Info Teknologi » Rhizoctonia solani, Penyebab Penyakit Busuk Kanopi pada Kedelai di Lahan Pasang Surut

Lahan pasang surut di Kalimantan Selatan sangat luas, dan areal yang sesuai untuk usaha pertanian diperkirakan mencapai 182.990 ha diantaranya seluas 99.695 ha berada di Kabupaten Barito Kuala. Pengembangan tanaman aneka kacang terutama kedelai di lahan pasang surut dapat memberikan peluang baru bagi peningkatan pendapatan petani.

Di lahan pasang surut Kalimantan, kedelai merupakan komoditi minoritas, relatif baru dikembangkan misalnya di areal PLG (pusat pengembangan lahan gambut) Kalimantan Tengah. Salah satu kendala budidaya kedelai adalah serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) terdiri dari hama dan penyakit, yang menurunkan kualitas dan kuantitas hasil panen.

Kondisi lahan pasang surut yang berlebihan air pada periode pasang, merupakan salah satu faktor pemicu berkembangnya penyakit tanaman, terutama penyakit yang patogennya berasal dari tanah dan menular melalui tanah. Beberapa jenis patogen pada kedelai adalah jamur, bakteri, virus, dan nematoda.

Pada musim tanam 2010 di lahan pasang surut Simpangjaya-Wanaraya (Barito Kuala) ditemukan gejala infeksi jamur putih pada tanaman kedelai. Gejala penyakit terlihat pada tanaman di atas tanah (kanopi) meliputi daun, tangkai daun, cabang, batang, dan polong.

Jamur tersebut memiliki ciri-ciri mirip dengan Rhizoctonia solani. Kedelai pada seluruh fase pertumbuhannya mulai dari kecambah hingga masak panen, dapat terinfeksi oleh R. solani. Infeksinya seringkali dimulai dari kecambah yang baru tumbuh, hipokotil, dan perakaran.

Namun pada kondisi lingkungan yang kondusif seperti suhu dan kelembaban tinggi, infeksi akan berkembang semakin parah sehingga seluruh tajuk tanaman menjadi busuk dan menurunkan hasil panen.

Kejadian penyakit busuk kanopi R. solani pada kedelai

Pada kedelai yang ditanam di lahan pasang surut Kabupaten Barito Kuala (daerah Simpangjaya – Wanaraya) pada musim tanam 2010 silam ditemukan indikasi serangan jamur R. solani. Gejala penyakit berupa bercak nekrotik (matinya jaringan tanaman) berukuran lebar, tidak beraturan, dan agak basah.

Seluruh organ tanaman yang ada di atas tanah (kanopi) meliputi daun, tangkai, batang, dan polong terinfeksi jamur tersebut. Pada bercak-bercak nekrotik rata-rata muncul koloni jamur berupa miselia yang menggumpal mirip kapas.

Miselia tersebut dapat tumbuh menjalar ke daun dan polong sehat yang terdekat sehingga terbentuk rangkaian benang putih mirip sarang laba-laba, dan antar kanopi menjadi lengket satu dengan yang lain (Gambar 1). Daun dan tangkai dengan intensitas penyakit yang parah akhirnya membusuk, mengering dan gugur. Infeksi pada polong menyebabkan polong busuk, hampa dan kering.

Gambar 1. Gejala infeksi alamiah R. solani pada daun, tangkai, dan polong kedelai di lahan pasang surut Simpangjaya-Wanaraya (Barito Kuala).

Gambar 1. Gejala infeksi alamiah R. solani pada daun, tangkai, dan polong kedelai di lahan pasang surut Simpangjaya-Wanaraya (Barito Kuala).

Intensitas penyakit busuk kanopi tersebut cukup tinggi mencapai 50−75%. Beberapa faktor yang dapat mempercepat berkembangan penyakit ini antara lain: (1) Lingkungan lahan dengan drainase yang buruk, pernah tergenang oleh air hujan dan air pasang, (2) Kanopi tanaman yang rimbun, (3) Adanya sumber inokulum jamur di lahan setempat, dan (4) Varietas kedelai tidak tahan penyakit.

Dalam proses infeksi, R. solani mengeluarkan ensim ekstraseluler yang bersifat toksin merusak dinding sel tanaman sehingga muncul gejala busuk. R. solani dapat mengeluarkan beberapa jenis senyawa metabolit yaitu fenol 17,40 %, asam karboksilat 12,79 %, karbohidrat 6,08 %, asam lemak 3,78 %, dan asam amino 3,47 % yang toksis atau merusak sel tanaman inang.

Karakteristik R. solani isolat-Sj dan patogenisitasnya

R. solani adalah parasit fakultatif dan mudah dibiakkan pada media agar-agar. R. solani isolat-Sj yang diisolasi dari tanaman kedelai di Batola memiliki ciri-ciri: (1) Tidak membentuk spora, hanya berupa miselia berwarna putih, (2) Koloni miselia tumbuhnya sangat cepat mencapai diameter 55 mm pada umur inkubasi 3 hari setelah inokulasi (hsi) dan memenuhi cawan yang berdiameter 90 mm pada umur 4 hsi, (3) Selain membentuk miselia juga membentuk struktur sklerosia yang berdinding tebal dan keras.

