tidak berbeda nyata (Gambar 2). Perlakuan matriconditioning plus rhizobium sangat berpengaruh terhadap komponen hasil yaitu jumlah polong isi per tanaman (Gambar 2). Inokulasi rhizobium yang dilakukan bersamaan pada saat perlakuan matriconditioning menghasilkan jumlah polong isi yang lebih tinggi dibanding inokulasi cara biasa. Deraan lingkungan berupa musim hujan yang berkepanjangan pada saat penelitian berlangsung diduga menyebabkan pengaruh perlakuan terhadap hasil biji kering tidak terlihat.

Gambar 2. Pengaruh perlakuan matriconditioning terhadap jumlah polong isi/tanaman dan hasil biji (t/ha) kedelai hitam.
Mo-Io: kontrol, M-1: Matriconditioning, I-1: Inokulasi rhizobium, M1-I1: matriconditioning plus rhizobium.

Disarikan dari Buletin Palawija No. 25