Info Teknologi » Mengenal Hama Kutu Putih pada Ubi Kayu

Salah satu serangga yang berperan sebagai hama penting dalam kegiatan budi daya ubi kayu (Manihot esculenta Crantz) adalah kutu putih Phenacoccus manihoti Matile-Ferrero (Hemiptera: Pseudococcidae) atau mealybug. Kutu putih bukan merupakan hama asli dari Indonesia. Kutu putih berasal dari kawasan Amerika Selatan. Awal tahun 1970-an hama ini mulai menyebar ke kawasan Afrika dan berkembang menjadi hama penting yang menyerang tanaman ubi kayu. Serangan kutu putih pada musim kering menyebabkan terjadinya gagal panen. Penyebaran hama kutu putih berlanjut hingga ke Asia Tenggara seperti Thailand, Laos, Kamboja, dan Indonesia. Serangan kutu putih di Thailand menyebar secara luas dan menyebabkan kehilangan hasil hingga 50%, dengan kerugian sekitar tiga puluh juta dolar Amerika Serikat (Bellotti et al. 2012). Tahun 2010 hama kutu putih dilaporkan telah memasuki wilayah Indonesia dan tersebar secara merata di seluruh kawasan. Kerusakan yang terjadi akibat serangan hama kutu putih menyebabkan terjadinya kehilangan hasil sekitar 50% (Hidayat 2015).

Kutu putih merupakan hama yang bersifat partenogenetik telitoki, yaitu semua keturunan yang dihasilkan adalah betina, sehingga setiap kutu mampu manghasilkan keturunan. Pada kondisi optimal, satu betina mampu menghasilkan 200−600 butir telur. Kutu putih dewasa memiliki tubuh berwarna merah muda dengan bentuk oval, ditutupi tepung putih berlilin, bagian mata relatif berkembang, dan tungkai berkembang baik dengan ukuran yang sama. Telur kutu putih berbentuk oval, berwarna kuning keemasan dan ditutupi oleh kantung telur (ovisac). Kutu putih mengalami stadia instar 1 sampai dengan instar 4. Perubahan instar ditandai dengan adanya penambahan ruas tubuh. Siklus hidup kutu putih rata-rata dari telur hingga dewasa sekitar 28 hari (CABI 2013).

Gambar 1 Kutu putih dewasa. {Sumber: www.cabi.org ©International Institute of Tropical Agriculture (IITA)}.

Gambar 1 Kutu putih dewasa.
{Sumber: www.cabi.org ©International Institute of Tropical Agriculture (IITA)}.

Kutu putih menyerang dengan cara menghisap cairan pada bagian daun dan pucuk tanaman. Gejala yang timbul akibat serangan tersebut adalah daun mengkerut dan pucuk mengerdil hingga menyerupai bunga atau disebut bunchy tops. Serangan berat dapat menyebabkan defoliasi, akan tetapi gejala tersebut sangat jarang terjadi karena ubi kayu dapat bertunas kembali dengan cepat. Serangan kutu putih pada batang mengakibatkan terjadinya distorsi. Kehilangan hasil yang ditimbulkan oleh serangan kutu putih berkisar 30% hingga 80%.

Serangan kutu putih pada bagian pucuk (kiri) dan serangan kutu putih pada bagian daun (kanan). Sumber: Dokumen Pribadi.

Serangan kutu putih pada bagian pucuk (kiri) dan serangan kutu putih pada bagian daun (kanan).
Sumber: Dokumen Pribadi.

Beberapa teknik pengendalian hama kutu putih yang telah dilakukan di luar negeri adalah:

  1. Pengendalian biologi menggunakan musuh alami (parasitoid: Anagyrus lopezi)
  2. Pengendalian dengan bahan kimia organik (ekstrak akar ubi kayu; minyak mimba)
  3. Menggunakan varietas tahan.
  4. Pengendalian dengan kultur teknik

Penggunaan mulsa dan penambahan pupuk organik maupun pupuk jenis lain pada dosis yang tepat dapat meningkatkan ketahanan ubi kayu. Penggunaan tanaman yang sehat sebagai bahan tanam merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah hama kutu putih.

 

Sulistiyo Dwi Setyorini