Info Teknologi » Perbaikan Genetik Kedelai

kedelai trikoma jarang

Strategi peningkatan produksi kedelai ditempuh melalui program intensifikasi dan ekstensifikasi. Program intensifikasi diimplementasikan dengan peningkatan hasil melalui penekanan kehilangan hasil akibat hama utama dan peningkatan efisiensi usahatani. Hal itu antara lain dicapai melalui perakitan varietas kedelai tahan hama utama, berumur genjah, toleran kekeringan atau berbiji besar. Varietas unggul memiliki posisi penting sebagai peningkat produktivitas hasil.

Galur Harapan Kedelai Tahan Hama Pengisap Polong Riptortus linearis

Hama pengisap polong Riptortus linearis merupakan hama polong utama di Indonesia, menyebar di lintas agroekosistem dan musim tanam. Hingga saat ini, belum tersedia varietas kedelai toleran terhadap hama tersebut. Serangan hama pengisap polong tidak hanya menurunkan kuantitas namun juga menurunkan kualitas hasil kedelai. Faktor penentu ketahanan terhadap hama pengisap polong adalah kepadatan trikoma pada polong. Dengan demikian karakter kepadatan trikoma dapat digunakan sebagai kriteria seleksi tak langsung.

kedelai trikoma jarang kedelai trikoma padat

Uji multilokasi delapan galur harapan toleran terhadap hama pengisap polong dilakukan di enam sentra produksi, dan pada setiap lokasi ditanam dua kali pada musim kemarau. Varietas Kaba dan Wilis digunakan sebagai varietas pembanding. Pengendalian hama pengisap polong tidak dilakukan sama sekali. Diperoleh dua galur yakni G100H/SHRW-60-38 (2,31 t/ha) dan G100H/SHRW-34 (2,36 t/ha) yang mampu berdaya hasil sepadan dengan Wilis (2,30 t/ha) maupun Kaba (2,32 t/ha). Untuk dapat dilepas sebagai varietas unggul, masih diperlukan 10 pengujian lagi terhadap kedua galur tersebut.

Selain galur harapan yang sedang dalam tahap uji multilokasi, dilakukan pula uji daya hasil lanjutan (UDHL) 29 galur untuk ketahanannya pada hama pengisap polong Riptortus linearis dengan varietas pembanding Kaba di Kab. Pasuruan, Malang, dan Blitar. UDHL berhasil memperoleh tujuh galur berdaya hasil di atas 2,0 t/ha (rentang antara 2,02–2,78 t/ha), lebih tinggi dibandingkan varietas pembanding Kaba (1,92 t/ha). Tujuh galur berdaya hasil tinggi segera diuji multilokasi sebelum dilepas sebagai varietas baru.

Galur harapan kedelai  toleran pengisap polong

Galur Harapan Kedelai Berbiji Besar

Maraknya kedelai impor ternyata meningkatkan preferensi pengguna terhadap kedelai berbiji besar. Varietas kedelai biji besar yang ada saat ini merupakan hasil seleksi kedelai introduksi, dan memiliki kelemahan, yakni rentan terhadap virus daun. Kegiatan pemuliaan hingga saat ini telah menghasilkan 10 galur harapan berbiji besar. Uji multilokasi sepuluh galur tersebut di enam lokasi di Kab. Mojokerto, Ngawi, Bantul, dan Lampung Tengah menggunakan Burangrang dan Anjasmoro sebagai varietas pembanding berbiji besar. Galur Aochi/W.C.6.60 (2,78 t/ha) dan Aochi/W.C.6.62 (2,69 t/ha) mampu berproduksi lebih tinggi daripada varietas Burangrang (2,51 t/ha) maupun Anjasmoro (2,37 t/ha). Kedua galur harapan tersebut memiliki ukuran biji 16 g/100 biji, namun umur masaknya agak dalam (86 hari), sedangkan Burangrang 82 hari dan Anjasmoro 85 hari.

Galur Kedelai Toleran Kekeringan

Uji daya hasil lanjutan (UDHL) 30 galur kedelai toleran kekeringan fase reproduktif, telah menghasilkan 10 galur: (1) DV/2984-330-1-16, (2) ARG/GCP-335-6-30, (3) ARG/GCP-334-5-19, (4) LK/3474-407-7-38, (5) SV-7-1011-1-1, (6) LK/3474-403-2-14, (7) LK/3474-404-4-13, (8) SV-7-1014-4-15, (9) SV-7-1012-2-6, dan (10) MLG 2805-962-69, yang menunjukkan kriteria sangat tahan dan tahan dengan nilai indeks toleransi cekaman (ITC) yang tinggi. Sepuluh galur tersebut siap untuk diuji multilokasi.

Galur Kedelai Tahan Ulat Grayak

Evaluasi 30 galur homosigot hasil persilangan menggunakan berbagai tetua genotipik yang berbeda, dengan kriteria hasil tinggi dan toleran terhadap hama telah menghasilkan satu galur 100H yang mempunyai ketahanan tinggi terhadap serangan ulat grayak. Galur 100H tidak terserang ulat grayak sama sekali, sedangkan varietas Wilis mengalami defoliasi antara 60–100%.

Galur harapan kedelai  tahan ulat grayak