Info Teknologi » SIWAKA.INS v.02 : Simulasi Swasembada Kedelai 2020‒2045 Berbasis Web, dalam Perspektif Dukungan Inovasi Varietas Unggul Kedelai

Gambar 1. SIWAKA.INS v.01 (luas lahan kedelai dan tingkat hasil kedelai tidak dibatasi).

Gambar 1. SIWAKA.INS v.01 (luas lahan kedelai dan tingkat hasil kedelai tidak dibatasi).

Di era industri pertanian 4.0, penggunaan model simulasi swasembada kedelai berbasis web yang mudah diakses dan dioperasikan, merupakan salah satu kebutuhan bagi pengguna (utamanya para pengambil kebijakan), yang membutuhkan kecepatan dan ketepatan informasi dalam proses pengambilan keputusan, baik untuk tujuan praktis manajemen atau menentukan dukungan penelitian yang dibutuhkan. Untuk itu dalam perspektif dukungan inovasi varietas unggul kedelai yang telah dihasilkan Balitkabi, telah dikembangkan summary model simulasi swasembada kedelai 2020–2045 berbasis web, yang skenarionya merupakan kombinasi dari lima masukan utama : Perluasan areal kedelai (PPA, %/tahun), Peningkatan produktivitas kedelai (LAJUY, %/tahun), Kehilangan hasil pasca panen (KHKDL, %/tahun), Peningkatan jumlah penduduk (KB, %/tahun) dan Peningkatan konsumsi kedelai (LAJUK, %/tahun).

Model simulasi swasembada kedelai (SIWAKA.INS) berbasis web yang telah dikembangkan di Laboratorium System Dynamic Balitkabi, telah ditayangkan dalam info teknologi 29 Juni 2018 06:06 (Gambar 1) (Tastra et. al. 2018). Namun SIWAKA.INS masih ada kekurangan dan perlu perbaikan agar mendekati kondisi riil di lapang, mengingat salah satu kunci dari pencapaian swasembada kedelai adalah pembukaan/perluasan areal baru (Handewi dan Sri Nuryanti 2011). Dengan pertimbangan ini, perbaikan model simulasi dilakukan dengan menambahkan asumsi bahwa maksimum luas lahan (LHNMX) yang dapat diupayakan pemerintah dalam kurun waktu 2020–2045 seluas 2 juta ha dan maksimum hasil kedelai (YIELD) ditingkat petani rata-rata 2,5 t/ha (Gambar 2).

Gambar 2. SIWAKA.INS v.02 (luas lahan kedelai maksimum yang dapat diupayakan pemerintah 2 juta ha dan tingkat hasil kedelai maksimum 2,5 t/ha).

Gambar 2. SIWAKA.INS v.02 (luas lahan kedelai maksimum yang dapat diupayakan pemerintah 2 juta ha dan tingkat hasil kedelai maksimum 2,5 t/ha).

Adapun skenario swasembada kedelai nasional dengan menggunakan Model SIWAKA.INS v.02, selengkapnya disajikan pada Tabel 1. Sesuai data dukung produktivitas varietas unggul kedelai yang telah dihasilkan Balitkabi, yang potensi hasilnya mencapai 2,75–3,82 t/ha (Balitkabi 2018a, Balitkabi 2018b), diasumsikan laju peningkatan produktivitas kedelai (LAJUY): 8,0‒10.0 %/tahun, sementara input parameter lainnya dianggap tetap. Hal ini dimaksudkan untuk melihat dampak inovasi varietas unggul kedelai terhadap tercapai swasembada kedelai nasional.

Dari lima skenario swasembada kedelai yang telah dicoba (Tabel 1), skenario D menunjukkan swasembada kedelai tercapai pada tahun 2020‒2045, sementara skenario E menunjukkan swasembada kedelai tercapai pada tahun 2019‒2045. Namun tahun 2019 ada pemilihan umum presiden, sehingga skenario D swasembada kedelai lebih realistik untuk dipilih.

