Info Teknologi » Pupuk Hayati Agrisoy Efektif Meningkatkan Hasil Kedelai di Tanah Masam dan Non Masam

agrisoy

Upaya peningkatan produksi kedelai, saat ini masih menjadi prioritas pembangunan pertanian dengan sasaran mencapai swasembada pada tahun 2017. Untuk itu, masih diperlukan perluasan areal panen hingga tahun 2017 seluas 1,9 juta ha, dengan produktivitas 1,53 t/ha. Pada tahun 2014, luas panen kedelai di Indonesia baru mencapai 611 ribu ha dengan produktivitas 1,5 t/ha. Oleh karena itu untuk mencapai swasembada masih diperlukan perluasan areal panen cukup besar. Di Indonesia, untuk pengembangan areal panen kedelai tersedia tanah masam (18,5 juta ha) dan tanah non masam yang cukup luas. Untuk mendukung peningkatan produksi dan perluasan areal panen kedelai, Badan Litbang Pertanian melalui Balitkabi telah berhasil merakit pupuk hayati “Agrisoy” (semula diberi nama Iletrisoy), yang mampu memacu pembentukan bintil akar dengan baik, dan meningkatkan hasil kedelai di tanah masam dan non masam sepadan bahkan lebih efisien dibanding dipupuk NPK dosis rekomendasi. Pupuk hayati tersebut, kini telah siap diproduksi oleh PT Agro Indo Mandiri (AIM), Bogor. Keunggulan pupuk hayati Agrisoy di antaranya adalah : (1) Mengandung tiga isolat bakteri Bradyrhizobium japonicum yang efektif dan toleran pada tanah masam hingga pH 4,0, berkadar Mn 100 ppm, Fe 300 ppm, dan Al 400 µM, (2) Mampu menggantikan kebutuhan pupuk urea lebih dari 50% pada tanaman kedelai di tanah masam dan non masam, (3) Penggunaannya sangat mudah, yaitu dicampur dengan benih kedelai pada saat tanam dengan dosis 40 gram Agrisoy/8 kg benih, sehingga dalam satu hektar hanya dibutuhkan 200 gram Agrisoy.

Di tanah masam dan non masam, penggunaan pupuk hayati Agrisoy mampu memacu pembentukan bintil akar, jumlah polong isi per tanaman, dan meningkatkan hasil biji kedelai lebih baik dibanding tanpa diinokulasi, dan memberikan hasil sama bahkan lebih tinggi/efisien dibanding dipupuk NPK rekomendasi (Tabel 1 dan 2). Produksi bintil akar yang tinggi, merupakan tolok ukur efektivitas penambatan N dan meningkatnya ketersediaan N, sehingga berdampak positif pada pertumbuhan dan peningkatan hasil kedelai. Tanaman yang mampu membentuk bintil akar dengan baik, hingga umur 65 hari, daun-daunnya masih tumbuh hijau, sedangkan tanaman yang tidak mampu membentuk bintil akar, pada umur yang sama daunnya sudah mulai menguning dan rontok sehingga proses pengisian polong berlangsung lebih singkat, yang berakibat pada lebih rendahnya hasil yang dicapai (Gambar1).


Gambar 1. Keragaan pembentukan bintil akar umur 45 hari dan pertumbuhan tanaman kedelai umur 65 hari dengan inokulasi Agrisoy (atas)
dan tanpa inokulasi pada tanah masam di Lampung Timur (bawah).

AH