Info Teknologi » Potensi Pengembangan Varietas Kedelai Indonesia di Madagaskar

heru

Di Madagaskar, kedelai bukan merupakan bahan pangan utama seperti di Indonesia. Pada umumnya kedelai digunakan sebagai pakan ternak. Masyarakat Madagaskar mengenal kedelai sebagai bahan pangan hanya untuk membuat susu kedelai dan sudah banyak tersedia di pasar-pasar tradisional. Dengan berkembangnya pendatang dari negara lain, terutama negara Tiongkok, saat ini kedelai juga dimanfaatkan sebagai bahan makanan terutama untuk bahan baku tahu. Meskipun pemanfaatannya belum dilakukan secara optimal, namun beberapa daerah di Madagaskar secara turun-temurun juga telah membudidayakan kedelai. Petani pada umumnya sudah mengenal teknologi budidaya meskipun tidak sempurna. Teknologi budidaya tanaman umumnya dilakukan secara konvensional.

Madagaskar merupakan daerah subtropis dan memiliki kondisi iklim yang sangat mendukung bagi pengembangan kedelai, karena kedelai juga berasal dari daerah subtropis. Secara umum, Madagaskar mempunyai dua musim yaitu musim kemarau dan musim hujan. Musim kemarau biasanya terjadi pada bulan Mei–Oktober, dan musim hujan dari bulan November–April. Budidaya kedelai biasanya dilakukan saat musim hujan, karena pada musim kemarau sulit memperoleh air untuk mencukupi kebutuhan kedelai. Di samping itu, pada musim kemarau suhu menjadi lebih dingin yang dapat mencapai di bawah 5 oC di beberapa daerah tertentu.

Gambar 1. Pertanaman kedelai pada musim kemarau 2014 di Madagaskar.

Di musim kemarau, pada umumnya lahan pertanian dibiarkan bero. Petani tidak berani mengambil risiko menanam kedelai karena rendahnya suhu udara. Namun dari uji adaptasi varietas yang dilakukan di lahan sawah, varietas Argomulyo dan Burangrang yang berasal dari Indonesia keduanya dapat mencapai hasil 1,39 t/ha, lebih tinggi daripada varietas Madagaskar FT 10, OC 11, dan Malady dengan hasil biji berturut-turut 1,16 t/ha, 1,19 t/ha, dan 0,59 t/ha. Di Indonesia, Argomulyo dan Burangrang merupakan varietas berumur genjah, dan pada saat ditanam di Madagaskar pada musim kemarau dengan suhu dingin menunjukkan umur masak setara dengan varietas Madagaskar FT 10 dan OC 11. Namun, umur panen varietas Argomulyo dan Burangrang masih lebih lambat dibandingkan varietas Malady yang merupakan varietas Madagaskar berumur genjah. Pengaruh suhu dingin yang terjadi pada saat musim kemarau mengakibatkan tanaman kedelai mengalami hambatan pertumbuhan, tetapi pada saat menjelang hujan dengan suhu relatif hangat kedelai dapat tumbuh tinggi (Gambar 1).


Gambar 2. Pertanaman kedelai pada musim hujan 2015 di Madagaskar.

Di musim hujan, suhu udara lebih tinggi daripada musim kemarau. Musim hujan merupakan kondisi optimal untuk budidaya kedelai terutama di lahan kering yang tidak memiliki irigasi teknis. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di Madagaskar, varietas Burangrang dan Panderman dapat mencapai hasil biji lebih dari 3 t/ha. Di musim hujan varietas Madagaskar FT 10 dan OC 11 juga dapat mencapai hasil biji lebih dari 3 t/ha. Varietas Panderman yang di Indonesia memiliki ukuran biji besar 18–19 g/100 biji, di Madagaskar dapat mencapai ukuran biji yang lebih besar lagi yaitu 28 g/100 biji (Gambar 2). Panderman merupakan varietas yang diintroduksi dari Taiwan dengan iklim subtropis. Oleh karena itu, saat ditanam kembali pada daerah dengan iklim yang serupa dapat memberikan penampilan yang lebih baik daripada di daerah dengan iklim tropis. Namun, hal ini berbeda dengan varietas Anjasmoro yang meskipun berasal dari Mansuria dengan iklim subtropis, tetapi ukuran biji dan hasil biji Anjasmoro relatif stabil. Penampilan Anjasmoro mirip dengan yang ditanam di Indonesia, di mana tidak mengalami peningkatan ukuran biji secara drastis.

Heru Kuswantoro