Info Teknologi » Pengelolaan Sumberdaya Genetik Tanaman Aneka Kacang

ak

Penyediaan Sumberdaya Genetik (SDG) tanaman pangan sangat penting untuk mengantisipasi dampak langsung pemanasan global, selain itu juga untuk menyelamatkan sumberdaya genetik tanaman akibat tergeser oleh varietas unggul yang produktif dan adaptif terhadap perubahan iklim ekstrim. Pengelolaan sumberdaya genetik tanaman meliputi konservasi (pelestarian), eksplorasi (pengkayaan), karakterisasi/evaluasi (penilaian), dan pembaruan pangkalan data (database). Konservasi SDG tanaman dapat dilakukan di lapang/ditanam oleh petani (lekat lahan/on farm conservation) atau “insitu conservation”, dan konservasi luar lingkungan tumbuh (exsitu conservation). Konservasi SDG di luar lingkungan tumbuh pada tanaman pangan dilakukan setelah SDG tanaman yang bersangkutan dikumpulkan (eksplorasi).

Pembentukan varietas unggul baru guna memenuhi kebutuhan yang beragam dan dinamis memerlukan sumber gen yang mempunyai keragaman karakter yang luas. Selain itu, meluasnya penggunaan varietas unggul dan intensifnya pemanfaatan hutan akan memperbesar peluang tersingkirnya varietas lokal dan varietas liar, yang akan diikuti pula oleh musnahnya gen-gen berguna yang terkandung di dalamnya. Karenanya pengkayaan keragaman sumber daya genetik melalui eskplorasi/pengkayaan varietas lokal dipandang strategis dalam melestarikan gen-gen berguna yang terkandung di dalam varietas lokal.

Eksplorasi SDG Aneka Kacang

Secara informal, eksplorasi aneka tanaman kacang telah dilakukan di Madura tahun 2012 dan didapatkan 26 aksesi aneka kacang. Eskplorasi (formal) varietas lokal aneka kacang dan umbi di NTT (pulau Timor, Flores, dan Sumba) dilakukan tahun 2013 dengan pertimbangan daerah tersebut memiliki keragaman sumberdaya genetik varietas lokal, karena penggunaan varietas unggul belum seintensif di pulau Jawa. Diperoleh varietas lokal aneka kacang sebanyak 164 aksesi (contoh), meliputi kacang nasi, kacang hijau, kacang tanah, kedelai, kacang gude, kacang hutan, dan kacang tunggak. Setelah tahun 2013 hingga kini tidak ada tambahan SDG aneka kacang (Gambar 1 dan Tabel 1).


KARAKTERISASI SDG ANEKA KACANG

Karakterisasi/evaluasi dilakukan dengan mengidentifikasi karakter tanaman, terutama yang berguna. Toleransi atau ketahanan tanaman terhadap cekaman lingkungan biotik dan abiotik merupakan karakter penting yang diperlukan untuk perbaikan varietas tanaman. Karakterisasi SDG tanaman aneka kacang tahun 2013 ditekankan pada ketahanan aksesi kedelai terhadap penyakit karat, karakterisasi polong dan biji, ketahanan aksesi kacang tanah introduksi terhadap penyakit layu, serta ketahanan aksesi kacang hijau terhadap hama penggerek polong (Maruca testualis).

Dari 50 aksesi kedelai, hanya MLGG 507 dan MLGG 613 yang memiliki polong tidak mudah pecah, dan MLGG 720 memiliki polong mudah pecah setelah polong masak fisiologis (Gambar 2).


Kerapatan bulu polong aksesi kedelai beragam, dari renggang hingga rapat. MLGG 242 memiliki kerapatan bulu polong paling renggang, dan MLGG 1062 bulu polongnya paling rapat. Diantara varietas kedelai, Anjasmoro memiliki kulit bulu paling rapat, dan varietas Mutiara paling renggang.

Ketebalan kulit biji aksesi kedelai berkisar dari 0,045 hingga 0,098, demikian pula diantara varietas. Kerapatan bulu polong dan ketebalan kulit biji kedelai berkaitan dengan toleransi terhadap hama dan kemudahan pengupasan kulit pada pembuatan tempe.

Sebanyak 23 varietas unggul kacang tanah tahan terhadap penyakit layu bakteri, 20 varietas diantaranya mendapatkan sumber ketahanan dari Schwarz 21, baik secara langsung maupun tidak langsung. Schwarz 21 adalah varietas unggul kacang tanah tahan terhadap penyakit layu pertama yang dilepas di Indonesia pada era pemerintahan Belanda. Kacang tanah varietas introduksi umumnya rentan terhadap penyakit layu (Tabel 2).

Sepuluh aksesi kacang hijau teridentifikasi tahan terhadap hama Maruca testualis yaitu MLGV 1066, MLGV 1074, MLGV 0228, MLGV 0349, MLGV 0526, MLGV 0358, MLGV 0523, MLGV 0581, MLGV 0374, MLGV 1065.

SDG tanaman aneka kacang yang dapat menunjang program pemulian tahun 2015-2019 dapat dilihat pada Tabel 3.


Astanto Kasno