Info Teknologi ยป Mengendalikan Hama Boleng (Cylas formicarius) pada Ubi Jalar dengan Biopestisida Be-Bas

Biopestisida Be-Bas

Biopestisida Be-Bas

Salah satu kendala yang dihadapi oleh petani ubi jalar di hampir semua jenis lahan baik lahan optimal maupun sub optimal (pasang surut) adalah serangan hama penggerek umbi (Cylas formicarius). Serangan hama yang dikenal sebagai hama boleng pada umbi ubi jalar ini dapat menyebabkan kehilangan hasil hingga 100%. Umbi yang terserang C. formicarius tidak dapat dikonsumsi manusia maupun hewan ternak karena mengandung racun yang menyebabkan rasa pahit.

Pengendalian C. formicarius menggunakan insektisida kimia belum menunjukkan hasil yang memuaskan karena stadia serangga yang merusak umbi adalah larva. Pada stadia ini larva berkembang dalam umbi di dalam tanah sehingga senyawa kimia yang diaplikasikan tidak mampu menjangkau sasaran. Berpijak dari realita tersebut, tim peneliti Balitkabi telah melakukan penelitian dan mendapatkan formula biopestisida untuk mengendalikan hama boleng tersebut.

Biopestisida dengan bahan cendawan entomopatogen, Beauveria bassiana memiliki kelebihan dalam menginfeksi hampir semua ordo dan berbagai stadia serangga. Biopestisida ini cukup prospektif digunakan sebagai alternatif pengganti insektisida kimia. Cendawan B. bassiana menghasilkan senyawa metabolit dari miselium maupun konidiumnya seperti bassionalide, oosporin, beauvericin, dan beauveriolides yang bersifat toksik, menghambat nafsu makan serangga, menghambat produksi telur maupun proses opivosisi atau peletakan telur.

Eksplorasi berbagai isolat cendawan B. bassiana di berbagai lokasi di pulau Jawa telah dilakukan mulai tahun 2010. Dari hasil eksplorasi tersebut, kemudian diteliti isolat yang memiliki kemampuan efektif membunuh imago, larva, dan menggagalkan penetasan telur C. formicarius hingga mencapai 100%. Pada penelitian lebih lanjut, telah diperoleh formulasi B. bassiana dalam bentuk tepung dengan nama produk Be-Bas. Formulasi dalam bentuk tepung diharapkan akan mempermudah aplikasi biopestisida tersebut di lapang dan tetap memiliki efikasi yang tinggi.

Metode aplikasi biopestisida Be-Bas untuk mengendalikan C. formicarius dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain:

  1. Aplikasi Be-Bas langsung ke lubang tanam
  2. Aplikasi Be-Bas ke pangkal batang tanaman
  3. Aplikasi Be-Bas dengan cara merendam stek ubi jalar ke dalam suspensi Be-Bas selama 60 menit sebelum tanam.

Ditinjau dari tingkat kematian C. formicarius, aplikasi Be-Bas melalui lubang tanam dan atau penyemprotan pada pangkal batang tanaman cukup efektif dalam membunuh larva maupun imago C. formicarius jika dibandingkan dengan aplikasi melalui perendaman stek maupun aplikasi insektisida kimia. Hal ini karena suspensi konidia yang diaplikasikan ke lubang tanam atau di sekitar batang tanaman dapat berkembang dan mengkolonisasi daerah perakaran tanaman sebagai calon terbentuknya umbi. Dengan demikian umbi yang terbentuk sudah terlindung oleh miselium konidia B. bassiana.

Hasil penelitian Prayogo dan Bayu pada tahun 2019, membuktikan bahwa aplikasi produk Be-Bas ke dalam lubang tanam dan aplikasi ke pangkal batang mampu membunuh larva dan imago C. formicarius masing-masing 17 ekor pada aplikasi Be-Bas ke lubang tanam dan 15 ekor per umbi dengan aplikasi Be-Bas ke pangkal batang), sedangkan dengan cara merendam stek ubi jalar dalam suspensi Be-Bas hanya mampu membunuh larva tiga ekor per umbi (Gambar 1). Aplikasi Be-Bas melalui lubang tanam dan ke pangkal batang juga mampu menekan peletakan telur C. formicarius yang ditemukan pada tiap umbi sehingga umbi tidak mengalami kerusakan.

