Info Teknologi ยป Kutu Kebul Bemisia tabaci : Aleyrodidae Hama Penting Pada Tanaman Kedelai Dan Cara Pengendaliannya

1-bimecia-3

Salah satu gangguan dalam meningkatkan produksi kedelai adalah karena serangan hama. Berdasarkan hasil identifikasi dari 9 jenis serangga hama pemakan daun, serangga kutu kebul Bemisia tabaci adalah salah satu jenis hama yang sangat penting, karena disamping sebagai hama tanaman juga sebagai serangga hama pembawa virus. Kutu kebul mampu menularkan berbagai penyakit virus seperti Cowpea Mild Mottle Virus (CPMMV), pada tanaman kedelai. Kutu kebul termasuk dalam ordo: Homoptera, Famili : Aleyrodidae, Genus: Bemisia dan spesies: tabaci. Hama ini bersifat polifag (mempunyai banyak jenis tanaman inang) sehingga sulit dikendalikan. Hama ini dapat menyerang tanaman dari famili Compositae (letus, krisan), Cucurbitaceae (mentimun, labu, labu air, pare, semangka dan zuchini), Cruciferae (brokoli, kembang kol, kubis, lobak), Solanaceae (tembakau, terong, kentang, tomat, cabai) dan Leguminoceae (kedelai, kacang hijau, kacang tanah, buncis, kapri). Selain itu Bamisia tabaci juga mempunyai inang selain tanaman pangan yaitu pada tanaman gulma babadotan (Ageratum conyzoides). Penelitian lain juga menyebutkan kutu kebul ditemukan pada Ipomoe spp.

Perkembangan populasi hama kutu kebul dipicu antara lain oleh perubahan suhu udara (semakin kering udara, semakin meningkat populasi hama kutu kebul), waktu tanam yang tumpang tindih dalam suatu areal, varietas kedelai yang peka, kelembaban udara dan tanah, dan pola pengendalian dengan insektisida). Kehilangan hasil akibat serangan hama kutu kebul ini dapat mencapai 80%, bahkan pada serangan berat dapat menyebabkan puso (gagal panen). Sampai kini, sebagian besar pengendalian hama kutu kebul pada tanaman kedelai di tingkat petani masih mengandalkan insektisida, namun demikian masih sering kali gagal. Pengendalian hama kutu kebul dapat dilakukan dengan berlandaskan strategi penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Dengan menggunakan komponen pengendalian yang kompatibel termasuk waktu tanam, varietas tahan, musuh alami, tanaman perangkap/penghalang jagung, aplikasi pestisida yang berlandasan pada asas ekologi dan ekonomi diharapkan pengendalian kutu kebul akan lebih efektif.

Komponen-komponen pengendalian hama kutu kebul yang dapat diaplikasikan dalam penerapan PHT pada tanaman kedelai khususnya untuk pengendalian hama kutu kebul adalah:

1. Pemanfaatan pengendalian alami dengan mengurangi tindakan-tindakan yang dapat merugikan atau mematikan perkembangan musuh alami. Penyemprotan dengan dosis insektisida yang berlebihan maupun frekuensi aplikasi yang tinggi akan mengancam populasi musuh alami (parasitoid dan predator). Tercatat 75 spesies telah dideskripsi sebagai predator pada kutu kebul, akan tetapi hanya spesies tertentu yang mampu menurunkan populasi kutu kebul.

2. Pengendalian fisik dan mekanik yang bertujuan untuk mengurangi populasi hama, mengganggu aktivitas fisiologis hama yang normal, serta mengubah lingkungan fisik menjadi kurang sesuai bagi kehidupan dan perkembangan hama. Tindakan penyiangan gulma, pengairan atau perbaikan pola tanam dapat membantu mengurangi populasi dan perkembangan hama.

