Info Teknologi » Komoditas Ubi Kayu sebagai Bioekonomi Masa Depan

ubikayuPotensi Bioekonomi Ubi kayu

Bioekonomi adalah sistem ekonomi yang mengolah sumber daya alami dan terbarukan dari daratan dan lautan menjadi bahan makanan manusia maupun pakan ternak, serta bahan bakar industri dan energi. Di negara maju seperti Uni Eropa, sudah menggunakan strategi bioekonomi beberapa tahun terakhir dan hasilnya akan baik untuk kelestarian lingkungan, meningkatkan persediaan pangan dan energi, serta menambah daya saing.

Potensi dan peluang pengembangan komoditas ubi kayu sebagai bioekonomi di masa depan sangat terbuka luas. Potensi ini sejalan dengan berkembangnya industri ternak, pangan olahan, dan industri lainnya seperti alkohol, sorbitol, fruktosa dan banyak lainnya. Bahkan ke depan industri plastik akan menggunakan umbi-umbian termasuk ubi kayu sebagai bahan bakunya.

Menyadari nilai tambah dari komoditas ubi kayu yang diperoleh dari pengembangan produk olahan pada aspek hilir jauh lebih tinggi dari produk primer atau di usahatani, maka pendekatan pembangunan pertanian ke depan selayaknya lebih banyak diarahkan pada pengembangan produk pasca usahatani. Agroindustri adalah sektor yang mampu memberi nilai tambah bagi produk hasil ubi kayu di lapang. Hal ini dikarenakan agroindustri memiliki keterkaitan langsung dengan pertanian primer, di mana industri inilah yang mengolah produk primer pertanian menjadi barang setengah jadi seperti tepung-tepungan maupun barang konsumsi langsung aneka pangan. Produksi ubi kayu perlu ditunjang dengan tersedianya teknologi hasil penelitian dari mulai proses produksi (budidaya dan varietas) maupun pasca panen pada pengolahan untuk pangan, pakan maupun untuk industri lainnya.

Potensi  Ekonomi dari Produk Samping

Menurut Suparmoko dan Maria (2000), nilai sumberdaya alam dibedakan atas nilai atas dasar penggunaan (instrumental value) dan nilai tanpa penggunaan secara intrinsik melekat dalam aset sumberdaya alam (intrinsic value). Dari perhitungan dalam valuasi sumberdaya (Pearce dan Turner, 1991; Munasinghe, 1993; Pearce dan Moran, 1994), maka perhitungan nilai ekonomi ubi kayu didasarkan pada hasil prosesing di hulu (on farm) sampai produk hilir (produk perantara/jadi). Untuk satuan perhitungan hasil ubi kayu per ha di tingkat petani dikaji pada satuan hasil ubi kayu per hektar. Valuasi ekonomi pada tingkat usahatani yaitu nilai penggunaan langsung yang dicerminkan dengan besarnya keuntungan per hektar dan nilai penggunaan tidak langsung yang didekati dengan produk samping biomassa berupa daun dan batang. Harga daun ubi kayu 1 ikat dengan berat 70 kg sebesar Rp 12.000,-. Batang untuk bibit Rp 10.000/15 biji. Harga kulit ubi kayu Rp 10.000/karung (1 karung=25 kg). Bonggol (ujung umbi) dijadikan gaplek harga Rp 1300/kg. Limbah tapioka (gamblong) harga Rp 35.000/zak (1 zak=65kg).

Tabel 1. Potensi nilai ekonomi ubi kayu tujuan agroindustri untuk sektor hulu
 Kategori Nilai Penggunaan per ha Nilai Intrinsik Total
 Nilai penggunaan langsung Nilai penggunaan tidak langsung Nilai pilihan  Nilai keberadaan Nilai Kebanggaan/warisan
1 Usaha Tani  51.100.000 7.698.000  – 58.798.000
1.1 Daun 1.028.000
1.2 Batang 6.670.000
2 Bahan baku pakan 5.700.000 5.700.000
2.1 Kulit ubi kayu
2.2 bonggol Belum Terdeteksi Belum Terdeteksi Belum Terdeteksi
3 Bahan baku industri 7.300.000 7.300.000
3.1 Kulit 300.000
3.2 Bonggol X
3.3 Gamblong 7.000.000
3.4 Limbah cair X
Total 51.100.000 20.698.000 71.798.000

Potensi nilai ekonomi usahatani ubi kayu sebesar Rp 71.790.000,- pada tingkat produktivitas petani 42,5 t/ha dengan harga ubi kayu per kg Rp 1.200. Manfaat ekonomi tidak langsung sebesar Rp 20.698.000 atau 29,7% dari total manfaat ekonomi atau 40% dari nilai ekonomi penggunaan langsung diterima petani. Disamping itu ada nilai instrinsik yang belum terdeteksi dan nantinya dalam perkembangan ubi kayu selanjutnya akan diketahui.

