Info Teknologi » Ragam SDG Kacang Tunggak (Vigna unguiculata (L.) Walp.) Koleksi Balitkabi

tunggak21

Kacang Tunggak (Vigna unguiculata (L.) Walp.) memiliki jumlah kromosom 2n=2x=22, merupakan anggota famili Leguminosae dan sering disebut dengan “cowpea/southernpeas/blackeyed peas/field peas/pinkeyes/crowders” (Amerika Serikat), “niebe/wake/ewa” (Afrika Barat), dan “caupi” (Brazil). Nama lain kacang tunggak di Indonesia terutama Jawa adalah kacang dadap, kacang landes, kacang otok, dan kacang tolo.

Domestifikasi kacang tunggak berawal di daerah asalnya yaitu Afrika Barat dan Afrika Timur. Pusat keragaman kacang tunggak selain di Afrika adalah Asia Selatan (India). Kacang ini dapat dimanfaatkan menjadi kecambah, kecap, tempe, tauco, kacang tunggak kupas kulit (dhal), tepung, dan keju (cheese analogue). Tempe kacang tunggak mengandung protein, lemak, serat, dengan karbohidrat sebagai komponen utama. Tempe kacang tunggak mampu menurunkan tekanan dan kandungan glukosa darah, serta mampu melemahkan zat penyebab kanker.

Kacang tunggak memiliki dua tipe pertumbuhan yaitu determinate dan semi determinate, dengan sifat pertumbuhan tegak, agak tegak, atau menyebar. Kacang tunggak mempunyai daun trifoliate seperti anggota famili Leguminosae lain, dan letaknya berseling. Daun berwarna hijau dengan bentuk oval (1,5−2:1) atau lanset (3−5:1). Bunga tersusun dalam karangan yang muncul dari ketiak daun. Jumlah bunga dalam karangan bervariasi sesuai karakter setiap genotipe. Polong muda berwarna hijau muda atau kelam kemudian berubah menjadi krem, cokelat, atau hitam saat masak. Biji kacang tunggak bervariasi dalam ukuran, bentuk, dan warna (krem, cokelat, hitam, belang, dan merah).

Kacang tunggak dapat beradaptasi secara luas baik pada lahan sawah irigasi maupun lahan kering. Kacang tunggak toleran terhadap kondisi kering meskipun kebutuhan air pada stadia tertentu tetap harus terpenuhi. Budi daya kacang tunggak biasa dilakukan pada lahan kering tadah hujan. Kacang tunggak dapat ditanam secara monokultur maupun tumpangsari dengan tanaman pangan lain seperti padi gogo, jagung sorgum, ubi kayu, dan kacang-kacangan lain (komak, gude). Kacang tunggak berpotensi dikembangkan di kawasan Indonesia Timur terutama Sulawesi, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku dengan ketinggian tempat kurang dari 1000 m dpl. Selain itu, kacang tunggak juga mampu beradaptasi pada lahan masam, sehingga memungkinkan dikembangkan di lahan kering masam Sumatera dan Kalimantan (Trustinah et al. 2001).

Hama dengan status sangat penting hingga penting bagi kacang tunggak hampir sama dengan kedelai atau pun kacang hijau yaitu lalat kacang (Melanagromyza sojae, Melanagromyza dolichostigma, Ophyomyia phaseoli), pengisap daun (Empoasca spp., Bemisi tabaci, Aphis spp., dan Thrip spp.), ulat daun (Spodoptera litura, Heliothis armigera, Agrotis spp., Chrysodeixis chalsites, Hedylepta indicata), penggerek polong (Maruca testualis, Etiella spp.), serta pengisap polong (Nezara viridula, Riptortus linearis).

Balitkabi memiliki 205 aksesi kacang tunggak yang meliputi aksesi introduksi, varietas lokal, dan hasil persilangan (breeding lines). Kegiatan pemuliaan kacang tunggak di Balitkabi dimulai pada tahun 1987 melalui karakterisasi kuantitatif dan kualitatif. Persilangan dilaksanakan pada tahun 1991, dilanjutkan seleksi pada tahun 1992−1994. Uji daya hasil pendahuluan dimulai pada tahun 1994−1995, kemudian dilanjutkan dengan uji daya hasil lanjut hingga uji multilokasi pada tahun 1997. Tolok ukur yang digunakan dalam kegiatan seleksi saat itu adalah hasil biji, warna biji, serta toleransi terhadap hama polong. Perbaikan kacang tunggak melalui hibridisasi mendapatkan tiga varietas unggul yaitu KT 6, KT 7, dan KT 8, sedangkan KT 2, KT 4, KT 5, dan KT 9 diperoleh dari program bersama seleksi galur-galur introduksi dan varietas lokal. Kegiatan pemuliaan kacang tunggak Balitkabi dirangkum dalam Tabel 1.

