Info Teknologi » Peran Kemasan dan Label Produk Pangan terhadap Minat Beli Konsumen

Gambar 1. Informasi wajib pada kemasan produk pangan. (Sumber: https://cdn.bisnisukm.com/2014/07/packaging-produk-yang-baik.jpg).

Gambar 1. Informasi wajib pada kemasan produk pangan.
(Sumber: https://cdn.bisnisukm.com/2014/07/packaging-produk-yang-baik.jpg).

Untuk memastikan suatu produk pangan diterima oleh pasar, industri pangan harus memahami penerimaan konsumen terhadap atribut-atribut sensori dan non-sensori produk pangan tersebut. Atribut sensori masih merupakan faktor penting untuk mengevaluasi penerimaan konsumen terhadap produk pangan. Namun, saat ini atribut non-sensori ternyata juga memberikan pengaruh yang tidak kalah pentingnya. Salah satu atribut non-sensori adalah kemasan dan informasi yang tertera pada kemasan (label) yang dapat mempengaruhi keputusan konsumen membeli suatu produk.

Penerimaan konsumen terhadap atribut non-sensori dapat mempengaruhi ekspektasi konsumen terhadap atribut sensori dan hedonik (tingkat kesukaan) suatu produk pangan. Pada ekspektasi sensori, konsumen dapat memperkirakan karakteristik sensori ‘yang mungkin’ diterimanya pada saat mencoba produk tersebut, sementara pada ekspektasi hedonik, konsumen dapat memperkirakan seberapa besar mereka akan menyukai produk. Kedua ekspektasi tersebut biasanya muncul setelah ada pengalaman sebelumnya terkait produk dengan melihat penampilannya melalui kemasan dan label.

Fungsi kemasan pada saat ini telah berubah sejalan dengan perubahan gaya hidup konsumen yang cenderung bersifat self service. Dalam ilmu marketing terdapat istilah umum “produk adalah kemasan”. Dalam hal ini, kemasan tidak hanya berfungsi sebagai wadah dan pelindung, namun juga menjadi identitas produk yang menyediakan informasi produk bagi konsumen sekaligus alat promosi penjualan yang menjadi daya tarik dan dapat mempengaruhi minat beli konsumen sehingga pada akhirnya dapat menekan biaya promosi.

Informasi pada kemasan telah diatur dalam PP No. 69 Tahun 1999 tentang Pelabelan Produk Pangan dan Periklanan, yang menyebutkan bahwa label produk pangan sedikitnya memuat informasi mengenai nama produk, bahan (ingredien), bobot bersih, nama dan alamat produsen, serta tanggal kadaluwarsa (Gambar 1). Untuk produk pangan tradisional yang dikemas, informasi minimal yang harus ada di kemasan adalah bahan (ingredien), nama produsen, dan tanggal kadaluwarsa (Gambar 2).

Beberapa hasil penelitian Elisabeth et al. (2016 dan 2017) menunjukkan bahwa rendahnya minat beli konsumen terhadap suatu produk pangan selain disebabkan oleh tingginya harga jual produk dibandingkan produk serupa yang ada di pasaran, juga karena penampilan produk yang tidak menarik. Dan ketika ditelusur lebih lanjut, produk tersebut dinilai tidak menarik oleh konsumen karena informasi yang tercantum di kemasan (label) kurang/tidak jelas serta desain kemasan kurang menarik (warna kemasan kurang cerah, gambar produk kurang jelas, dll). Kemasan yang eye-catching memiliki peluang besar untuk diperhatikan dan kemudian dibeli oleh konsumen. Penggunaan gambar pada kemasan bersifat lebih efektif dibandingkan teks/kata-kata karena konsumen cenderung lebih cepat mengolah informasi visual dibandingkan informasi dalam bentuk kata-kata.

Gambar 2. Informasi minimal pada kemasan produk pangan tradisional  (Sumber: http://pelangiprinting.com/wp-content/uploads/2014/01/label-produk.jpg).

Gambar 2. Informasi minimal pada kemasan produk pangan tradisional (Sumber: http://pelangiprinting.com/wp-content/uploads/2014/01/label-produk.jpg).

Gambar 3. Agar lebih menarik, kemasan standing pouch dan plastik dapat diganti dengan kemasan yang lebih eye-catching (Sumber: Aneka sumber di blogspot.co.id).

Gambar 3. Agar lebih menarik, kemasan standing pouch dan plastik dapat diganti dengan kemasan yang lebih eye-catching (Sumber: Aneka sumber di blogspot.co.id).

Dian Adi Anggraeni Elisabeth