3. Pengelolaan ekosistem melalui : bercocok tanam, yang bertujuan untuk membuat lingkungan tanaman menjadi kurang sesuai bagi kehidupan dan pembiakan atau pertumbuhan serangga hama dan penyakit serta mendorong berfungsinya agensia pengendali hayati. Beberapa teknik bercocok tanam antara lain :

a) Penanaman varietas toleran terhadap kutu kebul seperti Detam 1, Detam 2, Wilis, Gepak Kuning, Gepak ijo, Kaba, dan Argomulyo. Untuk daerah endemis kutu kebul tidak disarankan menanam varietas Anjasmoro. Pada kondisi populasi kutu kebul tinggi perlu dibantu dengan aplikasi insektisida

b) Penanaman benih sehat yang berdaya tumbuh baik, benih yang sehat akan tumbuh menjadi tanaman yang sehat pula. Pada tanaman yang sehat akan mampu mempertahankan diri dari serangan hama, dengan kemampuan tumbuh kembali (recovery) yang lebih cepat.

c) Pergiliran tanaman untuk memutus siklus hidup hama. Pergiliran tanaman dengan menanam tanaman bukan inangnya pada pola tanaman sebelum atau sesudah tanaman kedelai, merupakan usaha untuk memutus siklus hama agar populasi hama kutu kebul tidak dapat meningkat dengan cepat.

d) Sanitasi membersihkan tanaman inang di sekitar kebun, sisa-sisa tanaman atau tanaman lain yang dapat dipakai sebagai inang. Rotasi tanaman dengan tanaman non inang juga dianjurkan.

e) Waktu tanam yang tepat diusahakan dalam satu hamparan tanam serempak atau selisih waktu tanam tidak boleh lebih dari 10 hari. Hindari waktu tanam yang tumpang tindih dari satu area tanam kedelai yang luas. Perbedaan waktu dan stadia tanaman dalam area yang luas akan mendorong pertumbuhan populasi hama. Hal ini menyebabkan ketersediaan makanan bagi hama kutu kebul terus ada sepanjang waktu. Populasi hama meningkat dengan cepat karena ketersediaan makanan hama yang sesuai, sebagai akibat kegiatan manusia membudidayakan tanaman kedelai pada areal luas dan dilakukan secara terus menerus.

f) Penanaman tanaman penghalang atau penolak dengan tujuan menghambat penerbangan/migrasi hama, misalnya: penanaman jagung pada areal pertanaman kedelai untuk menghalangi atau mengganggu migrasi hama kutu kebul. Tanaman penghalang (barier) dengan tanaman jagung yang rapat dapat membantu mengurangi migrasi kutu kebul.

4. Penggunaan agensia hayati (Pengendalian Biologis). Pengendalian biologis pada dasarnya adalah pemanfaatan dan penggunaan musuh alami untuk mengendalikan hama. Musuh alami yang terdiri dari parasitoid, predator dan patogen serangga hama merupakan agens hayati yang dapat dipakai sebagai alat pengendalian hama kutu kebul. Predator kutu kebul dari famili Anthocoridae, Coccinelidae, Chrysopidae, Hemerobiidae dan kebanyakan Miridae tidak mampu menjaga populasi kutu kebul di bawah ambang ekonomi di rumah kaca, meskipun demikian predator dari genera Macrolopus atau Dicyphus diketahui mampu menurunkan populasi kutu kebul. Cendawan dari golongan entomophtorales juga ditemukan mampu menginfeksi kutu kebul antara lain Conidiobolus spp., Entomopthora spp. dan Zoophthora spp.

5. Pestisida nabati atau kimiawi secara selektif untuk mengembalikan populasi hama pada asas keseimbangannya. Banyak insektisida yang telah digunakan untuk mengendalikan B. tabaci seperti acetamiprid, buprofezin dan diafenthiuron, carbosulfan. Akan tetapi pengendalian dengan insektisida imidacloprid, thiamethoxam, pyriproxyfen, buprofezin, pyridaben dan pymetrozin tidak mampu mengendalikan hama kutu kebul dan aplikasi insektisida dilaporkan juga menimbulkan resitensi pada hama ini. Serbuk biji mimba efektif mengendalikan hama kutu kebul. Keputusan tentang penggunaan pestisida kimiawi dilakukan setelah diadakan analisis ekosistem terhadap hasil pengamatan dan ketetapan tentang ambang kendali. Pestisida yang dipilih harus yang efektif dan telah diizinkan.

Gamabar tanaman kedelai sehat dan tanaman terseranga
n hama kutu kebul dan berakibat tumbuhnya jamur embun jelaga

Tanaman kedelai sehat dan tanaman kedelai yang terserang kutu kebul yang ber akibat tanaman kerdil dan daun mengeriting