Info Teknologi » Pengembangan Sistem Perbenihan Kedelai Berbasis Komunitas

Pertanaman perbenihan kedelai berbasis komunitas

Kebutuhan benih kedelai terus meningkat di masa datang, sementara petani masih menggunakan benih bermutu rendah, sehingga menjadi penyebab atas rendahnya tingkat produktivitas kedelai nasional (1,3 t/ha). Lambatnya laju peningkatan penggunaan benih bermutu oleh petani, karena belum tersebarnya varietas unggul baru kedelai ke lokasi sentra produksi. Kurangnya minat para petani (pihak swasta) untuk menjadi produsen benih kedelai berskala besar memunculkan gagasan untuk memperbaiki dan mengembangkan penyediaan benih melalui sistem Jabalsim (Jaringan benih antar lapang dan antar musim) dengan menumbuhkembangkan penangkar benih berbasis komunitas di pedesaan di mana benih kedelai diproduksi oleh petani secara berkelompok (gapoktan) dalam satu hamparan lahan.

Dengan cara demikian diharapkan pengelolaan produksi benih di lapang, penanganan pascapanen hingga pemasarannya dapat lebih mudah dilaksanakan. Dari hasil penelitian sebelumnya telah teridentifikasi pola distribusi benih yang ada di lapangan. Dengan diketahui pola distribusinya, maka dapat ditentukan lokasi dan waktu pengalokasian benih sumber kedelai varietas unggul baru yang diperlukan.

Penanaman kedelai berbasis komunitas dilakukan dengan melibatkan kelompok tani ‘Tani Jaya’ di Ngawi dan kelompok tani ’Kabul Lestari’ di Grobogan menggunakan benih sumber FS. Di dua lokasi tersebut ditanam satu hektar kedelai sebagai rintisan usaha. Varietas yang ditanam sesuai dengan preferensi petani, yakni Kaba untuk Ngawi, dan varietas Grobogan untuk Kab. Grobogan.

Pertanaman perbenihan kedelai berbasis komunitas

Hasil benih kedelai di Ngawi mencapai 767 kg dan dijual ke lokasi-lokasi lahan tegal di Kab. Ngawi untuk penanaman musim hujan. Hasil benih di Grobogan mencapai 2.821 kg, namun mengalami susut antara 8–10%. Benih tersebut dipasarkan ke Blitar, Klaten, Blora, dan Lampung dengan harga Rp 8.500 per kg.

Peningkatan pemahaman teknologi produksi benih dan pascapanen serta manajemen usaha dalam bentuk pelatihan telah diberikan kepada petani, kelompok tani, dan pedagang di masing-masing lokasi. Materi pelatihan meliputi cara menanam kedelai dengan tujuan untuk produksi benih, penanganan pascapanen, distribusi, dan kemitraan dalam kesatuan pengelolaan aliran produk (supply chain management).

Ada tiga pilihan skenario pola kerja sama yang saling menguntungkan dalam produksi benih antara petani/kelompok tani dengan pedagang benih yaitu: (a) Skenario 1: Benih diproduksi oleh petani sampai mendapatkan label sertifikasi, pada skenario ini disarankan tingkat harga di petani 45% di atas harga konsumsi; (b) Skenario 2: Pedagang membeli calon benih dari petani, sehingga petani memproduksi sampai panen dan pascapanen ditangani oleh pedagang dan disarankan tingkat harga di petani 10% di atas harga konsumsi; serta (c) Skenario 3: benih dipinjami oleh pedagang dan dikembalikan oleh petani saat panen; pedagang membeli calon benih dari petani, sehingga petani memproduksi sampai panen dan pascapanen ditangani oleh pedagang, disarankan tingkat harga di petani minimal 8% di atas harga konsumsi.

Survei menunjukkan bahwa kedelai yang banyak ditanam petani di Jawa Timur pada tahun 2008 adalah varietas Anjasmoro, Baluran, Argomulyo, Lokal (Jepril), Wilis, Kaba, Grobogan, Gepak Kuning, dan Gepak Ijo. Varietas Wilis masih banyak digunakan oleh petani di tujuh kabupaten di Jawa Timur. Namun demikian varietas unggul baru juga sudah mulai digunakan petani, terutama Anjasmoro yang sudah dibudidayakan di lima kabupaten. Di Kabupaten Ponorogo, varietas Gepak Ijo dan Gepak Kuning banyak ditanam petani selain varietas Wilis.