Info Teknologi » Penyakit Embun Bulu (Peronospora manshurica) pada Kedelai

Gambar 1. Daun kedelai yang terinfeksi Peronospora manshurica.

Gambar 1. Daun kedelai yang terinfeksi Peronospora manshurica.

Penyakit embun bulu telah tersebar luas di sentra produksi kedelai di dunia, meliputi China, Korea, Malaysia, Thailand, Brazilia, Rumania, dan USA. Di Indonesia hanya menyerang di Pulau Jawa dan beberapa provinsi di Pulau Sumatera. Kehilangan hasil akibat penyakit ini mencapai 15%, tidak terlalu tinggi dibandingkan dengan penyakit karat yang mencapai 50%. Meskipun kehilangan hasil tidak begitu tinggi, namun menyebabkan penurunan kualitas benih yang berakibat tidak laku jual. Penyakit embun bulu biasanya diawali dengan gejala pada daun terdapat bercak berwarna kuning pucat, kemudian berubah menjadi kuning kecoklatan dengan warna agak kekuningan di sekeliling bercak (Gambar 1). Pada permukaan bawah daun warna coklat tersebut terdapat tubuh buah miselium dan spora yang menyerupai bulu, oleh karena itu disebut embun bulu. Penyebabnya adalah cendawan Peronospora manshurica, termasuk dalam kelas: Oomycetes, Ordo: Peronospales, Famili: Peronosporaceace, Genus: Peronospora. Spesies tersebut mempunyai spora dan oospora (Gambar 2) yang dindingnya tebal untuk pertahanan diri dari tekanan lingkungan.

Dari miselium pada daun yang terinfeksi akan terbentuk tubuh buah sporangium yang berisi spora. Spora tersebut menyebar ke daun lain karena terbawa angin. Spora pada daun yang baru akan membentuk tabung kecambah dan menginfeksi daun. Siklus dari spora hingga terbentuk spora lagi pada daun yang lain disebut siklus aseksual (Gambar 3). Spora berperan sebagai sumber inokulum sekunder dalam penyebaran penyakit embun bulu.

Gambar 2. Biji yang terinfeksi Peronospora manshurica.

Gambar 2. Biji yang terinfeksi Peronospora manshurica.

Dari miselium pada daun yang terinfeksi juga akan terbentuk “mating types”. Dari mating type (+) akan terbentuk anteridium dan dari mating type (-) akan terbentuk oogonium. Anteridium dan oogonium akan kawin dan menghasilkan oospora yang dinding selnya tebal, dan mampu bertahan pada sisa-sisa tanaman atau pada biji. Siklus ini disebut siklus seksual dan oospora mempunyai peran penting sebagai sumber inokulum primer bagi penyebaran penyakit embun bulu.

Siklus penyakit: Oospora pada biji atau pada sisa-sisa tanaman merupakan sumber inokulum awal (primer). Sekitar sepuluh hari setelah infeksi pertama pada daun, cendawan akan membentuk konidia yang berfungsi sebagai propagul untuk menyebar dari tanaman satu ke tanaman lain atau dari plot satu ke plot yang lain dengan kata lain konidia sebagai sumber inokulum sekunder. Siklus sekunder tersebut bisa berlangsung beberapa kali dalam satu musim tanam kedelai. Sekitar dua puluh hari dari infeksi pertama akan terbentuk oospora pada jaringan tanaman. Oospora inilah yang akan berfungsi sebagai sumber inokulum primer pada musim tanam kedelai tahun berikutnya.

Gambar 3. Siklus seksual dan aseksual dari Peronospora manshurica.

Gambar 3. Siklus seksual dan aseksual dari Peronospora manshurica.

Pengendalian penyakit embun bulu: (1) Tanam benih yang sehat (karena oospora bisa terbawa benih), (2) Sanitasi lahan yang akan ditanami (oospora dapat bertahan pada sisa-sisa tanaman), (3) Perlakuan benih dengan ekstrak bahan nabati, supaya oospora mati, (4) Penyemprotan daun-daun dengan ekstrak bahan nabati, dan (5) Penyemprotan daun-daun dengan fungisida yang sistemik.

Sumartini