Info Teknologi » Katana 1 dan Katana 2, Kacang Tanah Provitas Tinggi dan Tahan Penyakit Layu Bakteri

Penampilan tanaman kacang tanah Katana 1.

Penampilan tanaman kacang tanah Katana 1.

Di Indonesia kacang tanah diusahakan di banyak ragam agroekosistem, lahan sawah (musim tanam ke-3), lahan tadah hujan (musim tanam ke-1 atau ke-2), dan lahan kering (musim tanam ke-1), dengan rata-rata produksi nasional sebesar 1,2 t/ha polong kering, dan sebagian besar biji kacang tanah tersebut masih difungsikan sebagai bahan pangan. Kendala biotik terbesar adalah penyakit layu bakteri yang disebabkan Ralstonia solanacearum sebagaimana terjadi di China atau Vietnam. Kehilangan hasil dapat mencapai lebih dari 60% pada tingkat infeksi yang berat. Gejala awal infeksi penyakit layu bakteri mulai bisa terlihat sekitar 2‒3 minggu setelah tanam dengan terlihatnya satu atau dua daun mulai layu, dan pada tingkat lanjut satu per satu tanaman lunglai, pucuk mengering dan kemudian mati. Bakteri layu cukup sulit dikendalikan. Bakteri penyebab penyakit layu ini bersifat aerob, berukuran sekitar 0,5‒1,5 mikron, mampu hidup pada kisaran suhu cukup lebar yakni 25‒350 C, bisa tersebar melalui tanah, air, atau biji yang terinfeksi. Penyakit layu bakteri terasa semakin penting karena juga menyerang tanaman tomat dan cabe, sehingga semakin menyulitkan pengendaliannya karena memiliki banyak tanaman inang. Pengendalian efektif sampai sekarang adalah dengan menggunakan varietas tahan.

Katana 1 (galur Mutan-6) dan Katana 2 (galur BM/IC//IC-172-1) adalah varietas unggul baru (VUB) yang dilepas tahun 2018. Kedua VUB tersebut memiliki keunggulan hasil yang tinggi, stabil, dan juga tahan terhadap penyakit layu bakteri. VUB yang tahan terhadap penyakit layu bakteri akan membuat jangkauan wilayah pengembangannya menjadi semakin luas yakni ke wilayah sentra produksi kacang tanah di pantai utara Jawa Tengah dan Jawa Timur yang rata-rata berendemik penyakit layu, maupun daerah lain yang tidak berendemik penyakit layu bakteri. Karakteristik polong dan biji kedua VUB yakni: kulit ari biji berwarna merah muda (rose), biji berukuran sedang, dengan dua‒tiga biji/polong, guratan kulit polong sedang, ini menjadi persyaratan karakteristik polong kacang tanah yang diinginkan industri kacang garing. Kedua VUB juga mampu beradaptasi dengan baik di lingkungan suboptimal hingga optimal. Katana1 termasuk tipe Spanish (dua biji setiap polong), sedang Katana 2 termasuk tipe Valencia (3‒4 biji setiap polong), ketiganya memiliki umur masak sekitar 90-100 hari.

Keunggulan Katana 1:

  1. Daya hasil Katana 1 mencapai 4,8 t/ha polong kering, dengan rata-rata 3,48 t/ha. Hasil rata-rata tersebut 30,3% lebih tinggi dari varietas Kancil dan 20,8% lebih tinggi dari Takar 1. Katana 1 memiliki umur masak rata-rata 88,0 hari (kisaran 81,1 – 98,1 hari). Umur masak rata-rata ini tidak berbeda dengan Kancil (88,6 hari) tetapi nyata lebih genjah dari Takar 1 (99,72 hari).
  2. Ketahanan Katana 1 terhadap penyakit bercak daun pada taraf moderat tahan yakni skor rata-rata 5,03 (kisaran 3,9‒6,2), setara Kancil dengan skor rata-rata 5,26 (kisaran 3,3‒6,0), tetapi lebih rentan dibanding Takar 1 skor rata-rata 4,01 (kisaran 3,1‒5,1). Sedangkan ketahanan Katana 1 terhadap penyakit karat daun skor rata-rata 4,73 (kisaran 4,0‒5,8), tidak berbeda dengan Kancil maupun Takar 1 yang masing-masing menunjukkan skor rata-rata 5,52 (kisaran 4,5‒7) dan 5,27 (kisaran 4,2‒7,4). Katana 1 tahan terhadap penyakit layu dan ketahanan tersebut lebih baik dari kedua varietas pembanding (Kancil dan Takar 1)
  3. Jumlah polong rata-rata Katana 1 adalah 30,51 (kisaran 20,1‒37,1) polong per tanaman. Jumlah tersebut setara dengan Kancil (27,8 polong) dan nyata lebih banyak dari Takar 1 (26,51 polong)
  4. Katana 1 memiliki kandungan protein (26,89% bk) lebih rendah dari varietas Kancil maupun Takar 1, memiliki kandungan lemak (46,88% bk) juga lebih rendah dari varietas Kancil dan Takar 1, dan memiliki ratio asam lemak Oleat/Linoleat 1,04.
Penampilan tanaman kacang tanah Katana 2.

Penampilan tanaman kacang tanah Katana 2.

Keunggulan Katana 2:

  1. Daya hasil Katana 2 mencapai 4,7 t/ha polong kering, dengan rata-rata 3,44 t/ha, berarti 29,0% lebih tinggi dari varietas Kancil dan 19,6% lebih tinggi dari Takar 1.
  2. Ketahanan Katana 2 terhadap penyakit bercak daun pada taraf moderat tahan dengan skor rata-rata 3,98 (kisaran 2,6‒5,3), masih lebih tahan dari Kancil dan setara Takar 1, sedangkan ketahanan terhadap penyakit karat daun skor rata-rata 4,20 (kisaran 3,7‒5,0), nyata lebih baik dari Kancil 5,52 (kisaran 4,5‒7) maupun Takar1 5,27 (kisaran 4,2‒7,4). Katana 2 tahan terhadap penyakit layu bakteri, ketahanan tersebut lebih baik dari kedua varietas pembanding (Kancil dan Takar 1)
  3. Jumlah polong rata-rata Katana 2 adalah 23,03 (kisaran 17,2‒30,4) polong/tanaman,. jumlah tersebut lebih sedikit dari Kancil, (27,8) dan Takar 1 (26,51).
  4. Katana 2 juga memiliki kandungan protein (24,58 %bk) lebih rendah dari varietas Kancil maupun Takar 1, dan kandungan lemak (49,60 %bk) juga lebih rendah dari varietas Takar 1 maupun Kancil. Ratio asam lemak Oleat/Linoleat Katana 2 adalah 1,20.

joko2

Joko Purnomo, A.A. Rahmianna