Tabel 1. Kegiatan pemuliaan kacang tunggak di Balitkabi 1984−2018

Tahun

Kegiatan pemuliaan

Hasil

Keterangan

1984

Galur-galur introduksi kacang tunggak masuk ke Indonesia (sebagian besar dari Nigeria)

1987-1990

Evaluasi, seleksi, uji daya hasil (pendahuluan dan lanjutan) galur-galur introduksi dan varietas local

Enam varietas unggul kacang tunggak: KT 1 (Balitsa); KT 2, KT 4, KT 5, dan KT 9 (Balitkabi); KT 3 (Balittan, Maros)

1990

Persilangan galur-galur kacang tunggak

950 biji F1

12.000 biji F2

Perbaikan hasil, kualitas biji, dan ketahanan terhadap hama dan penyakit utama (CAMV)

1992-1993

Seleksi generasi F2-F5

1.500 galur F3 557 galur F5

1994

Seleksi generasi F5

95 galur generasi F6

1994-1995

Uji daya hasil pendahuluan (F6)

13 genotipe

1996-1997

Uji daya hasil lanjut dan uji multilokasi

Empat calon varietas unggul

1998

Pelepasan varietas

Tiga varietas unggul kacang tunggak: KT 6, KT 7, dan KT 8

2014

Karakterisasi

150 Aksesi terkarakterisasi

Karakter : tipe tumbuh, batang dan tangkai daun, daun, bunga, serta polong.

2016

Karakterisasi

157 Aksesi terkarakterisasi

Karakter : tipe tumbuh, batang dan tangkai daun, daun, bunga, serta polong.

2018

Karakterisasi

166 Aksesi terkarakterisasi

Karakter : tipe tumbuh, batang dan tangkai daun, daun, bunga, serta polong.

Karakterisasi kualitatif dan kuantitatif terhadap 150 aksesi kacang tunggak koleksi plasma nutfah Balitkabi pada MK tahun 2014 di kebun percobaan Muneng Probolinggo menghasilkan tujuh puluh aksesi memiliki karakter umur genjah, postur tanaman sedang, polong panjang, jumlah biji/polong dan hasil biji tinggi, 47 aksesi berumur sedang, postur tanaman pendek, polong pendek, jumlah biji/polong dan hasil biji rendah, serta 33 aksesi berumur sedang, tetapi memiliki postur tanaman tinggi, polong pendek, jumlah biji/polong dan hasil biji tinggi.

Karakterisasi lebih lanjut dilakukan terhadap 157 aksesi pada tahun 2016 (KP Kendalpayak) dan 166 aksesi pada tahun 2018 (KP Muneng). Karakter yang diamati merujuk pada panduan deskriptor International Board for Plant Genetic Resources (IBPGR 1983) yang meliputi karakter tipe tumbuh, karakter batang dan tangkai daun, karakter daun, karakter bunga, serta karakter polong.

Sebanyak 54,8% aksesi termasuk varietas KT 2, KT 4, KT 6, KT 8, dan KT 9 memiliki pola tumbuh determinate sedangkan 45,2% aksesi termasuk varietas KT 5 dan KT 7 memiliki pola tumbuh indeterminate. Sebagian besar aksesi (89,8%) memiliki daun berbentuk oval, sedangkan sisanya, termasuk varietas KT 5 berdaun bentuk tombak/lanset (Gambar 1). Pigmentasi tangkai daun bervariasi mulai tanpa pigmentasi (1,8%), ungu tipis (24,7%), ungu pada ujung dan pangkal tangkai daun (10,8%), ungu sedang (15,7%), ungu (34,9%) hingga ungu pekat (12,0%). Seluruh kacang tunggak koleksi plasma nutfah Balitkabi memiliki trikoma dengan skor 3 (kategori jarang, IBPGR 1983).

