Info Teknologi ยป Perkembangan Varietas Kacang Tanah di Indonesia

Tanaman kacang tanah berasal dari daerah di lereng Pegunungan Andes, Amerika Latin, yang saat ini merupakan daerah tempat negara-negara seperti Bolivia, Peru, dan Brazil. Kacang tanah masuk ke Indonesia melalui India dan China, dan ditemukan pertama kali di Maluku pada tahun 1690. Berdasarkan keragaan tanaman dan polong, kacang tanah dibedakan menjadi tiga tipe, yakni Spanish, Valencia, dan Virginia; namun hanya tipe Spanish dan Valencia yang berkembang di Indonesia, sedangkan tipe Virginia berkembang sangat baik di benua Amerika. Tipe Spanish dicirikan dengan dua biji per polong, sedangkan tipe Valencia memiliki 3-4 biji per polong (Gambar 1).

Gambar 1. Keragaan tanaman kacang tanah tipe Spanish/Valencia (A) dan tipe Virginia (B). Tipe Spanish berbiji 2 (C) dan tipe Valencia berbiji 3 atau 4 (D)

Gambar 1. Keragaan tanaman kacang tanah tipe Spanish/Valencia (A) dan tipe Virginia (B). Tipe Spanish berbiji 2 (C) dan tipe Valencia berbiji 3 atau 4 (D)

Kacang tanah dibudidayakan karena biji dan biomasanya dapat digunakan untuk keperluan pangan, pakan, dan bahan industri. Kebutuhan kacang tanah di tingkat nasional dari tahun ke tahun terus meningkat. Sementara itu, produksi nasional tahunan dalam lima tahun terakhir (2015-2019) mengalami penurunan dari 605.449 ton menjadi 420.099 ton akibat adanya penurunan luas panen dan produktivitas, masing-masing dari 454.349 ha menjadi 332.883 ha, dan dari 1,33 t/ha menjadi 1,26 t/ha. Untuk memenuhi kebutuhan kacang tanah nasional, Indonesia harus mengimpor sekitar 235 ribu ton biji kering setiap tahun.

Upaya mempersempit senjang kebutuhan dan produksi sekaligus mengurangi impor ditempuh melalui intensifikasi dan ekstensifikasi. Salah satu upaya intensifikasi adalah penggunaan varietas unggul sebagai bahan tanam. Namun, peningkatan produksi sering dihadapkan pada beberapa kendala seperti semakin terbatasnya sumber genetik unggul, menyempitnya lahan-lahan produktif akibat bersaing dengan laju pembangunan perumahan/infrastruktur. Selain itu, perubahan iklim akibat pemanasan global berdampak pada pola curah hujan menjadi sangat eratik, tidak merata, dan menimbulkan kekeringan serta memicu perubahan ekobiologi hama dan penyakit tanaman termasuk penyakit bercak daun, karat daun, dan layu bakteri. Hal ini menuntut ketersediaan varietas unggul baru yang memiliki keunggulan ganda, yaitu produktivitas hasil tinggi dan tahan kendala biotik / abiotik.

Berdasar produktivitas, umur panen, dan ketahanan terhadap cekaman biotik dan abiotik, kemajuan perakitan varietas unggul kacang tanah di Indonesia sejak tahun 1950 hingga sekarang dapat dikelompokkan menjadi 3 periode, yaitu: 1) tahun 1950-1975, 2) tahun 1976-2000, dan 3) tahun 2001 hingga sekarang (Tabel 1). Tahun 1950 dijadikan sebagai tonggak dimulainya perakitan varietas dengan dilepasnya 4 varietas unggul kacang tanah yang pertama di Indonesia.

