Info Teknologi » Karakteristik Kedelai Toleran Lahan Kering Masam

masam

Penurunan luas panen banyak terjadi di Pulau Jawa yang mengalami alih fungsi lahan dari lahan pertanian menjadi non pertanian. Oleh karena itu, perlu adanya perluasan luas panen yang dapat dilakukan di luar Jawa. Namun demikian, lahan-lahan di luar Jawa biasanya merupakan lahan suboptimal yang memiliki permasalahan kesuburan tanah. Salah satu lahan suboptimal adalah lahan kering masam yang luasnya mencapai 102.817.113 ha. Pengembangan kedelai pada lahan kering masam menghadapi masalah diantaranya adalah keracunan unsur hara mikro seperti Al dan Mn, defisiensi unsur hara makro N, P, K, Ca, Mg dan Mo dan pengaruh buruk ion H+; serta rendahnya populasi mikro organisme menguntungkan seperti Rhizobium dan Mikoriza. Kompleksnya permasalahan di lahan kering masam menyebabkan rendahnya produktifitas kedelai. Hal ini terjadi karena keracunan unsur mikro mengakibatkan tanaman kedelai dapat mengalami kerusakan organ dan perubahan proses fisiologis tanaman. Kerusakan organ terutama akar, bukan hanya menyebabkan terganggunya proses pengambilan nutrisi, tetapi juga dapat menyebabkan kematian tanaman. Begitu pula dengan defisiensi unsur makro yang menyebabkan penurunan pertumbuhan dan perkembangan tanaman karena nutrisi yang diperlukan berkurang. Untuk mengatasi masalah ini dapat dilakukan dengan perbaikan kondisi lahan, dan atau penyediaan varietas toleran. Perbaikan toleransi varietas kedelai terhadap lahan kering masam diutamakan pada perbaikan hasil biji dan ukuran biji. Hasil biji merupakan karakter utama dalam pengembangan kedelai di lahan kering masam. Hal ini berkaitan dengan preferensi petani dan industri berbahan baku kedelai, di mana kedelai berbiji besar lebih disenangi daripada kedelai berbiji kecil. Sampai saat ini varietas yang tersedia pada umumnya adalah varietas yang berbiji sedang sampai kecil, sehinga perlu adanya perbaikan ukuran biji menjadi berbiji besar. Ideotipe kedelai toleran lahan kering masam Hal utama yang harus dimiliki kedelai untuk toleransi terhadap lahan kering masam adalah kedelai tersebut harus memiliki sistem perakaran yang mampu bertahan pada kondisi cekaman kemasaman tanah, yaitu ujung akar kedelai harus memiliki membran plasma yang dapat menghilangkan penetrasi Al pada zona pembelahan dan pemanjangan akar sehingga akar masih dapat membelah dan memanjang meskipun tercekam kemasaman tanah. Akar juga harus terbebas dari ikatan dengan Al, baik di membran sel maupun di dinding sel. Dengan kondisi demikian, akar akan tetap tumbuh dan berkembang dengan baik. Namun demikian, untuk menghadapi keracunan Al, tanaman harus memiliki kemampuan untuk mengeluarkan (eksudasi) atau membatasi masuknya Al ke dalam sel-sel ujung akar dan rambut-rambut akar, atau kemampuan untuk mentoleransi konsentrasi toksik Al di dalam selnya. Kemampuan membatasi masuknya Al dapat dilakukan dengan eksudasi asam organik, peningkatan pH daerah perakaran, dan lignifikasi, mentoleransi keracunan Al dilakukan melalui transport Al di dalam vakuola atau kompartment ekstraseluler dengan transporter khusus atau pengkelatan internal di dalam sel. Kedelai toleran lahan kering yang masam memiliki eksudasi asam organik akan dapat melakukan immobilisasi Al pada dinding sel, kompleksasi Al sitoplasmik oleh asam organik, pengasingan vacuolar enzim toleran Al, dan pengasingan Al dalam vakuola, di mana eksudasi asam organik akan diwujudkan dalam pelepasan sejumlah asam malat dan asam sitrat dari ujung akar. Ideotipe kedelai toleran lahan kering masam juga harus dapat mengembangkan adaptasi untuk mendapatkan unsur hara tertentu dari dalam tanah yang dapat berupa modifikasi arsitektur perakaran, mampu