Gambar 1. Keragaman bentuk daun kacang tunggak

Gambar 1. Keragaman bentuk daun kacang tunggak

Warna bunga putih terdapat pada enam aksesi, warna merah muda pada 11 aksesi, sedangkan sisanya (149 aksesi), termasuk seluruh varietas berbunga ungu. Sebanyak 14 aksesi, termasuk varietas KT 1 dan KT 4 memiliki karangan bunga menjulang di atas kanopi, 78 aksesi sedikit di atas kanopi, dan 74 aksesi termasuk empat varietas yaitu KT 2, KT 6, KT 7, dan KT 8 memiliki karangan bunga sejajar kanopi. Aksesi dengan posisi karangan bunga di atas kanopi memiliki keunggulan memudahkan proses panen.

Bentuk polong bervariasi mulai lurus (10 aksesi), sedikit melengkung (111 aksesi), melengkung (42 aksesi), hingga bentuk “S” (3 aksesi). Seluruh varietas memiliki polong dengan bentuk sedikit melengkung. Sebagian besar aksesi bahan rejuvenasi, termasuk seluruh varietas, memiliki polong muda berwarna hijau (127 aksesi), 36 aksesi memiliki polong muda dengan pigmentasi ungu di ujung polong, satu aksesi dengan pigmentasi di salah satu tepi polong, dan 2 aksesi dengan pigmentasi ungu yang menyebar (Gambar 2).

vigna1

Gambar 2. Keragaman warna, bentuk, dan ukuran polong kacang tunggak

Umur berbunga 166 aksesi kacang tunggak koleksi Balitkabi berkisar antara 39−49 HST dengan rata-rata 40,5 HST. Panjang polong antara 10,3−20,7 cm, dan jumlah biji 10−17 per polong. Umur polong masak berkisar antara 50−70 HST. Bobot per 100 biji antara 5,6−24,8 g dengan total bobot panen 0,63 t/ha−3,3 t/ha. Histogram distribusi frekuensi untuk karakter kuantitatif kacang tunggak bahan rejuvenasi disajikan pada Gambar 3.

vigna2

Gambar 3. Histogram distribusi frekuensi karakter kuantitatif 166 aksesi kacang tunggak di KP Muneng, MK 2018

Warna biji kacang tunggak koleksi Balitkabi sangat beragam mulai dari putih, krem, cokelat, merah, hingga hitam, baik polos maupun blirik (Gambar 4). Karakter warna dan bentuk biji merupakan salah satu kunci dalam identifikasi aksesi kacang tunggak. Karakterisasi biji aksesi kacang tunggak koleksi Balitkabi masih terus dilakukan hingga saat ini karena sering terdapat campuran warna biji pada hasil panen suatu aksesi. Salah satu faktor penyebabnya adalah penyerbukan dengan bantuan serangga. Tingkat kejadian penyerbukan silang pada kacang tunggak pada umumnya tidak terlalu tinggi sehingga dominansi jumlah biji menjadi acuan dalam menentukan warna biji suatu aksesi.

vigna3

Gambar 4. Keragaman warna biji antar dan intra aksesi kacang tunggak koleksi Balitkabi

Sumber daya genetik kacang tunggak memiliki karakter kuantitatif dan kualitatif morfo-agronomi yang beragam. Karakter yang perlu diteliti lebih lanjut adalah karakter biji baik morfologi maupun fisiko-kimia mengingat biji kacang tunggak merupakan bahan konsumsi (pangan). Selain itu, perlu dilakukan evaluasi ketahanan kacang tunggak terhadap cekaman biotik dan abiotik karena baru 24,4% (50 aksesi) kacang tunggak yang sudah dievaluasi terhadap lahan masam.

 

Pratanti Haksiwi Putri

 

Daftar Pustaka:

IBPGR. 1983. Cowpea Descriptors. International Board for Plant Genetic Resources. Rome.

Kasno, A. dan A. Winarto. 1998. Kacang Tunggak. Monograf Balitkabi No. 3. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jakarta.

Trustinah, A. Kasno, dan Moedjiono. 2001. Pembentukan varietas unggul Kacang Tunggak. Buletin Palawija 2: 1-14.

Trustinah. 2011. Toleransi genotipe kacang tunggak di lahan kering masam. Prosiding Simposium Peripi VIII Komda Jatim. Kontribusi Pemuliaan dalam Antisipasi Masalah Akibat Fenomena Pemanasan Global. ISBN : 978-602-98482-0-5. Balitkabi Malang, Hal. 90-97.

Trustinah, A. Kasno, dan M.J. Mejaya. 2017. Keragaman sumber daya genetik kacang tunggak. Jurnal Penelitian Pertanian Tanaman Pangan 1(2): 165-172.