Sklerosia terbentuk dari pemampatan miselia, berwarna putih mirip butiran gula pasir saat mulai terbentuk, dan pada umur semakin tua akan membesar dan berwarna coklat kehitaman. Bentuk sklerosia tidak beraturan, ukuran diameter beragam 1−4 mm (Gambar 2, Tabel 1).

Gambar 2. R. solani isolat-Sj di cawan Petri dan grafik pertumbuhan koloninya.

Gambar 2. R. solani isolat-Sj di cawan Petri dan grafik pertumbuhan koloninya.

Tabel 1. Karakter kuantitatif R. solani isolat-Sj pada media agar-agar.
Karakter Minimum Maksimum
1. Diameter koloni (mm/3 hsi) 15 55
2. Awal terbentuk struktur sklerosia (hsi) 3 4
3. Jumlah sklerosia per cawan (7–21 hsi) 6 46
4. Diameter butiran sklerosia (mm) 1 4
Keterangan : hsi = hari setelah inokulasi.

Sklerosia R. solani akan berkecambah di lapangan, dan membentuk miselium primer yang mampu menginfeksi inang terutama jika menemukan jenis inang yang rentan. R. solani memiliki jenis tanaman inang yang sangat banyak meliputi tanaman pangan, sayuran, tanaman hias, dan tumbuhan liar atau gulma.

Berdasarkan pengamatan mikroskopis diketahui bahwa hifa R. solani isolat-Sj memiliki sekat dan bercabang-cabang. Pada percabangan hifa terjadi kontak dinding sel dan terjadi penggabungan atau fusi antara dua sel hifa dengan posisi tegak lurus (tanda panah Gambar 3). Fusi hifa yang disebut sebagai anastomosis adalah penciri khas R. solani untuk mengetahui keragamannya berdasarkan kompatibilitas somatik pada strain patogenik.

Gambar 3. Morfologi miselia dan fenomena anastomosis (tanda panah) R. solani isolat-Sj (perbesaran 10x100).

Gambar 3. Morfologi miselia dan fenomena anastomosis (tanda panah) R. solani isolat-Sj (perbesaran 10×100).

Untuk menetapkan status R. solani isolat-Sj sebagai patogen atau bukan, maka dilakukan uji patogenisitas dengan cara menginokulasikan jamur secara buatan pada tanaman kedelai sehat. Inokulasi dilakukan dengan dua cara yaitu uji daun dipetik (detached leaf) dan uji perkecambahan (seedlings test).

Pada uji perkecambahan, muncul gejala infeksi pada bagian hipokotil kedelai berupa ruam atau lesio berwarna coklat kemerahan, kecambah akhirnya busuk dan rebah. Pada uji daun dipetik muncul gejala bercak daun (Gambar 4).

Intensitas penyakit pada uji daun dipetik berkisar 5−25 %, sedangkan pada hipokotil dengan nilai skor 3−4 atau agak parah (Tabel 2). Bercak pada hipokotil dapat melebar, menyebabkan permukaan batang berkerut atau cekung, kecambah tumbuhnya tidak normal, dan terjadi busuk kecambah (seedling rot).

Tabel 2. Patogenisitas R. solani isolat-Sj pada uji daun dipetik dan perkecambahan kedelai.
Perlakuan Inokulasi Uji daun dipetik Uji perkecambahan
Intensitas Busuk Daun (%) Hipokotil Busuk (Skor)
1. Inokulasi R. Solani 5–25 3–4
2. Kontrol tanpa inokulasi 0 0

Munculnya penyakit pada dua fase pertumbuhan tanaman kedelai yang diwujudkan melalui uji daun dipetik dan uji perkecambahan, merupakan indikasi bahwa R. solani isolat-Sj asal lahan pasang surut tersebut merupakan patogen penyebab penyakit busuk kanopi pada kedelai.

Gambar 4. Gejala bercak daun dan busuk kecambah kedelai pada uji inokulasi R. solani isolat- Sj.

Gambar 4. Gejala bercak daun dan busuk kecambah kedelai pada uji inokulasi R. solani isolat- Sj.

Infeksi R. solani pada kedelai dengan gejala busuk pada kanopi belum tersedia informasinya selama ini, sehingga tidak dikenal oleh petani oleh karena itu belum pernah dikendalikan secara khusus.

Mengingat lahan pasang surut memiliki kelembaban sangat tinggi ketika air pasang, maka dalam budidaya kedelai perlu adanya saluran drainase yang baik untuk menurunkan kelembaban lahan sehingga tidak kondusif untuk perkembangan jamur tular tanah seperti R. solani tersebut.

Cara pengendalian lain yang mungkin dilakukan adalah dengan eradikasi dan sanitasi lingkungan, sebab di lapangan jamur ini memiliki aneka jenis inang dan juga dapat bertahan hidup lama di tanah dan residu tanaman sakit.

Mudji Rahayu