Tabel 1. Periodisasi varietas baru kacang tanah di Indonesia berdasar produktivitas hasil dan umur panen.
Parameter Periode

1950-1975

Periode

1976-2000

Periode

2000-2021

Jumla Varietas 4 (8,9%) 18(40%) 23(51,1%)
Rata-rata Produktivitas hasil polong kering (t/ha) 1,8 2,1 2,7
Rata-rata umur panen (HST) 100 92,1 91
Nama Varietas Gajah, Kidang, Banteng, Macan Rusa, Anoa, Tapir, Pelanduk, Tupai, Kelinci, Jepara, Landak, Mahesa, Badak, Komodo, Biawak, Trenggiling, Simpai, Zebra, Panther, Singa, Jerapah Sima, Turangga, Kancil, Bima, Tuban, Bison, Domba, Talam 1, Hypoma 1, Hypoma 2, Takar 1, Takar 2, Litbang Garuda 5, Talam 2, Talam 3, Tala 1, Tala 2, Hypoma 3, Katana 1, Katana 2, Tasia 1, Tasia 2, Hypoma 4
Sumber: Purnomo dkk 2020

Periode tahun 1950-1975

Tujuan utama perakitan varietas baru pada periode ini adalah untuk menghasilkan varietas dengan produktivitas hasil lebih tinggi dari varietas lokal. Tahun 1950 dilepas 4 varietas baru pertama di Indonesia, yaitu varietas Gajah, Macan, Banteng, dan Kidang dengan rata-rata produktivitas hasil 1,8 t/ha polong kering, dan umur panen rata-rata adalah 100 hari setelah tanam (HST). Penyakit layu yang disebabkan oleh infeksi bakteri Ralstonia solanacearum telah diketahui sebagai kendala utama hasil kacang tanah, dan keempat varietas tersebut mempunyai keunggulan tahan terhadap penyakit layu bakteri. Sejak dilepasnya 4 varietas di atas, selama 25 tahun berikutnya tidak dihasilkan varietas baru.

Periode tahun 1976-2000

Pada periode ini dihasilkan banyak varietas baru, dengan produktivitas berkisar antara 1,6 t – 2,8 t/ha, sehingga rata-rata produktivitas hasil pada periode ini 2,1 t/ha. Dengan demikian terjadi peningkatan produktivitas sebanyak 0,3 t/ha dibanding rata-rata produktivitas hasil periode sebelumnya. Di sisi lain, umur panen menjadi lebih pendek, rata-rata 92,1 HST (berkisar dari 80-100 HST). Diantara 17 varietas yang dilepas pada periode ini, beberapa varietas dengan produktivitas hasil tinggi adalah varietas Komodo dan Biawak (2,3 dan 2,5 t/ha) yang bertipe Spanish, dan varietas Zebra, Panther, Singa dengan tipe Valencia. Semua varietas yang dilepas pada periode ini tahan atau toleran, dan beberapa berstatus agak tahan terhadap infeksi bakteri Ralstonia solanacearum.

Pada tanaman kacang tanah, terdapat tiga penyakit daun utama yaitu karat Puccinia arachidis Speg, bercak daun awal Cercospora arachidicola Hori, atau bercak daun akhir Phaeoisariopsis personata Berk & Curt. Ketika ketiga penyakit tersebut muncul secara bersamaan, maka dapat menimbulkan kerugian hingga 70%. Oleh karena itu, selain produktivitas hasil tinggi dan tahan penyakit layu bakteri, ketahanan terhadap penyakit daun tersebut dimasukkan pada kegiatan pemuliaan tanaman. Hal ini terlihat pada varietas-varietas baru yang dilepas mulai tahun 1990-an sudah menyandang status tahan atau agak tahan terhadap salah satu atau kedua penyakit daun tersebut.

Selain kendala biotik, kendala abiotik juga mulai menjadi perhatian pada periode ini, salah satunya adalah lahan bereaksi masam (pH tanah rendah). Hal ini terlihat pada varietas yang dilepas pada periode tersebut, diantaranya: Landak, Badak, Trenggiling, dan Simpai yang memiliki keunggulan adaptif pada kondisi lahan masam.

Periode tahun 2001- sekarang

Pada periode ini perakitan varietas unggul baru berkembang pesat dengan dihasilkannya 23 varietas dengan produktivitas antara 1,7-4,6 t/ha polong kering, dengan rata-rata 2,7 t/ha. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan berproduksi varietas-varietas yang dihasilkan pada 20 tahun terakhir meningkat tajam. Di sisi lain, umur panen menjadi lebih pendek, rata-rata 91 HST (berkisar dari 85-108 HST). Varietas Hypoma 3 bertipe Valencia mempunyai produktivitas 4,6 t/ha dengan umur panen 108 HST, dan varietas Katana 1 bertipe Spanish mempunyai produktivitas hasil 3,5 t/ha polong kering dengan umur panen hanya 87 HST.

