Info Teknologi » Metode dan Cara Pemberian Kapur pada Kedelai di Lahan Pasang Surut

andy

Kedelai memiliki posisi strategis mendukung ketahanan pangan, sebagai sumber protein nabati dan bahan pangan fungsional (functional food) bermutu tinggi bagi kesehatan manusia. Untuk mencapai kebutuhan industri, Indonesia membutuhkan kedelai sekitar 2,3 juta ton per tahun. Sementara, itu produksi kedelai dalam negeri dewasa ini hanya mampu memenuhi sekitar 30% dari kebutuhan nasional. Salah satu penyebabnya adalah penurunan areal tanam. Luas areal tanam kedelai mencapai puncaknya pada tahun 1992 yaitu 1,67 juta hektar, areal tanam terus menurun menjadi 0,614 juta hektar pada tahun 2015. Upaya peningkatan produksi kedelai dalam negeri dapat ditempuh melalui peningkatan produktivitas dan perluasan areal tanam ke lahan-lahan suboptimal seperti lahan pasang surut.

Luas lahan rawa di Indonesia mencapai 33,4–39,4 juta hektar, yang tersebar di wilayah pantai Sumatera, Kalimantan, Irian Jaya, dan Sulawesi. Sekitar 23,1 juta hektar merupakan rawa pasang surut dan 13,3 juta hektar adalah rawa lebak, yang sesuai untuk pertanian diperkirakan 5,6–9,9 juta hektar sehingga peluang pengembangan pertanian masih besar. Lahan rawa yang telah dibuka untuk pertanian terdapat di dua wilayah yaitu di Kalimantan dengan luas 1,5 juta hektar dan di Sumatera dengan luas 0,9 juta hektar. Jenis tanah yang terbentuk di lahan rawa adalah tanah gambut (Histosol) dan tanah mineral (Entisol dan Inceptisol).

Lahan rawa pasang surut merupakan lahan marginal dan rapuh (fragile). Hal ini disebabkan tingkat kesesuaiannya untuk komoditas pertanian, dalam kondisi asli/alamiah, termasuk marginally suitable (faktor pembatas berat atau S3) dan bahkan presently not suitable (tidak sesuai untuk pertanian atau N1). Secara agrofisik, terdapat banyak kendala pertumbuhan tanaman, terutama karena lingkungan perakaran yang jenuh air dan anaerobik (berlumpur, reduksi, kahat oksigen dan gas H2S), adanya pirit atau bahan sulfidik, keracunan Al, Fe dan Mn, reaksi tanah sangat masam dan kesuburan alami yang rendah (kahat P, N dan K serta miskin basa-basa). Salah satu usaha untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan pengapuran. Pemberian kapur dengan cara disebar mempunyai beberapa kelemahan diantaranya adalah mudah hilang melalui erosi atau aliran permukaan. Disamping itu, pergerakan vertikal CaCO3 yang diaplikasikan pada permukaan sangat lambat, kemungkinan karena kapur melepaskan OH yang dengan cepat dinetralisasi oleh kemasaman tanah, dan meninggalkan ion Ca2+. Ion Ca2+ tersebut dapat diserap oleh kompleks/tapak pertukaran pada permukaan tanah.Dengan demikian inkorporasi permukaan CaCO3 atau Ca(OH)2 mempunyai pengaruh yang kecil terhadap Al subsoil dan atau Ca. Oleh karena itu, untuk memperbaiki lapisan subsoil masam perlu inkorporasi kapur sampai kedalaman tertentu (deep liming).

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa metode dan cara pemberian kapur memberikan pengaruh yang nyata terhadap hasil kedelai. Pemberian kapur berdasarkan kejenuhan aluminium sampai 10% dan diaplikasikan dengan cara diaduk sampai kedalaman 20 cm memberikan hasil kedelai tertinggi. Pemberian kapur dengan cara dan dosis seperti itu mampu meningkatkan hasil kedelai sebesar 188% dibandingkan dengan tanpa pengapuran (Tabel 1). Pada penelitian ini diketahui pula bahwa pemberian kapur dengan cara diaduk sampai kedalaman 15 cm memberikan hasil yang lebih tinggi dibandingkan dengan cara disebar saja. Peningkatan hasil akibat perlakuan tersebut sekitar 21%.

Hasil analisis kimiawi tanah setelah panen menunjukkan bahwa pengapuran baik yang disebar merata maupun diaduk sampai kedalaman 20 cm cenderung meningkatkan pH tanah, P tersedia, menurunkan Al-dd dan kejenuhan Al dibandingkan dengan tanpa pemberian kapur. Peningkatan pH dan P tersedia, penurunan Al-dd dan kejenuhan Al pada perlakuan pengapuran dengan cara diaduk sampai kedalaman 20 cm lebih tinggi dibandingkan dengan cara disebar (Tabel 2).

Andy Wijanarko