Info Teknologi » Potensi Penggunaan Bakteri Pelarut P di Lahan Masam

Keragaan tanaman kedelai varietas Anjasmoro pada perlakuan pupuk hayati bakteri pelarut P (2), 200 kg SP36/ha di lahan masam Banten

Keragaan tanaman kedelai varietas Anjasmoro pada perlakuan
pupuk hayati bakteri pelarut P (2), 200 kg SP36/ha di lahan masam Banten

Pendahuluan

Peningkatan produksi kedelai di Indonesia difokuskan pada perluasan area tanam antara lain ke lahan kering masam. Kendala utama di lahan kering masam adalah rendahnya kesuburan tanah, apalagi bila penanaman terus-menerus tanpa atau sedikit sekali menambah hara tanah. Di lahan masam unsur hara pembatas utama adalah fosfor (P) karena ketersediaannya sangat dipengaruhi oleh kemasaman tanah dengan kisaran pH optimal 6,5-7,5. Pada tanah masam dengan pH < 6,0, kadar Al, Fe dan Mn tinggi sehingga dapat terjadi fiksasi P menjadi Al-P, Fe-P dan Mn-P yang sukar larut dan menyebabkan P menjadi tidak tersedia untuk diserap tanaman. Bila rendahnya ketersediaan P disebabkan oleh daya fiksasi tanah yang tinggi maka pemberian pupuk saja tidak efektif. Pemanfaatan pupuk hayati pelarut P dapat menjadi salah satu solusi yang murah dan ramah lingkungan agar P dapat tersedia bagi tanaman.

Pelarut Fosfor di Alam

Pelarutan mikrobiologis dari senyawa phosphatic anorganik merupakan proses penting di alam yang dapat membantu meningkatkan ketersediaan unsur hara P bagi tanaman. Beberapa jenis mikroba seperti bakteri, jamur dan aktinomi­setes dilaporkan aktif dalam konversi fosfat tidak larut menjadi fosfat larut. Di lahan masam sebenarnya terdapat mikroba yang efektif melarutkan P namun kurang bermanfaat bila jumlahnya tidak cukup tinggi untuk berkompetisi dengan mikroba lain yang juga berada di sekitar perakaran tanaman. Oleh karena itu penggunaan mikroba pelarut P yang efektif sebagai pupuk hayati akan lebih bermanfaat untuk mengatasi permasalahan P di lahan masam.

Potensi Penggunaan Bakteri Pelarut P

Pada penelitian di lahan kering masam di Banten yang memiliki pH: 5,2 dan kadar P sebanyak 7,9 ppm (rendah), penggunaan bakteri pelarut P yang diaplikasikan sebagai pupuk hayati berpengaruh positif terhadap pertumbuhan kedelai, tampak pada keragaan tanaman yang lebih baik, kanopi yang lebih cepat menutup dan warna daun yang lebih hijau dibanding tanaman kontrol yang tidak diberi pupuk hayati maupun pupuk P, dan keragaan tersebut tidak berbeda dengan yang dipupuk 200 kg SP36/ha (Gambar 1).

pelarut2 pelarut3
Gambar 1. Keragaan tanaman kedelai varietas Anjasmoro dengan pupuk hayati bakteri pelarut P (2), 200 kg P36/ha (5) dan kontrol atau tanpa pupuk hayati pelarut P dan tanpa pupuk P (1) di lahan masam Banten

Pupuk hayati pelarut P mampu meningkatkan hasil kedelai sebesar 29,6% (0,47 t/ha) dibanding hasil pada perlakuan kontrol dan peningkatannya lebih tinggi bila dikombinasi dengan pemupukan 100 kg SP36/ha dan setara dengan hasil pemupukan 200 kg SP36/ha (Tabel 1). Hasil ini menunjukkan bahwa secara teknis bakteri pelarut P layak digunakan sebagai pupuk hayati untuk kedelai di lahan masam.

Hasil perhitungan ekonomi menunjukkan bahwa penggunaan pupuk hayati pelarut P mampu memberikan keuntungan sebesar Rp 3.800.750 meningkat 150% dibanding keuntungan yang diperoleh pada perlakuan tanpa pupuk hayati dan pupuk P (kontrol). Keuntungan yang lebih tinggi diperoleh pada perlakuan kombinasi pupuk hayati pelarut P + 100 kg SP36/ha yaitu sebesar Rp 4.280.750 (Tabel 1). Nisbah B/C bernilai positif menunjukkan jika usahatani kedelai di lahan masam ini menguntungkan. Dari hasil perhitungan nisbah R/C menunjukkan semua perlakuan memberikan keuntungan, tetapi dengan penggunaan inokulasi pupuk hayati baik dikombinasikan dengan pupuk P maupun tanpa pupuk P memberikan keuntungan yang lebih banyak. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemanfaatan bakteri pelarut P sebagai pupuk hayati untuk meningkatkan produksi kedelai di lahan masam selain layak secara teknis dan ekonomis.

Tabel 1. Pengaruh pupuk hayati dan pupuk P terhadap hasil biji, serta perhitungan ekonomi kedelai di lahan masam. Banten, MH 2015.
 Perlakukan Hasil

(kg/ha)

Peningkatan Hasil

(%)

Total Biaya Produksi

(Rp)

Penerimaan

(Rp)*

Keuntungan

(Rp)

B/C Rasio R/C Rasio
Tanpa Inokulasi dan pupuk P  1.590  –  6.454.250  7.950.000  1.495.750  0,2 1,2
Inokulasi pelarut P 2.060 29,6 6.499.250 10.300.000 3.800.750 0,6 1,6
100 kg SP36/ha 1.980 24,5 6.674.250 9.900.000 3.225.750 0,5 1,5
Inokulasi + 100 kg SP36/ha 2.200 38,4 6.719.250 11.000.000 4.280.750 0,6 1,6
200 kg SP36/ha 2.130 34 6.894.250 10.650.000 3.755.750 0,5 1,5
 Keterangan: *Harga jual kedelai Rp. 5000/kg.

Suryantini