Info Teknologi » Pengaruh Waktu Tanam terhadap Mutu Awal Benih Beberapa Varietas Unggul Kedelai

Benih bermutu merupakan salah satu kunci untuk mendapatkan pertanaman yang mampu memberikan hasil optimal. Benih bermutu adalah benih yang berasal dari varietas murni dengan persentase perkecambahan tinggi, bebas dari hama dan penyakit, dan dengan kadar air yang tepat. Faktor utama yang menentukan mutu benih adalah kemurnian benih dan daya kecambah. Selain kedua faktor tersebut, mutu benih juga ditentukan oleh varietas, ada/tidaknya penyakit terbawa benih, vigor benih, dan ukuran biji. Faktor-faktor penentu tersebut sangat dipengaruhi oleh kondisi penangkaran benih di lapangan, yaitu faktor genetik, lingkungan, dan status benih (Jenewa 2008).

Genetik merupakan faktor bawaan yang berkaitan dengan komposisi genetik benih. Setiap varietas memiliki identitas genetik yang berbeda. Faktor genetik yang mempengaruhi mutu benih adalah susunan genetik, ukuran biji, dan berat jenis. Benih dengan ukuran biji sedang mempunyai persentase perkecambahan yang lebih tinggi dibandingkan biji berukuran besar maupun kecil. Faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap mutu benih adalah: (1) lokasi produksi dan waktu tanam, memajukan atau menunda waktu tanam memiliki pengaruh buruk terhadap produksi benih kedelai, terutama dalam kaitannya dengan kualitas benih, (2) teknik budidaya, (3) waktu dan cara panen, serta (4) penimbunan dan penanganan hasil (Vieira et al. 2001). Faktor status benih, meliputi kondisi fisik dan fisiologis benih, berkaitan dengan performa benih seperti tingkat kematangan, tingkat kerusakan mekanis, tingkat keusangan (hubungan antara vigor awal dan lamanya disimpan), tingkat kesehatan, ukuran dan berat jenis, komposisi kimia, struktur, tingkat kadar air dan dormansi benih (Wirawan dan Sri 2002, Perry 1982).

Oleh karena itu, untuk produksi benih, tanaman harus dipanen ketika ciri-ciri kualitas benih maksimal. Pada saat dipanen lebih awal, kualitas benih akan sangat jelek karena lebih banyak biji yang belum masak, dan apabila panen ditunda, maka akan mempengaruhi kualitas benih, menyebabkan benih mengalami kerusakan (Eskandari 2012). Oleh karena itu, waktu panen yang baik untuk benih adalah pada periode masak fisiologis, karena biji memiliki berat kering maksimum, daya kecambah dan vigor yang lebih tinggi, selain itu hasil biji lebih tinggi (Vasudevan et al. 2008).

Selain faktor kelembaban ruangan penyimpanan, suhu tempat penyimpanan, hama dan penyakit di tempat penyimpanan serta lama penyimpanan, mutu awal benih akan mempengaruhi daya kecambah benih kedelai selama penyimpanan. Untuk tujuan penyimpanan, benih hendaknya mempunyai daya kecambah awal di atas 85% (Rumiati et al. 1993). Menurut Direktorat Bina Perbenihan (1995), untuk mendapatkan benih bermutu tinggi, sebelum disimpan biji kedelai calon benih harus dibersihkan dari kotoran seperti kulit polong, potongan batang dan ranting, batu, krikil atau tanah, biji luka, memar retak atau yang kulitnya terkelupas, biji yang mempunyai bercak ungu, biji berbelang coklat yang mungkin mengandung virus mosaik, biji yang kulitnya keriput atau warnanya tidak mengkilat, dan biji-biji tanaman lain.

Gambar 1. Uji daya kecambah benih.

Gambar 1. Uji daya kecambah benih.

Daya kecambah merupakan komponen utama mutu benih yang dapat diketahui melalui uji daya kecambah benih (Gambar 1). Daya kecambah merupakan proporsi kecambah normal terhadap total benih yang dikecambahkan. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan daya kecambah antar varietas dan waktu tanam (Gambar 2). Daya kecambah yang dihasilkan dari periode tanam bulan Februari dan April tidak menunjukkan perbedaan, tetapi berbeda dengan periode tanam bulan Desember. Perbedaan daya kecambah ini diduga berkaitan dengan penanganan pada saat panen dan pasca panen. Pada periode tanam bulan Desember, panen jatuh pada bulan Maret. Pada bulan Maret pada saat panen dan penjemuran terjadi hujan, yang berdampak pada mutu benih, baik mutu fisik maupun fisiologi benih. Hal ini didukung dengan tingginya benih busuk (Gambar 4).

Gambar 2. Pengaruh musim tanam terhadap daya kecambah benih.

Gambar 2. Pengaruh musim tanam terhadap daya kecambah benih.

Daya kecambah varietas Grobogan yang ditanam pada bulan Desember lebih rendah dibandingkan dengan varietas Anjasmoro maupun Argomulyo. Hal ini dikarenakan proporsi kecambah abnormal dari varietas Grobogan cukup tinggi (Gambar 3).

Gambar 3. Pengaruh musim tanam terhadap kecambah abnormal benih.

Gambar 3. Pengaruh musim tanam terhadap kecambah abnormal benih.

Gambar 4. Pengaruh musim tanam terhadap benih busuk/mati.

Gambar 4. Pengaruh musim tanam terhadap benih busuk/mati.

Waktu tanam berpengaruh besar terhadap mutu benih yang dihasilkan, karena waktu tanam berhubungan erat dengan waktu panen. Kondisi cuaca pada saat panen dan pasca panen (penjemuran dan pengeringan) sangat besar pengaruhnya terhadap mutu benih. Pada periode tanam bulan Februari dan April menghasilkan benih dengan mutu yang lebih baik dibandingkan dengan periode tanam bulan Desember. Menurut hasil penelitian Khan et al. (2007), mutu benih kedelai yang baik diperoleh pada periode tanam minggu pertama bulan Agustus.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut diketahui bahwa waktu tanam menentukan mutu benih, baik mutu fisik maupun fisiologis benih, terutama rendemen benih, kadar air, dan daya kecambah. Waktu tanam yang baik untuk penangkaran benih kedelai adalah bulan Februari dan April. Varietas Grobogan lebih baik ditanam pada bulan Februari dan April, Anjasmoro pada bulan Desember dan Februari, sedangkan Argomulyo cocok untuk ketiga waktu tanam, yaitu Desember, Februari, dan April. Waktu tanam yang sesuai untuk mendapatkan mutu benih kedelai varietas Grobogan, yang baik adalah Februari dan April, untuk Anjasmoro adalah Desember dan Februari, dan untuk  Argomulyo adalah Desember, Februari, dan April.

Sri Wahyuningsih