Info Teknologi » Kesesuaian Varietas dan Paket Pemupukan untuk Budi Daya Kedelai Lahan Pasang Surut Tipe C

afandiProduktivitas kedelai di lahan pasang surut tergolong rendah yaitu berkisar antara 1,0‒1,3 t/ha. Rendahnya produktivitas tersebut disebabkan banyak faktor diantaranya kesuburan tanah rendah, tingkat kemasaman tanah tinggi, ketersediaan benih bermutu dan varietas unggul terbatas. Lahan pasang surut umumnya memiliki tingkat kemasaman tanah tinggi (pH <5,5), ketersediaan unsur hara dalam tanah relatif rendah, kandungan pirit (FeS2) tinggi, kelebihan air (genangan), dan adanya senyawa yang dapat meracuni tanaman (besi fero, sulfida, dan asam-asam organik). Oleh karena itu, diperlukan teknologi budi daya untuk memperbaiki sifat alami lahan pasang surut baik ameliorasi, pemupukan, maupun varietas yang sesuai untuk mendukung pertumbuhan dan produktivitas tanaman.

Pada tahun 2017 telah dilakukan penelitian menggunakan empat varietas unggul kedelai (Anjasmoro, Dena 1, Deja 2, dan Devon 1) serta tiga paket teknologi pemupukan (Tabel 1) di lahan pasang surut. Penelitian dilaksanakan di lahan pasang surut tipe C di Kelurahan Simpang, Kecamatan Berbak, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi pada MK 2017 (Juni‒Oktober 2017).

Tabel 1. Kombinasi perlakuan pemupukan dan ameliorasi.
Paket pemupukan Phonska (Kg/ha) SP36 (kg/ha) Dolomit (kg/ha) Pupuk kandang (kg/ha) Pupuk Santap M (kg/ha) Perlakuan benih
Fipronil Agrisoy
Paket-1 200 100 1500 1500 +
Paket-2 200 100 1500 1500 +
Paket-3 200 100 1500 1500 +

Kedelai ditanam secara tugal dengan jarak tanam 40 cm × 15 cm, 2‒3 biji/lubang. Saluran drainase dibuat dengan jarak antar saluran 2,5‒3 m, lebar 20 cm dan kedalaman 25 cm. Pemberian dolomit dilakukan sebelum tanam dengan cara disebar merata pada permukaan tanah untuk menurunkan kejenuhan Al-dd hingga 20%. Aplikasi pupuk kandang sapi dan SP36 dilakukan pada saat tanam, disebar sepanjang barisan tanam (menutup benih) pada lubang tanam.

Tabel 2. Keragaan pertumbuhan, hasil dan komponen hasil empat varietas kedelai di lahan pasang surut tipe C. Jambi, 2017.
Varietas Tinggi tanaman (cm) Jumlah/tanaman Bobot 100 biji (g) Hasil biji kering (t/ha)
Cabang Polong isi Polong hampa
Anjasmoro 50,9 3,1 55,1 0,6 16,5 2,23
Dena 1 54,0 4,2 50,2 2,3 14,6 2,30
Deja 2 50,0 3,0 39,1 1,4 16,4 2,55
Devon 1 48,0 3,4 41,1 1,4 14,6 2,35

Tinggi tanaman pada saat panen tidak berbeda antar varietas yaitu antara 48,0 cm hingga 54,0 cm, masih tergolong normal. Varietas Dena 1 paling banyak membentuk cabang, dan relatif sama dengan Devon 1. Jumlah cabang Varietas Anjasmoro sama dengan Deja 2. Anjasmoro jumlah cabangnya sedikit, tetapi jumlah polong isinya terbanyak. Ukuran biji Anjasmoro dan Deja 2 lebih besar dibandingkan Dena 1 dan Devon 1. Meskipun terdapat keragaman dalam komponen hasil, produktivitas keempat varietas tersebut tidak berbeda. Produktivitas yang dicapai pada keempat varietas berkisar 2,23‒2,55 t/ha (Tabel 2).

Gambar 1. Keragaan pertumbuhan empat varietas kedelai di lahan pasang surut tipe C pada umur 38 hst.

Gambar 1. Keragaan pertumbuhan empat varietas kedelai di lahan pasang surut tipe C pada umur 38 hst.

Tinggi tanaman tidak berbeda antar paket pemupukan, berkisar antara 49,9‒51,5 cm. Jumlah cabang dan polong isi lebih banyak, serta bobot 100 biji lebih tinggi dengan pemupukan paket-3 dibandingkan dengan paket alternatif lainnya, tetapi produktivitasnya tidak berbeda nyata. Produktivitas kedelai dengan tiga paket pemupukan antara 2,25 t/ha hingga 2,41 t/ha (Tabel 3).

Tabel 3. Pengaruh tiga paket pemupukan terhadap pertumbuhan, komponen hasil, dan hasil kedelai di lahan pasang surut tipe C. Jambi, 2017.
Paket pemupukan Tinggi tanaman (c) Jumlah cabang/tan Jumlah polong isi/tan Jumlah polong hampa/tan Bobot 100 biji (g) Hasil biji kering (t/ha)
Paket-1 50,8 3,2 44,7 1,43 16,1 2,25
Paket-2 49,9 3,5 42,7 1,51 16,9 2,41
Paket-3 51,5 3,6 51,7 1,31 16,6 2,40

Secara umum, karakteristik varietas yang disukai petani adalah produktivitas tinggi, polong tidak mudah pecah saat tua atau mengering, biji besar, dan mengkilap. Ukuran biji besar dan mengkilap disukai karena memudahkan dalam pemasaran. Karakter tidak mudah pecah polong merupakan kriteria yang mendapat perhatian petani karena jika terlambat panen, potensi kehilangan hasil dapat ditekan. Selain itu, karakter polong yang tidak mudah pecah memungkinkan pemanenan pada kondisi polong sudah mengering sehingga proses pengeringan biji lebih cepat. Varietas Anjasmoro sangat diminati petani setempat karena memiliki karakter tersebut. Varietas baru yang diperkenalkan yaitu Dena 1, Deja 2, dan Devon 1 kurang diminati oleh petani karena polong mudah pecah meskipun dari segi potensi hasil dan ukuran biji relatif sama dengan Anjasmoro.

Untuk mendapatkan produktivitas kedelai lebih dari 2,5 t/ha di lahan pasang surut diperlukan masukan komponen teknologi yang sesuai yaitu varietas kedelai Anjasmoro, pemberian Dolomit untuk menurunkan kejenuhan Al menjadi 20% (untuk lokasi penelitian dibutuhkan dolomit 1,5 t/ha), dan dosis pemupukan yang optimal 1.500 kg pupuk kandang sapi + Rhizobium Agrisoy (perlakuan benih) + 200 kg Phonska + 100 kg SP36 per ha.

Afandi Kristiono