Info Teknologi » Shattering Incidence (SI) dan Shattering Severity (SS) pada Kedelai

Pecah polong pada tanaman kedelai

Pecah polong pada tanaman kedelai

Penyelamatan kehilangan hasil, khususnya di tanaman pangan, telah menjadi isu global. Pada komoditas kedelai, salah satu penyebab kehilangan hasil adalah terjadinya pecah polong (pod shattering/pod dehiscence). Peristiwa pecah polong merupakan terbukanya kulit polong yang menyebabkan biji terlepas/keluar dari polong, yang terjadi setelah tanaman memasuki fase masak atau telah tua. Kerugian akibat pecah polong pada kedelai berbeda antar negara, namun pada umumnya pecah polong akan menyebabkan kehilangan hasil di atas 50%, terutama pada varietas yang peka terhadap pecah polong.

Kejadian pecah polong (Shattering Incidence, SI)

Kejadian pecah polong dihitung dari banyaknya polong yang pecah pada waktu tertentu, baik yang mendapatkan perlakuan maupun yang mengalami pecah polong secara alami. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk menghitung besarnya kejadian pecah polong.

Cara penilaian kejadian pecah polong salah satunya dapat dilakukan berdasarkan polong yang pecah dari penggunaan metode oven (oven-dry method). Pada metode ini, sampel polong diperlakukan suhu oven 30°C selama tiga hari, kemudian suhu dinaikkan menjadi 40°C selama 1 hari, dinaikkan kembali menjadi 50°C selama satu hari, dan dinaikkan menjadi 60°C selama satu hari (Krisnawati dan Adie, 2017). Pada metode ini, kejadian pecah polong, yang direpresentasikan sebagai persentase polong pecah, dihitung dari jumlah polong yang pecah dibagi dengan jumlah (sampel) polong.

Pengelompokan ketahanan pecah polong berdasarkan kejadian pecah polong dapat menggunakan metode dari AVRDC (1979), yakni sangat tahan (polong pecah 0%), tahan (polong pecah 1-10%), moderat (polong pecah 11-25%), peka (polong pecah 26-50%), dan sangat peka (polong pecah > 50%). Contoh kejadian pecah polong dengan berbagai tingkatan ketahanan dari beberapa genotipe kedelai sebagai berikut:

pos1

Gambar 1. Pengelompokan ketahanan berdasar kejadian pecah polong: (A) sangat tahan, (B) tahan, (C) moderat, (D) peka, dan (E) sangat peka

Gambar 1. Pengelompokan ketahanan berdasar kejadian pecah polong: (A) sangat tahan, (B) tahan, (C) moderat, (D) peka, dan (E) sangat peka

Keparahan pecah polong (Shattering Severity, SS)

Pecah polong pada kedelai secara lebih spesifik adalah membukanya kulit polong pada sisi ventral atau dorsal dari polong (Gambar 2), yang dimulai dari ujung polong. Dengan demikian, keparahan pecah polong dapat diukur dari seberapa panjang membukanya kulit polong. Cara penilaian keparahan pecah polong dapat dilakukan menggunakan metode oven (Krisnawati dan Adie, 2017), berdasarkan tingkat persentase polong yang membuka setelah berbagai perlakuan suhu yang bertahap. Gambar 3 memperlihatkan contoh keparahan pecah polong.

Gambar 2. Sisi ventral dan dorsal pada polong kedelai

Gambar 2. Sisi ventral dan dorsal pada polong kedelai

Gambar 3. Contoh shattering severity sebesar 100%

Gambar 3. Contoh shattering severity sebesar 100%

pod4 pod5
Gambar 4. Pola keparahan membukanya polong pada setiap kelompok ketahanan yang membentuk pola kurva yang berbeda puncaknya: (A) genotipe tahan, (B) genotipe moderat, (C) genotipe peka.

Pola keparahan pecah polong ternyata berbeda antar genotipe kedelai yang tahan, moderat, maupun yang peka (Gambar 4). Genotipe kedelai yang tergolong tahan pecah polong menunjukkan tingkat keparahan kulit membuka sebesar 100% dimulai pada suhu oven tinggi (60°C). Hasil ini kontradiktif dengan yang terjadi pada kelompok genotipe peka terhadap pecah polong. Sebagian besar genotipe yang peka sudah menunjukkan tingkat keparahan kulit membuka sebesar 100% pada suhu oven 40°C. Pada genotipe moderat, pola keparahan pecah polongnya terjadi secara bertahap seiring dengan semakin tingginya suhu oven. Pada suhu 50°C, polong membuka sekitar 30%, dan kemudian meningkat menjadi 100% pada suhu 60 °C. Semakin panjang sisi dorsal maupun ventral dari polong akan menjadikan genotipe kedelai tersebut semakin peka terhadap pecah polong.

Tautan referensi pendukung:

https://www.agriculturejournals.cz/web/cjgpb.htm?type=article&id=20_2020-CJGPB

Ayda Krisnawati