Kesimpulannya, jika dalam kurun waktu 2020–2045, maksimum luas lahan yang dapat diupayakan pemerintah seluas 2 juta ha dan hasil kedelai maksimum yang dapat dicapai ditingkat petani rata-rata 2.5 t/ha. (berkat dukungan teknologi budi daya kedelai), secara teknis melalui penerapan inovasi varietas unggul kedelai, swasembada kedelai dapat dicapai pada tahun 2020‒2045, pada tingkat hasil kedelai 1,66–2,5 t/ha dan luas lahan 1,66-2,0 juta ha.

SIWAKA.INS v.02 bersifat open source dan dapat diakses di https://insightmaker.com/insight/152040/SIWAKA-INS-v02. Dengan demikian, pengguna dapat mengembangkan lebih lanjut program SIWAKA.INS sesuai dengan agro-ekosistem sentra produksi kedelai nasional, dalam memilih kombinasi input yang optimal.

Tabel 1. Ringkasan perkiraan tercapainya swasembada kedelai nasional sebagai dampak dari upaya peningkatan produktivitas kedelai (LAJUY) melalui diseminasi varietas unggul kedelai.
Parameter**) Skenario swasembada kedelai*)
A B C D E
Perluasan areal kedelai, PPA (%/tahun) 9,0 9,0 9,0 9,0 9,0
Peningkatan produktivitas kedelai, LAJUY (%/tahun) 8,0 8,5 9,0 9,5 10,0
Kehilangan hasil pasca panen, KHKDL (%/tahun) 7,5 7,5 7,5 7,5 7,5
Peningkatan jumlah penduduk, KB (%/tahun) 1,5 1,5 1,5 1,5 1,5
Peningkatan konsumsi kedelai, LAJUK (%/tahun) 1,0 1,0 1,0 1,0 1,0
Luas areal kedelai, LAKDL ( juta ha) 0,59‒2,00 1,97‒2,00 1,81‒2,00 1,66‒2,00 1,52‒2,00
Tingkat hasil kedelai, HSKDL (t/ha) 1,31‒1,58 1,51‒1,57 1,59‒1,96 1,66‒,5 1,71‒2,5
Total Produksi kedelai, PRKDL (juta t) 0,77‒3,15 2,97‒3,13 2,88‒3,92 2,76‒5,00 2,62‒5,00
Total konsumsi kedelai, KOKDL (juta t) 1,99‒4,98 2,81‒3,11 2,74‒3,88 2,68‒4,98 2,61‒4,98
Tingkat swasembada kedelai, TSKDL (juta t) (-1,21)‒(-1,83) 0,16‒0,03 0,14‒0,03 0,09‒0,02 0,14‒0,02
Tahun tercapainya swasembada kedelai 2022‒2026 2021‒2035 2020‒2045 2019‒2045
*) Asumsi maksimum luas lahan yang dapat diupayakan pemerintah dalam kurun waktu 2020-2045 seluas 2 juta ha dan maksimum hasil kedelai ditingkat petani rata-rata 2,5 t/ha.
**) Sesuai data dukung produktivitas varietas unggul kedelai yang telah dihasilkan Balitkabi, yang potensi hasilnya mencapai 2,75-3,82 t/ha (Balitkabi 2018a, Balitkabi 2018b), diasumsikan laju peningkatan produktivitas kedelai (LAJUY): 8.0-10.0 %/tahun.

PUSTAKA

Tastra, I.K., E. Ginting, dan G.S.A.Fatah. 2012. Menuju swasembada kedelai melalui penerapan kebijakan yang sinergis. IPTEK TanamanPangan Vol. 7 (1) : 47–57.

________, F.R. Abadi, dan B.S. Kuncoro. 2018. Pengembangan Model Simulasi Swasembada Kedelai Berbasis Web. Laporan internal laboratorium System Dynamic. Balitkabi.

Balitkabi, 2018a. http://balitkabi.litbang.pertanian.go.id/wp-content/uploads/2016/09/kedelai.pdf [diakses 7 – 11 – 2018]

Balitkabi, 2018b. http://balitkabi.litbang.pertanian.go.id/wp-content/uploads/2018/02/deja2.pdf

[diakses 7 – 11 – 2018]

Handewi P. Saliem dan Sri Nuryanti, 2011. Perspektif ekonomi global kedelai dan ubikayu mendukung swasembada. Prosiding Seminar Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi. Balitkabi.

 K. Tastra, F. R. Abadi, dan B. S. Kuncoro