Info Teknologi » Karakteristik Sumber Daya Genetik Kacang Tunggak

Di Indonesia, kacang tunggak merupakan tanaman kacang-kacangan minor, setelah kedelai, kacang tanah, dan kacang hijau. Tanaman kacang tunggak beradaptasi baik di daerah agak kering (semi arid) dengan suhu antara 20−25°C, serta dapat tumbuh di lahan marginal atau pun pada berbagai jenis tanah dengan syarat drainasenya baik.

Pertumbuhan optimal diperoleh pada ke­tinggian 0−500 m dpl, tetapi dapat tumbuh sampai dengan ketinggian 1500 m di atas permukaan laut. Tanaman ini toleran terha­dap salinitas dan tanah masam, tetapi pH terbaik untuk pertumbu­hannya adalah 5,5−6,5.

Sebagian besar kacang tunggak dibudidaya­kan di daerah tadah hujan yang curah hujan tahunannya sekitar 600 mm/tahun. Tanaman ini dapat menyerap air dengan cepat selama 66 hari daur hidupnya sebanyak 140 mm dan responsif terhadap pengairan pada stadia vegetatif.

Selain toleran terhadap kekeringan, kacang tunggak juga toleran terhadap kemasaman lahan, sehingga sangat potensial dan memiliki harapan yang baik untuk dikembangkan pada lahan kering dalam rangka peningkatan produktivitas lahan.

Sumber daya genetik (SDG) tanaman merupakan bahan baku dasar yang paling berharga dan penting dalam memenuhi kebutuhan saat ini dan masa depan terutama pada program perbaikan tanaman. Oleh karena itu, SDG tersebut perlu memiliki keragaman genetik yang luas untuk sifat-sifat yang diperbaiki guna mendukung program pemuliaan.

Koleksi plasma nutfah kacang tunggak di Balitkabi berjumlah 150 aksesi terdiri dari varietas lokal, introduksi, varietas unggul lama/baru, dan galur-galur homozigot hasil persilangan. Koleksi tersebut memiliki keragaman fenotipik untuk sifat-sifatkualitatif seperti: bentuk daun, warna daun, warna bunga, warna polong, warna biji, dan bentuk polong.

Daun kacang tunggak terdiri dari tiga helaian daun (trifoliate) dengan letak berseling. Bentuknya bervariasi dari ovate hingga lanceolate. Warna bunga ungu dan putih. Polong bervariasi dalam ukuran, bentuk, warna dan tekstur.

Warna polong tua antara coklat muda, coklat tua, atau krem. Sebagian besar aksesi memiliki bentuk daun ovate, warna bunga ungu, warna polong tua krem, bentuk polong bulat, warna biji coklat hingga kekuningan (Gambar 1, Tabel 1).

2-6-16a

Gambar 1. Keragaman biji kacang tunggak.

2-6-16b

2-6-16c

Keragaman untuk sifat kuantitatif terlihat pada umur berbunga dimulai pada umur antara 38−60 hari dan mulai masak antara umur 54−75 hari. Sebanyak 97,3 persen (73 aksesi) berbunga antara umur 43−50 hari, dan 54 aksesi dipanen antara umur 61−70 hari. Terdapat 20 aksesi yang dapat dipanen sebelum 60 hari.

Panjang polong berkisar antara 6,8 cm hingga 18,5 cm, dengan rata-rata 14,6 cm, dengan hasil biji 0,31−1,55 t/ha biji kering. Kacang tunggak sebagian besar memiliki bentuk daun ovate, warna bunga ungu, warna polong tua krem, bentuk polong bulat, dan warna biji merah dan memiliki umur berbunga, umur panen, panjang polong, dan hasil biji yang lebih rendah dari nilai tengahnya (Tabel 2).

Dari seluruh sifat kuantitatif yang diamati, umur berbunga, umur panen, berat 100 polong, berat 100 biji, tinggi tanaman, dan panjang polong memiliki nilai duga heritabilitas (arti luas) yang tinggi berkisar dari 0,83−0,95.

Sedangkan jumlah polong dan hasil biji memiliki nilai duga heritabilitas kurang dari 0,50. Nilai duga heritabilitas yang tinggi berarti bahwa keragaman sifat tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh faktor genetik, atau sebagian keragaman bahan genetik itu disebabkan oleh perbedaan genotipe tanaman.

Gambar 2. Keragaan beberapa varietas kacang tunggak.

Gambar 2. Keragaan beberapa varietas kacang tunggak.

Trustinah