meningkatkan pH larutan nutrisi di mana tanaman tersebut tumbuh, sehingga menurunkan kelarutan dan keracunan Al dengan pengendapan, efisiensi P yang lebih tinggi, pengambilan dan transport Ca dan Mg yang lebih tinggi, KTK akar yang lebih rendah, konsentrasi Si internal yang lebih tinggi, kandungan asam organik yang lebih tinggi, efisiensi Fe yang lebih tinggi, dan lebih tahan terhadap kekeringan. Di samping itu, kedelai toleran lahan kering masam juga harus mampu mentranslokasi karbon dari tajuk ke akar tanaman yang diwujudkan dalam bentuk transformasi morfologi akar dan eksudasi senyawa organik, aktivitas enzim fosfatase yang lebih tinggi. Program perbaikan hasil dan ukuran biji kedelai toleran lahan kering masam Perbaikan hasil ini dilakukan dengan identifikasi potensi hasil kedelai pada dua lingkungan (optimal dan suboptimal atau non masam dan masam), yang bertujuan untuk memperoleh genotipe kedelai yang toleran di lahan kering masam sekaligus memiliki potensi hasil tinggi pada kondisi optimal. Genotipe W 3898-14-3 memiliki hasil biji tinggi pada kondisi suboptimal (tanpa pengapuran) dan optimal (kondisi pengapuran) ditunjukkan oleh Tabel 1. Genotipe W 3898-14-3 merupakan persilangan dari Wilis dengan genotipe 3898. Pada kondisi suboptimal (tanpa pengapuran), W 3898-14-3 hasilnya lebih tinggi daripada dua varietas pembanding Slamet dan Sindoro. Genotipe W 3898-14-3 setelah melalui uji multilokasi selanjutnya diusulkan untuk dilepas sebagai varietas unggul kedelai toleran lahan kering masam. Ukuran biji dari genotipe yang digunakan sebagai materi pemuliaan kedelai toleran hingga pada Tahun 2002 pemuliaan kedelai menempatkan ukuran berbiji sedang sebagai prioritas. Varietas Sindoro dan varietas Slamet sebagai varietas toleran lahan kering masam digunakan sebagai pembanding. Varietas Wilis, MLG 2983, W3898 dan W3465 memberikan hasil sama pada lingkungan suboptimal (Tabel 1).
Sebanyak lima varietas kedelai toleran lahan kering masam yang telah dilepas Balitkabi yaitu Tanggamus, Nanti, Sibayak, Seulawah dan Ratai. Rerata hasil Tanggamus, Nanti dan Sibayak berturut-turut adalah 1,22, 1,24 dan 1,41 t/ha, sedangkan Seulawah dan Ratai memiliki potensi hasil berturut-turut 1,6 – 2,5 dan 1,6 – 2,7 t/ha. Dalam proses perakitan kelima varietas tersebut selalu digunakan varietas Slamet sebagai pembanding toleran (Tabel 2). Varietas Sindoro dan Slamet hasilnya mencapai 2 t/ha lebih, namun varietas lainnya kurang daripada varietas tersebut (Tabel 2). Ukuran biji varietas yang dilepas tergolong kecil dan sedang. Ukuran biji varietas Sibayak terbesar dan varietas dan ukuran biji varietas Seulawah terkecil. Kelima varietas unggul baru tersebut lebih kecil ukurannya daripada varietas Slamet dan Sindoro (Tabel 2). Ukuran biji varietas yang dilepas kecil karena kedelai toleran lahan kering masam umumnya berbiji kecil sampai sedang.
Preferensi petani dan industri berbahan baku kedelai menghendaki kedelai berbiji besar, sehingga dilakukan perbaikan ukuran biji selain hasil biji kedelai dengan persilangan antara Tanggamus dengan Anjasmoro. Hasil persilangan dilakukan seleksi, kemudian dilakukan uji daya hasil. Uji daya hasil penda
huluan galur-galur kedelai hasil perilangan Tanggamus x Anjasmoro menunjukkan rerata hasil 2,5 t/ha. Sebagian besar galur memberikan hasil biji 2,5 t/ha dan 2,25 t/ha. Namun demikian, potensi hasil galur-galur tersebut dapat mencapai 4 t/ha. Ukuran biji kedelai pada populasi tersebut juga mencapai rerata 14,07 g/100 biji. Populasi terbanyak pada 14 g/100 biji dan 12 g/100 biji. Potensi ukuran biji yang lebih besar daripada 14 g/100 biji juga besar, di mana potensi paling banyak diperoleh pada 16 g/100 biji.

Disarikan dari Buletin Palawija No. 25