Info Teknologi » Mengenal Penyakit Tular Tanah pada Tanaman Kedelai

Penyakit pada tanaman kedelai dapat ditemukan mulai fase perkecambahan hingga panen/pasca panen. Infeksi penyakit yang terjadi pada fase vegetatif terutama pekecambahan dapat mengurangi populasi tanaman per satuan luas. Identifikasi penyebab penyakit sangat penting dilakukan untuk menentukan tindakan pengendalian yang tepat. Patogen (penyebab penyakit) yang menginfeksi pada periode perkecambahan yang termasuk dalam golongan jamur antara lain busuk akar/busuk pangkal batang, busuk akar/hawar jaring Rhizoctonia, dan hawar semai Fusarium. Infeksi ketiganya menyebabkan tanaman bergejala layu.

1. Busuk akar/busuk pangkal batang

Penyebab dan gejala penyakit: Busuk akar/busuk pangkal batang disebabkan oleh jamur Sclerotium rolfsii. Patogen ini dapat menginfeksi tanaman kedelai mulai kecambah hingga panen. Infeksi yang terjadi pada fase kecambah menyebabkan kecambah layu dan mati (Gambar 1a).

Sklerotia (kumpulan dari miselium) merupakan struktur jamur untuk bertahan hidup, terbentuk pada infeksi yang berlangsung lama, berwarna coklat muda kemudian berubah menjadi coklat kehitaman. Sklerotia ini merupakan propagul (alat reproduksi) untuk menginfeksi tanaman inang berikutnya. S. rolfsii memiliki lebih dari 500 inang sehingga siklus hidup inokulum sulit diputus (Ferreira & Boley 2006).

Perkembangan penyakit: kelembaban tinggi dan suhu yang hangat (10‒40oC), terutama terjadi pada musim panas, sangat sesuai bagi perkembangan patogen. Dalam kondisi yang sangat lembab, jamur dapat menginfeksi daun, tangkai, dan polong (Semangun 1991). Jamur dapat tumbuh pada pH 3‒7, tetapi optimum pH 3‒5. Perkembangan miselium berlangsung cepat pada kondisi tanpa cahaya.

2. Busuk akar (hawar jaring Rhizoctonia)

Penyebab dan gejala penyakit: penyakit busuk akar (hawar) disebabkan oleh Rhizoctonia solani. Jamur dapat menginfeksi kecambah pada bagian yang berada di bawah permukaan tanah dan menyebabkan kecambah mati. Gejala pada kecambah berupa bercak coklat hingga kemerahan pada pangkal batang dan akar (Gambar 1b). Jamur juga menginfeksi tanaman dewasa pada bagian akar, daun, batang, dan polong. Patogen berkembang hingga menyebabkan batang keriput sehingga tanaman mati.

Perkembangan penyakit: perkembangan patogen umumnya terjadi pada tanah yang hangat, dan tanah pasir yang lembab. Suhu optimum bagi perkembangan patogen adalah 28‒32oC. Pada suhu tersebut, penyakit lebih cepat berkembang. Infeksi patogen dan tingkat keparahan penyakit meningkat pada tanah yang lembab dan kaya nitrogen (N). Patogen dapat bertahan hidup pada bahan organik dengan cara membentuk sklerotia.

3. Hawar semai Fusarium

Penyebab dan gejala penyakit: penyakit ini disebabkan oleh Fusarium oxysporum f.sp. glycine. Serangan penyakit pada fase perkecambahan menyebabkan kecambah rebah dan bahkan mati (Gambar 1c). Serangan pada tanaman dewasa menyebabkan tanaman layu, busuk akar samping, tudung akar, dan pangkal batang tanaman. Penularan penyakit dapat melalui air, alat pertanian, dan tanah. Patogen dapat bertahan hidup meskipun tidak ada tanaman dengan membentuk klamidospora (struktur tahan) dan miselium di dalam tanah. Jamur menghasilkan mikrokonidia, makrokonidia, dan klamidospora.

Perkembangan penyakit: tanah yang jenuh air, suhu lingkungan 27‒31°C, kandungan bahan organik dan nitrogen yang tinggi sangat sesuai bagi perkembangan jamur. Umumnya penyakit ini muncul bersama-sama dengan penyakit lain, seperti busuk akar Rhizoctonia dan nematoda cist kedelai.

Gambar 1. Infeksi S. rolfsii (a). R. solani (b). (sumber: ipm illionis.edu), dan (c) F.oxysporum f.sp.glycine (sumber: extension.umn.edu) pada fase kecambah

Gambar 1. Infeksi S. rolfsii (a). R. solani (b). (sumber: ipm illionis.edu), dan (c) F. oxysporum f.sp.glycine (sumber: extension.umn.edu) pada fase kecambah.

Secara umum, pengendalian ketiga penyebab penyakit tersebut dapat dilakukan dengan cara:

  1. Kultur teknis dengan pengolahan tanah yang baik, perbaikan aerasi, dan pengaturan jarak tanam (Semangun 1991).
  2. Menghindari tanam kedelai saat curah hujan tinggi.
  3. Pergiliran tanaman dengan kelompok tanaman bukan inang.
  4. Solarisasi, yaitu dengan mengusahakan agar lingkungan tanaman terpapar sinar matahari yang cukup.
  5. Eradikasi, yaitu membersihkan dan memusnahkan tanaman inang dan gulma yang terinfeksi patogen.
  6. Aplikasi jamur antagonis, misalnya dengan menggunakan jamur dari genus Trichoderma.
  7. Perlakuan benih dengan bahan aktif disesuaikan dengan jenis patogennya.

Eriyanto Yusnawan (Disarikan dari materi bimbingan teknis produksi benih kedelai 2016)