Info Teknologi » Pemanfaatan Galur Introduksi sebagai Sumber Gen dalam Perakitan Varietas Unggul

Swasembada kedelai yang dicanangkan tahun 2014 belum tercapai, dan ditargetkan kembali swasembada kedelai pada tahun 2017. Saat ini kebutuhan kedelai nasional diperkirakan akan meningkat menjadi 2,7 juta ton, sementara produksi nasional kedelai tahun 2011−2012 masih 800−850 ribu ton, maka diperlukan impor sebesar 2,08 juta ton dengan nilai mencapai 1,24 miliar USD (BPS 2011, BPS 2012). Produktivitas rata-rata nasional pada tahun 2011−2012 masih relatif rendah,yaitu 1,37−1,48 t/ha, masih jauh dari potensinya (> 2 t/ha). Kementerian Pertanian menyiapkan langkah-langkah untuk menggenjot produksi kedelai nasional, dengan target produksi sebesar 1,9 juta ton, dengan cara meningkatkan indeks panen, produktivitas dan perluasan lahan. Varietas/galur introduksi yang memiliki adaptabilitas tinggi dengan penampilan agronomi bagus dan hasil lebih tinggi dari varietas cek berpeluang untuk dilepas menjadi varietas unggul baru. Selain itu varietas introduksi yang memiliki karakter agronomis bagus (umur genjah, ukuran biji besar, bentuk biji bagus, dan tahan pecah polong), namun hasil rendah, dapat digunakan sebagai sumber gen dalam perakitan varietas unggul umur genjah berbiji besar toleran kekeringan. Indonesia telah melaksanakan kerja sama penelitian dengan Korea Selatan (AFACI) pada tahun 2012. Dalam program kerja sama penelitian ini, juga dilakukan tukar menukar varietas/asesi untuk diuji di masing-masing negara. Korea telah memberikan 20 genotipe kedelai, yang diantaranya memiliki ketahanan terhadap kekeringan.

Berdasarkan hasil pengujian genotipe kedelai introduksi asal Korea Selatan diperoleh lima varietas asal Korea Selatan yang toleran terhadap cekaman kekeringan (Gambar dan Tabel 1). Galur tersebut setara dengan varietas Dering-1 yang tahan terhadap kekeringan. Dengan demikian, galur introduksi asal Korea tersebut dapat digunakan sebagai sumber gen atau tetua dalam perbaikan varietas kedelai di Indonesia.


Gambar. Keragaan tanaman galur introduksi asal Korea Selatan di Rain Shelter, 2012.


Peningkatan produktivitas kedelai melalui perbaikan varietas telah dilakukan dengan berbagai cara seperti persilangan, mutasi iradiasi, pemurnian varietas lokal, dan pendayagunaan varietas introduksi. Dari 73 varietas unggul kedelai yang sudah dilepas sejak tahun 1918, sebanyak 14 varietas berasal dari varietas/galur introduksi dari luar negeri. Proses pemuliaan yang dilakukan sebelum pelepasan varietas introduksi menjadi varietas unggul nasional adalah dengan cara memurnikan, uji adaptasi dan daya hasilnya di berbagai lokasi bersama-sama dengan galur harapan lainnya. Varietas/galur introduksi yang memiliki adaptabilitas tinggi dengan penampilan agronomi bagus dan hasil lebih tinggi dari varietas cek berpeluang untuk dilepas menjadi varietas unggul baru.

Purwantoro