Info Teknologi » Pemuliaan Tanaman : Pendugaan Awal Umur Masak Tanaman Kedelai

Umur tanaman merupakan salah satu bagian penting dalam periode pertumbuhan dan perkembangan tanaman kedelai. Umur tanaman dapat ditentukan oleh faktor genetik maupun lingkungan seperti ketinggian tempat dan suhu. Analisis varian dengan metode Hayman (Mather dan Jinks, 1974) ditujukan untuk mengkonfirmasi adanya efek aditif dan non-aditif populasi silang dialel, ini merupakan salah satu cara pendugaannya. Metode ini menduga keragaman populasi yang dibagi menjadi keragaman karena efek aditif, dominan, dan resiprok. Keragaman yang disebabkan oleh efek dominan dibedakan ke dalam dominansi karena adanya dominansi terarah, dominansi karena tetua tertentu, dan dominansi khusus untuk persilangan tertentu. Selain itu, efek resiprok dibagi menjadi efek resiprok yang disebabkan oleh faktor resiprok maternal dan faktor resiprok non-maternal.

Komponen pengaruh aditif, pengaruh non-aditif, resiprokal dan maternal, resiprokal non-maternal berpengaruh nyata pada taraf 5%. Pengaruh aditif (a) nyata, menunjukkan adanya keterkaitan dari gen-gen yang mempengaruhi karakter umur masak, dan setiap alelnya memberi kontribusi ter­hadap karakter tersebut. Pengaruh non-aditif (b) nyata, menunjukkan adanya tetua yang mempunyai alel dominan yang berpengaruh terhadap ekspresi karakter umur masak (Mather dan Jinks, 1974). Komponen b diuraikan oleh perbedaan simpangan rerata dominansi pada F1 dari rerata tetua (b1), perbedaan distribusi (jumlah) alel-alel dominan di antara lima tetua (b2) dan adanya pengaruh dominan yang spesifik untuk silangan tertentu (b3). Resiprok maternal dan non-maternal karakter umur masak nyata. Hal ini menunjukkan adanya pasangan persilangan yang dipengaruhi tetua betinanya, sehingga untuk merakit varietas yang melibatkan karakter umur, penting memperhatikan tetua betinanya.

Uji kesesuaian model menggunakan analisis Jinks-Hayman mendapatkan varian turunan ke-r (Vr) dan kovarian tetua dan tetua turunan ke-r (Wr) antar baris homogen dengan nilai F=0,18 yang tidak nyata. Kesesuaian model aditif dominan tersebut juga terbukti pada pengujian koefisien regresi yang digambarkan pada grafik Wr/Vr, dengan nilai koefisien regresi berbeda nyata dengan nol (b≠0) dan tidak berbeda nyata terhadap satu (b=1). Garis regresi pada grafik Vr-Wr mempunyai nilai intersep 4,34±1,02. Nilai intersep berbeda nyata dari nol dan bernilai positif sehingga memotong ordinat di atas titik asal (0), menunjukkan adanya aksi gen dominan tidak sempurna (Hayman, 1954). Posisi nilai (Vr,Wr) pada garis regresi yang mem­punyai kemiringan satu menunjukkan tingkat dominansi masing-masing tetua pada grafik (Vr,Wr), titik-titik Vr dan Wr yang lebih rendah menunjukkan tetua-tetua dominan, dan titik-titik dengan nilai lebih tinggi menunjukkan pada tetua-tetua resesif (Hayman, 1954). Berdasarkan posisi relatif tersebut, kedelai varietas Nanti merupakan tetua yang mem­punyai proporsi alel-alel resesif dan Dempo, Dieng, Grobogan, dan Malabar merupakan tetua yang mempunyai proporsi alel-alel dominan (Gambar 1).

Hal yang menjadi perhatian dalam pendugaan ini adalah adanya aditifitas mengendalikan umur masak pada kedelai. Hal ini memberikan peluang untuk mendapatkan galur dengan karakter umur masak genjah akan makin besar apabila menggunakan tetua dengan umur genjah. Adanya aditifitas dapat dilakukan pemilihan tetua umur masak genjah dan menggabungkan karakter umur masak beberapa tetua guna mendapatkan sumber umur masak genjah atau untuk mendapatkan zuriat.

Gambar 1. Grafik varian (Vr) dan kovarian (Wr) umur masak pada generasi F1.

Gambar 1. Grafik varian (Vr) dan kovarian (Wr) umur masak pada generasi F1.

GWAS