Info Teknologi » Pencegahan Kontaminasi Aflatoksin pada Kacang Tanah Periode Pra Panen

Aspergillus flavus merupakan jamur saprofit yang hidup di dalam tanah dan mampu menginfeksi komoditas penting seperti kacang tanah, jagung dan biji kapas sebelum dan setelah panen. Keberadaan jamur ini dicirikan dengan adanya warna orange di sekitar pertumbuhan koloni apabila ditumbuhkan pada media spesifik Aspergillus flavus and parasiticus agar (AFPA) (Gambar). Jamur strain toksik dapat mengakibatkan aflatoksikosis dan/atau kanker hati pada hewan ternak dan manusia, yang terjadi baik melalui konsumsi produk terkontaminasi maupun melalui pertumbuhan invasif (menyebabkan aspergillosis) yang membawa akibat fatal bagi pasien yang sensitif. Jamur ini mampu memproduksi senyawa karsinogenik turunan poliketon dan metabolit sekunder penyebab mutasi yaitu aflatoksin (B1, B2, G1, dan G2) (Horn and Pitt, 1997, Klich, 2007). Masalah ini menjadi salah satu isu global keamanan pangan yang perlu diantisipasi.


Biji kacang tanah terkoloni A. flavus ditumbuhkan pada media AFPA (a)
dan warna orange yang dihasilkan oleh koloni A. flavus di sekitar biji terinfeksi dilihat dari permukaan bawah cawan petri (b).Meskipun tingkat kontaminasi biji pada periode prapanen tergolong rendah, namun jamur yang terbawa hingga periode pasca panen dapat menjadi pemicu tingginya infeksi dan kontaminasi aflatoksin pada penyimpanan. Upaya pencegahan infeksi A. flavus dan kontaminasi aflatoksin pra panen tidak bisa dilepaskan dari pemahaman secara komprehensif tentang biologi dan ekologi jamur ini.Fase Saprofit dan Fase Patogen
Secara garis besar, silkus hidup A. flavus di lapang dapat digolongkan ke dalam dua fase utama, yaitu sebagai saprofit dan patogen. Sebelum terdapat tanaman inang yang rentan, A. flavus secara umum bersifat saprofit. Jamur mampu bertahan dalam bentuk miselia maupun konidia dan dengan segera mengkoloni tanah yang kaya akan bahan organik. Sumber bahan organik terutama berasal dari sisa-sisa tanaman yang tertinggal setelah panen atau tidak dimusnahkan. Propagul A. flavus ini dapat menjadi sumber inokulum primer bagi tanaman inang terutama yang berada di dalam tanah, seperti kacang tanah. Selain miselia dan konidia, A. flavus juga dapat bertahan di dalam tanah dalam bentuk sklerosia (Abbas et al., 2008, Horn, 2007). Fase patogen dimulai ketika tanaman inang utama yang berupa komoditas pertanian ditanam. Pada saat awal tanam, sklerosia yang berada di permukaan tanah berkecambah menjadi sumber inokulum dan berkembang membentuk konidia baru. Konidia yang terbentuk maupun yang bertahan di tanah tersebar di pertanaman melalui bantuan serangga vektor maupun hembusan angin (Horn, 2007, Payne and Widstrom, 1992). Miselia jamur dari perkecambahan konidia menginfeksi jaringan tanaman, termasuk biji kacang tanah, jagung dan kapas melalui luka mikro maupun makro (Horn et al., 1995). Selama periode tanam, jaringan tanaman terinfeksi dapat bertindak sebagai sumber inokulum sekunder yang memproduksi konidia baru (Abbas et al., 2011). Sumber inokulum sekunder juga berasal dari lepidoptera yang diinfeksi oleh beberapa strain A. flavus dan strain yang sama dapat menginfeksi silang antar produk pertanian yang satu dengan produk pertanian yang lain (Leger et al., 2000). Serangga terinfeksi merupakan agens yang efektif untuk penyebaran konidia karena sifat mobilitasnya yang tinggi. Strategi Pencegahan Infeksi
Pemahaman mengenai biologi dan ekologi A. flavus di lapang dan kondisi tanaman inang dapat dijadikan pertimbangan dalam strategi pencegahan infeksi pra panen. Secara garis besar, pencegahan infeksi dan kontaminasi aflatoksin pra panen dapat dilakukan melalui pendekatan mengurangi jumlah inokulum awal antara lain dengan pergiliran tanaman, pengelolaan tanah, pemilihan inang tahan, pemupukan berimbang, aplikasi pestisida untuk hama dan penyakit, dan pengendalian biologi (Tabel 1).
1. Pergiliran tanaman
Beberapa biji tanaman yang dimanfaatkan sebagai bahan pangan dan pakan ternak seperti jagung, biji kapas, kacang tanah dan beberapa biji tree nut dilaporkan merupakan inang utama A. flavus (Abbas et al., 2009). Penanaman secara terus menerus dengan tanaman inang yang sama atau pergiliran tanaman dengan tanaman inang lain beresiko mempertahankan atau menaikkan populasi alami A. flavus. Untuk menghindari hal tersebut, pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang A. flavus merupakan langkah yang dapat ditempuh dan berpotensi menurunkan populasi alami A. flavus.