Selain produktivitas hasil tinggi, varietas-varietas tersebut juga berstatus tahan atau toleran, dan beberapa berstatus agak tahan terhadap penyakit karat dan/atau bercak daun. Hanya beberapa varietas (misal Tala 1, Tala 2, Bima) yang rentan terhadap kedua penyakit daun tersebut. Satu lagi penyakit daun yang cukup penting yaitu penyakit belang yang disebabkan oleh infeksi Peanut Stripe Virus belum dapat diatasi dengan perakitan varietas tahan. Isu aflatoksin yang mendunia juga sudah diantisipasi dengan perakitan varietas yang tahan infeksi jamur Aspergillus flavus pada biji. Sebagai contoh varietas Sima dan Turangga berstatus agak tahan serta varietas Kancil dengan status tahan yang dilepas tahun 2001. Tahun 2013 dilepas varietas Litbang Garuda 5 dengan sifat tahan infeksi Aspergillus flavus dan rendah cemaran aflatoksin. Demikian pula varietas Tala 1 dan Tala 2 tahan infeksi Aspergillus flavus dengan tingkat infeksi <5%.

Serangga Bemisia tabaci merupakan salah satu hama penting pada kacang tanah dan di beberapa daerah serangan hama ini berpotensi menurunkan hasil polong. Hal ini sudah diantisipasi oleh pemulia tanaman kacang tanah dengan dirakitnya varietas Tasia 1 dan Tasia 2 dengan sifat khusus yaitu agak tahan terhadap serangan hama tersebut. Selain kendala biotik, kendala abiotik seperti: lahan masam (pH tanah rendah), alkalis (pH tanah tinggi), kekeringan, dan kahat kalium (yang ditunjukkan dengan gejala klorosis pada daun-daun kacang tanah) juga sudah menjadi perhatian pada awal periode ini.

Peluang berinovasi menghasilkan varietas unggul baru kacang tanah masih terbuka lebar. Contohnya, kacang tanah tipe Spanish (misal varietas Kancil, Jerapah, Bison, dan Gajah) yang diminati petani rata-rata kurang tahan penyakit bercak/karat daun dibanding tipe Valencia seperti Singa, Turangga, dan Domba. Oleh karena itu, tersedianya kacang tanah tipe Spanish yang tahan terhadap penyakit bercak/karat daun dan tahan layu bakteri akan seiring dengan keinginan petani. Varietas tahan, berdaya hasil tinggi, dan adaptif di banyak lingkungan akan menjadi cara budidaya tanaman yang efektif, efisien, dan tentunya sangat bermanfaat bagi petani.

Joko Purnomo

Daftar Pustaka

Balitkabi [Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi]. Deskripsi Varietas Unggul Aneka Kacang dan Umbi. Cetakan ke-8 (revisi). Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi. Malang. 2016. 218 hlm. ISBN: 978-979-98569-2-0.

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. 2020.Produksi Tanaman Pangan perkembangan luas panen, produktivitas dan produksi komoditas utama tanaman pangan. Kementrian pertanian Republik Indonesia

Hammons RO 1982. Origin and early history of the peanut. In. Peanut Science and Technology. American Peanut Research and Education Society, Inc. Texas. p. 1-20.

Purnomo J, Nugrahaeni N, Trustinah, Rahmianna AA. 2020. Panduan Teknis Pengenalan Varietas Unggul Kacang Tanah 1950-2019. Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi. 135 p (belum dipublikasikan)

Subrahmanyam, P., D, McDonald, F, Waliyar, L,J, Reddy, S,N, Nigam, R,W, Gibbons, V, Ramanatha Rao, A,K, Singh, S, Pande, P,M, Reddy, and P,V, Subba Rao. 1995. Screening methods and sources of resistance to rust and late leaf spot of groundnut, ICRISAT, India,20p