Mortalitas larva dan imago C. formicarius yang terinfeksi B. bassiana dan kerusakan umbi ubi jalar tergerek C. formicarius tiap lima rumpun tanaman pada lima perlakuan (P1 (aplikasi Be-Bas ke lubang tanam), P2 (aplikasi Be-Bas ke pangkal batang), P3 (stek direndam dalam suspensi Be-Bas), P4 (aplikasi insektisida kimia) dan P5 (tanpa pengendalian)

Mortalitas larva dan imago C. formicarius yang terinfeksi B. bassiana dan kerusakan umbi ubi jalar tergerek C. formicarius tiap lima rumpun tanaman pada lima perlakuan (P1 (aplikasi Be-Bas ke lubang tanam), P2 (aplikasi Be-Bas ke pangkal batang), P3 (stek direndam dalam suspensi Be-Bas), P4 (aplikasi insektisida kimia) dan P5 (tanpa pengendalian)

Penggunaan insektisida kimia dinilai kurang efektif karena masih ada telur C. formicarius sebanyak 17 butir dan tiga ekor larva per umbi yang ditemukan, serta menyebabkan kerusakan umbi mencapai 17% sehingga umbi tidak dapat dikonsumsi. Demikian pula dengan tanaman yang tidak dikendalikan, kerusakan umbi mencapai 60,5% dengan kondisi umbi yang sudah rusak berat.

Cendawan B. bassiana merupakan cendawan entomopatogen yang bersifat endofit, parasit, dan saprofit yang habitatnya di dalam tanah sehingga dapat digunakan untuk agens pengendalian hama yang berada di dalam tanah. Aplikasi B. bassiana ke dalam tanah lebih mampu menekan peledakan hama dari ordo Coleoptera yang habitatnya di dalam tanah jika dibandingkan dengan aplikasi di atas tajuk tanaman. Kondisi ini menurut Stafford dan Allan (2010) terjadi karena suspensi konidium yang diaplikasikan bersifat viabel dan langsung dapat berkembang serta mengkolonisasi daerah perakaran tanaman. Dengan demikian hama yang memiliki habitat di daerah perakaran tanaman pasti akan mati terinfeksi cendawan. Selain itu, konidia yang terbentuk dari serangga yang sudah mati pada daerah perakaran tanaman tersebut akan menjadi sumber inokulum potensial yang akan menularkan penyakit ke serangga inang.

Larva C. formicarius terkolonisasi miselium cendawan B. bassiana setelah diinkubasi selama 98 jam. Sumber : Prayogo dan Bayu (2019)

Larva C. formicarius terkolonisasi miselium cendawan B. bassiana setelah diinkubasi selama 98 jam. Sumber : Prayogo dan Bayu (2019)

Kondisi umbi yang rusak tergerek oleh larva C. formicarius pada aplikasi insektisida kimia (kiri) dan tanpa pengendalian (kanan). Sumber : Prayogo dan Bayu (2019)

Kondisi umbi yang rusak tergerek oleh larva C. formicarius pada aplikasi insektisida kimia (kiri) dan tanpa pengendalian (kanan). Sumber : Prayogo dan Bayu (2019)

Aplikasi Be-Bas melalui lubang tanam dan aplikasi ke pangkal batang tanaman merupakan metode aplikasi yang efektif dan tepat untuk menekan perkembangan populasi C. formicarius guna menyelamatkan hasil ubi jalar. Metode aplikasi tersebut membutuhkan tenaga yang cukup banyak agar tiap lubang tanam dapat memperoleh inokulum awal yang memadai sehingga hama yang ada di sekitar lubang tanam terinfeksi oleh biopestisida ini.

Metode aplikasi dengan perendaman stek ubi jalar ke dalam suspensi konidia cendawan B. bassiana selama 60 menit sebelum tanam dapat dianjurkan jika jumlah tenaga kerja terbatas. Untuk meningkatkan persistensi konidium yang menempel pada stek, perendaman stek harus dilakukan dengan penambahan bahan perekat. Hal ini dikarenakan jumlah inokulum yang menempel pada stek cukup terbatas. Bahan perekat akan meningkatkan persistensi konidium di lapangan dari faktor lingkungan yang kurang mendukung, terutama pada lahan kering yaitu agar tidak mudah menguap dan pada lahan yang basah agar konidium tidak mudah tercuci.
Marida Santi YIB