2. Pengolahan tanah
Pengelolaan tanah dimaksudkan untuk mengurangi kerapatan inokulum awal, baik yang berupa miselia, konidia maupun sklerosia. Bahan organik yang berasal dari bagian tanaman inang antara lain jagung, kacang tanah dan kapas maupun bukan inang, misalnya kedelai merupakan tempat koloni A. flavus. Sebagai contoh adalah pada lahan jagung, populasi alami A. flavus di tanah berkisar antara 200 sampai dengan >300.000 colony forming units (cfu)/g (Abbas et al., 2004a). Populasi ini mencerminkan £ 0,2% sampai £ 8% populasi jamur tanah yang dapat dikulturkan pada media di laboratorium (Abbas et al., 2009). Setelah panen jagung, populasi A. flavus bervariasi antara 1.000 sampai 1.000.000 cfu/g jaringan tanaman yang tertinggal di lahan. Koloni A. flavus tinggi juga ditemukan pada sisa tangkai jagung kering, jaringan vegetatif tanaman kedelai dan kapas, masing-masing sekitar 10.000, 1.000 dan 1.000 cfu/g (Abbas et al., 2008). Pengelolaan tanah sebelum penanaman kacang tanah dengan cara menghilangkan atau memusnahkan bahan organik diikuti dengan penggenangan lahan berpotensi mengurangi sumber inokulum fase saprofit.

3. Menanam inang tahan
Pemilihan tanaman inang tahan merupakan langkah ekonomis yang dapat ditempuh. Selama varietas tahan belum tersedia, penanaman varietas kacang tanah agak tahan dapat menjadi pilihan dalam praktek budidaya. Varietas Jerapah, Kancil, Sima, Turangga, Domba dan Bison dilaporkan agak tahan terhadap infeksi A. flavus pra panen (Rahmianna dan Ginting, 2003, Kasno, 2009). 4. Pemupukan berimbang
Pemupukan dimaksudkan untuk membuat tanaman tumbuh optimal karena suplai nutrisi terpenuhi. Aplikasi pupuk berimbang menghasilkan kualitas biji bernas dan tidak rentan terhadap serangan hama dan infeksi patogen. Untuk tujuan ini, pupuk N, P, K dan dolomit diaplikasikan dengan dosis 23 kg N, 45 kg P2O5, 22,5 kg K2O/ha dan 500 kg dolomit/ha. Aplikasi N, P, dan K diberikan pada saat tanam dengan cara ditebar di dalam alur sepanjang barisan tanaman kacang tanah sebelum alur ditutup kembali. Aplikasi dolomit dilakukan pada f
ase pembungaan di sekitar tanaman (Ginting dkk, 2003). 5. Aplikasi pestisida spesifik target
Serangan hama dan infeksi patogen akan mempengaruhi penampilan tanaman dan kebernasan serta kualitas biji. Biji rusak rentan terhadap infeksi A. flavus dan kontaminasi aflatoksin (Rahmianna dkk, 2007). Selain itu, luka makro maupun mikro akibat hama maupun patogen merupakan jalan masuk bagi A. flavus untuk menginfeksi biji atau bertahan sebagai sumber inokulum yang terbawa pada periode pasca panen. Salah satu contoh rekomendasi untuk lahan yang endemik hama uret adalah aplikasi Carbofuran 0,5–4 kg/ha tergantung pada stadia dan populasi hama pada saat kacang tanah berumur 50 hari atau pada saat tanaman memasuki fase pembentukan polong dan pengisian biji. Aplikasi dilakukan segera sesudah pengairan (Ginting dkk, 2003). 6. Pengendalian biologi
Pengendalian biologi menggunakan A. flavus strain non toksik memiliki prospek yang menjanjikan untuk mengurangi kontaminasi aflatoksin pra panen. Strain non toksik hidup di lingkungan (niche) yang sama dengan strain toksik, sehingga strain non toksik mampu berkompetisi karena menggunakan ruang dan sumber nutrisi yang sama (Abbas, 2011). Keuntungan lain adalah strain non toksik yang terbawa pada periode panen dan pasca panen tidak beresiko untuk menghasilkan aflatoksin.

EY (disarikan dari Buletin Palawija No. 25 Tahun 2013)