Info Teknologi » Pedoman Pemupukan N, P, dan K Spesifik Lokasi Tanaman Kedelai di Lahan Sawah

Produktivitas kedelai di Indonesia yang rendah tidak semata-mata disebabkan faktor keharaan tanah melainkan oleh banyak faktor seperti: kondisi drainase tanah, kedalaman lapisan olah, gulma, kelembaban tanah, hama dan penyakit. Walaupun begitu, ketersediaan hara tanah tetap merupakan faktor penentu keberhasilan produksi, sebab hampir seluruh kebutuhan hara tanaman diperoleh dari tanah, kecuali C, H, O dan sebagian N.

Pada umumnya, tanaman kedelai di lahan sawah ditanam setelah padi. Produktivitas padi yang cenderung menurun mengindikasikan adanya pengurasan hara N, P, dan K di lahan sawah (Abdulrachman 2000). Tanaman padi yang menghasilkan 6 t/ha menyerap 90 kg N/ha, 16 kg P/ha, dan 90 kg K/ha, padahal kemampuan tanah sawah menyediakan hara N, P, dan K masing-masing hanya 40−45 kg N/ha, 12−19 kg P/ha, dan 60−100 K kg/ha, sehingga terjadi kekurangan 50−55 kg N/ha, 0−4 kg P/ha, dan 0−30 kg K/ha (Abdulrachman et al. 2002). Pemupukan tanaman kedelai di lahan sawah yang kurang optimal dapat menyebabkan rendahnya hasil dan menurunnya kesuburan lahan (Gambar 1).

npk

Gambar 1.Tanaman kedelai klorosis akibat kahat kalium di lahan sawah petani, MK 2010 di Ponorogo.

Kebutuhan Hara N, P dan K Tanaman Kedelai
Manshuri (2010) melaporkan bahwa sampai dengan taraf hasil tertentu, kebutuhan optimal hara N, P dan K tanaman kedelai berhubungan linear dengan hasil (Tabel 1).
Ketersediaan Hara N, P dan K di Lahan Sawah Sentra Produksi Kedelai
Mutert (2008) melaporkan neraca hara lahan sawah irigasi di beberapa lokasi di Bangladesh, Myanmar, Indonesia,Filipina, dan Vietnam menunjukkan bahwa hara N, P, dan K serta pada kondisi tertentu Ca, mengalami keseimbangan negatif, artinya hara tersebut semakin terkuras. Hasil analisis tanah di 32 lokasi lahan sawah sentra produksi kedelai di Jawa Timur (Blitar, Ponorogo, dan Madiun) menunjukkan status N, P, dan K sangat beragam. Kandungan N total berkisar antara 0,05−0,23%, P2O5 antara 5,69−80,9 ppm (rendah s/d sangat tinggi), dan kandungan hara K berkisar antara 23−550 ppm (sangat rendah s/d sangat tinggi) (Suwono et al. 2004; Kartono et al. 2007). Oleh karena itu diperlukan pedoman pemupukan NPK yang bersifat spesifik lokasi, agar dosis pupuk N, P dan K yang diberikan sesuai dengan status hara lahan dan kebutuhan tanaman serta taraf hasil yang ingin dicapai.

Pedoman Pemupukan N, P dan K Spesifik Lokasi pada tanaman Kedelai

npk2
Manshuri (2008) menyusun pedoman cara menentukan dosis optimal N,P dan K spesifik lokasi. Dosis optimal NPK dihitung berdasarkan pada nilai efisiensi agronomi N, P dan K lahan serta target hasil kedelai yang ingin dicapai. Nilai efisiensi agronomi N, P dan K lahan petani yang akan ditanami kedelai, ditentukan dengan menggunakan metode petak omisi N, P dan K (Tabel 2) Efisiensi agronomi N (EAN) adalah YN (hasil tanaman yang dipupuk N) − Y0N (hasil tanaman tanpa pupuk N) : dosis pupuk N yang diberikan. Efisiensi agronomi P (EAP) adalah YP (hasil tanaman yang dipupuk P) − Y0P (hasil tanaman yang tidak dipupuk P) : jumlah pupuk P yang diberikan. Efisiensi agronomi K (EAK) adalah YK (hasil tanaman yang dipupuk K) − Y0K (hasil tanaman tanpa dipupuk K) : jumlah pupuk K yang diberikan. Setelah didapatkan nilai EAN, EAP dan EAK pada percobaan petak omisi, selanjutnya dosis optimal pupuk NPK dihitung dengan rumus:
Dengan cara tersebut, dihasilkan pedoman penentuan dosis optimal N (Tabel 3), P (Tabel 4) dan K (Tabel 5), yang dapat digunakan di setiap lahan petani.

 

Dr. Drs. Achmad Ghozi Manshuri