Info Teknologi » Pengendalian Penyakit Bakteri Pustul Xanthomonas axonopodis pada Kedelai dengan Agens Hayati Pseudomonas fluorescens dan Ekstrak Daun Sirih

bakteri-4

Pseudomonas fluorescens (Pf) merupakan salah satu bakteri yang mampu menekan beberapa jenis patogen penyebab penyakit tanaman. Potensi Pf sebagai agens pengendali hayati yang mampu menghambat perkembangan patogen dan mengendalikan penyakit tanaman telah banyak dilakukan, sebagai contoh adalah interaksi P. fluorescens dengan jamur tular tanah Sclerotium rolfsii, menyebabkan pertumbuhan jamur tular tanah ini terhambat (Grahan & Mitcel 1998). Isolat Pf hasil eksplorasi dari rizosfer tanaman kacang-kacangan di beberapa daerah di Jawa Timur memiliki daya antagonis cukup baik terhadap Sclerotium rolfsii. Penelitian di rumah kaca menunjukkan bahwa aplikasi isolat Pf tersebut dapat menekan penyakit rebah S. rolfsii berkisar antara 6,67% hingga 17,03%. Selain menekan kejadian penyakit, Pf juga dapat menekan jumlah struktur pembiakan patogen yan berupa propagul sklerosia dan menekan perkecambahannya (Rahayu 2008). Daun sirih (Piper betel sp.) merupakan salah satu dari 13 jenis tumbuhan yang mengandung senyawa antibakteri (Soewondo et al. 1991). Hasil penelitian Poeloengan et al. (2006) menunjukkan bahwa minyak atsiri dan esktrak etanol daun sirih pada konsentrasi ekstrak 25–50% dapat menghambat perkembangan bakteri Staphylococcus aureus penyebab penyakit mastitis pada sapi. Senyawa yang terkandung dalam sirih  adalah senyawa fenol yaitu hidroksikavikol yang mempunyai aktivitas antioksidan (Amonkar et al. 1989) dan asam klorogenat, yaitu suatu senyawa  yang dilaporkan dapat membunuh sel kanker (TNN 2004). Berdasarkan daya antibakteri  yang dimiliki sirih dan keefektifan isolat Pf sebagai agens hayati, maka kedua jenis pestisida ramah lingkungan tersebut diteliti efikasinya untuk mengendalikan X. axonopodis bakteri penyebab penyakit pustul pada kedelai. Tujuh isolat Pf yang diuji secara in vitro (Pf-Bwa, Pf-Bwb, Pf-Bwc, Pf-Kpja, Pf-Kpjb, Pf-Mlg, dan Pf-Blg) asal rizosfer kedelai dan kacang-kacangan lain di Jawa Timur menunjukkan bahwa isolat Pf-Blg memiliki daya hambat  lebih tinggi dibanding dengan isolat lainnya. Hal itu nampak pada ukuran zona hambatan yang terlebar mencapai 15 mm pada pengamatan 14 hari setelah inokulasi (Gambar 1). Isolat tersebut selanjutnya digunakan untuk bahan aplikasi pada tanaman kedelai di lapangan.

 

Gambar 1. Daya hambat  Pf terhadap  bakteri X. axonopodis, penyebab penyakit pustul pada kedelai.

  Hasil penelitian pengendalian bakteri pustul secara in-vitro menggunakan beberapa tingkat konsentrasi esktrak sirih (0%, 1%, 3%, dan 5%) menunjukkan adanya penghambatan bakteri pustul yang dinyatakan sebagai lebar zona hambatan, berkisar antara 1–2,4 mm pada umur kultur 14 hari.  Nilai penghambatan tertinggi sebesar  2,4 mm dicapai pada perlakuan kultur bakteri pustul pada media mengandung antibiotik streptomisin sulfat. Kultur X. axonopodis tumbuh secara normal pada media PPGA (potato peptone glucose agar) murni tanpa perlakuan pengendalian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak sirih pada konsentrasi 1–5% mampu menekan  bakteri pustul, walaupun penekannya tidak terlalu besar (Gambar 2).

 

Gambar 2. Daya  hambat ekstrak sirih terhadap X. axonopodis pada penelitian in-vitro.


Efikasi ekstrak sirih dan P. fluorescens di lapangan menunjukkan bahwa penyemprotan ektrak sirih diikuti penyemprotan Pf masng-masing tiga kali aplikasi (ES/Pf @ 3 x), serta perlakuan penymrotan Pf dengn enam kali aplikasi (Pf 6 x) dapat menekan penyakit pustule hingga 15% dibandingkan cek tanpa pengendalian dengan intensitas penyakit mencapai 25% (Gambar 3).

 

Gambar 3. Intensitas penyakit pustul pada kedelai dengan perlakuan aplikasi ekstrak nabati sirih dan agens hayati P. fluorescens (KP Jambegede 2009).

 

 

Disarikan oleh Alfi Inayati dari: Mudji Rahayu. 2011. Keefetifan agens Pseudomonas fluorescens dan ekstrak daun sirih terhadap penyakit bakter pustul Xanthomonas axonopodis pada kedelai. Disampaikan pada Seminar Nasional Hasil Penelitian KABI.