Info Teknologi » Pengendalian Penyakit pada Kedelai dengan Biofungisida

Budidaya kedelai seringkali dihadapkan pada beberapa hambatan, antara lain infeksi patogen yang mengakibatkan penurunan dan kehilangan hasil. Penyakit yang sering menginfeksi akar dan batang adalah penyakit layu yang disebabkan oleh cendawan tular tanah (Sclerotium sp., Rhizoctonia sp., dan Fusarium sp.). Penyakit yang menginfeksi daun diantaranya penyakit karat, bakteri pustul, penyakit embun bulu, dan embun tepung yang masing-masing disebabkan oleh Phakopsora pachyrhizi, Xanthomonas axonopodis pv. glycines, Peronospora manshuria, dan Microsphaera diffusa. Penyakit tular tanah dapat terjadi mulai tanaman tumbuh (perkecambahan) sampai tanaman tua. Penyakit tersebut biasa terjadi pada daerah endemis, terutama pada awal musim kemarau ketika kelembaban tanah masih tinggi. Kehilangan hasil bisa tinggi karena tanaman layu kemudian mati. Penyakit karat, embun tepung, dan embun bulu merupakan penyakit penting pada kedelai dan banyak terjadi pada tanaman kedelai di musim kemarau. Penyakit karat tersebar luas di daerah sentra penghasil kedelai di dunia. Di Indonesia, penyakit karat terdapat di sentra produksi kedelai meliputi Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan, dan Sulawesi. Kehilangan hasil dapat mencapai 90% di Indonesia, 10–40% pada varietas lokal di Thailand, dan 23–50% di Taiwan. Penyakit embun tepung dan embun bulu termasuk penyakit yang relatif baru di Indonesia, sehingga belum banyak dipublikasikan. Biofungisida adalah produk-produk hayati yang digunakan untuk mengendalikan penyakit tanaman yang disebabkan oleh fungi (cendawan). Terdapat dua kelompok biofungisida yaitu fungisida nabati (berbahan dasar tumbuh-tumbuhan) dan fungisida hayati (berasal dari mikroorganisme seperti virus, bakteri, dan cendawan) yang memiliki kemampuan menekan atau mengendalikan mikroba lain yang merupakan patogen tanaman. Kedua kelompok tersebut mempunyai keunggulan, antara lain: (1) Cara kerja spesifik sehingga aman terhadap ternak dan manusia, (2) Tidak mencemari lingkungan, karena mudah terdegradasi atau terurai di alam, (3) Bahan dasar tersedia di lingkungan sekitar kita, (4) Tidak menimbulkan terbentuknya ras-ras baru yang lebih tahan, dan (5) Tidak akan terjadi suatu ledakan penyakit. Namun demikian, biofungisida juga mempunyai kelemahan antara lain: (1) Daya kerja relatif lambat karena tidak dapat menghambat perkembangan patogen secara langsung, (2) Kurang tahan terhadap sinar ultra violet, sehingga aplikasi biofungisida harus dilakukan pada sore hari, (3) Retensi biofungisida agak cepat, sehingga diperlukan aplikasi berulang, (4) Biaya produksi lebih mahal, sehingga harga jual belum tentu lebih murah daripada fungisida kimia, dan (5) Produk umumnya mudah terkontaminasi.

Biofungisida Potensial Hasil Penelitian Balitkabi untuk Pengendalian Penyakit pada Kedelai Aplikasi agensia hayati Pseudomonas fluorescens dan Trichoderma spp. dapat dimanfaatkan untuk mengendalikan patogen tular tanah pada tanaman aneka kacang, termasuk kedelai. Bakteri P. fluorescens merupakan bakteri yang mampu menekan mikroba lain dari jenis cendawan maupun bakteri. Peran P. fluorescens (Pf) sebagai agens hayati berkaitan dengan kemampuannya menghasilkan senyawa seperti antibiotik fenazinkarboksilat, pioluteorin, senyawa siderofor fluoresen, dan HCN yang bersifat toksik terhadap patogen. Organisme sasaran adalah cendawan tular tanah Sclerotium rolfsii dan Rhizoctonia solani. Aplikasi Pf tersebut dapat menekan sklerosia dan menghambat perkecambahannya. Bakteri P. fluorescens mampu hidup dan berkoloni secara agresif di tanah di sekitar perakaran. Produk biofungisida BACTAG berbahan aktif bakteri P. fluorescens, jika diaplikasikan dapat menekan intensitas penyakit sampai 30%. Cendawan antagonis Trichoderma spp. sangat efektif untuk mengendalikan berbagai patogen tular tanah seperti S. rolfsii, R. solani, Pythium sp. dan Fusarium spp. Beberapa jenis Trichoderma seperti T. harzianum, T. viride, T. koningii, dan T. hamatum dikenal perannya sebagai agensia hayati. Diperkirakan sekitar 260 strain Trichoderma yang berasal dari habitat berbeda, mampu berperan sebagai agens hayati. Produk TRICHOL-8 berbahan aktif Trichoderma sudah didaftarkan patennya. Aplikasi Trichol-8 pada saat tanam dapat menekan intensitas penyakit tular tanah hingga 40‒50%. CEKA, fungisida nabati untuk pengendalian penyakit karat pada daun kedelai, mengandung bahan aktif eugenol yang terkandung di dalam bunga dan daun tanaman cengkeh, bekerja aktif menghambat perkembangan penyakit karat. Ceka aman bagi lingkungan dan kesehatan, tidak menimbulkan resistensi, dan mencegah ledakan penyakit karat. Daun-daun yang diberi perlakuan CEKA secara visual tampak sehat dan tidak terdapat atau sedikit gejala penyakit karat, sedangkan pada daun tanpa CEKA terdapat gejala penyakit karat. Dinding sel spora yang diberi perlakuan CEKA mengalami lisis sehingga isi sel tersebar keluar sel, dan akhirnya spora mati. Aplikasi CEKA sebanyak 3 cc/liter air, dimulai pada saat tanaman berumur 4 minggu, disemprotkan sebanyak lima kali dengan interval waktu 5 hari dapat menekan intensitas penyakit karat hingga 60%.

Sumartini