Implikasi kebijakan

Potensi salah satu komoditas pangan yang patut dipertimbangkan untuk dikembangkan di Indonesia adalah umbi-umbian seperti ubi kayu. Sementara ini, ubi kayu merupakan salah satu tanaman pangan yang mempunyai produk samping (eks limbah) dapat digunakan sebagai sumber pakan potensial untuk sapi potong karena hampir semua bagian tanaman maupun limbah agroindustrinya dapat dimanfaatkan. Kulit ubi kayu yang merupakan bagian luar umbi tidak termanfaatkan sewaktu penggunaan umbinya, tetapi akan menjadi kandidat yang sangat baik untuk bahan pakan. Potensi nilai ekonominya sebesar 40% dari total nilai ekonomi produk langsungnya.  Disamping itu, ada nilai-nilai yang belum terdeteksi dan nantinya akan dapat diketahui sejalan dengan berkembangnya produk berbasis ubi kayu yang cukup luas dalam penggunaan atau utilisasi produknya.

ubikayu1

Untuk menuju sistem usahatani ubi kayu berbasis agroindustri ataupun bisa disebut bioindustri telah dipersiapkan teknologi yang menunjang sistem tersebut. Berdasarkan SIPP 2013-2045 (Kementan, 2013) teknologi yang dipersiapkan antara lain: Pertama, teknologi tanaman ubi kayu integrasi dengan ternak, teknologi yang menghasilkan biomassa tinggi untuk kebutuhan pakan. Permasalahan kompetisi terhadap sumberdaya alam yang mungkin timbul dari intensifikasi pemanfaatan lahan dapat teratasi dengan cara integrasi seperti ini, sehingga cara ini mampu menyediakan kebutuhan biomassa untuk kebutuhan pangan, pakan, dan juga sebagai bahan baku industri. Kedua, teknologi tanaman ubi kayu integrasi dengan energi, teknologi yang menghasilkan biomassa tinggi untuk kebutuhan energi. Biomassa dari ubi kayu selain digunakan untuk pangan dan pakan juga untuk sumber energi terbarukan yang dapat diubah menjadi bahan bakar cair biofuel. Dikeluarkannya Perpres No. 5 tahun 2006 tentang pengembangan sumber energi terbarukan dari biomasa (biofuel) yang terdiri atas biodiesel, bioetanol, dan bio-oil sebagi subtitusi BBM merupakan peluang besar bagi ubi kayu sebagai penunjang bahan baku untuk bioetanol.

Belum banyak diketahui oleh petani atau preferensi ubi kayu sebagai bahan baku yang dibutuhkan untuk produk industri, sementara banyak varietas ubi kayu mempunyai karakteristik dan spesifikasi yang cocok untuk tujuan produk industri. Seperti untuk pangan yang mempunyai rasa enak, untuk pakan dengan biomassa banyak, kandungan pati tinggi untuk etanol atau banyak lagi yang belum teridentifikasi. Dalam kurun waktu  antara tahun 1978–2016 sekitar 12 varietas unggul ubi kayu telah dilepas pemerintah. Varietas unggul tersebut, yakni: Adira-1, Adira-2, Adira-4, Malang-1, Malang-2, Darul hidayah, UJ-3, UJ-5, Malang-4, Malang-6, UK 2, Agritan (Balitkabi, 2016). Namun teknologi tersebut belum banyak dimanfaatkan oleh pengguna (petani atau industri). Disamping itu, tidak banyak informasi mengenai preferensi produk samping (limbah/biomassa) dari tanaman ubi kayu yang dibutuhkan sebagai bahan baku diketahui oleh industri. Disini pentingnya promosi dan diseminasi yang terus menerus untuk memberikan edukasi ke masyarakat dalam rangka masalisasi teknologi ubi kayu yang ada terkait dengan harapan ubi kayu sebagai komoditas masa depan.

Link publikasi: https://ojs.unud.ac.id/index.php/soca/issue/view/3342

Fachrur Rozi