Info Teknologi » “Talam 1” Varietas Kacang Tanah Unggul Adaptif Lahan Masam dan Toleran Aspergillus flavus

 

Kacang tanah (Arachis hypogaea L.) merupakan komoditas cash crop yang diminati petani. Luas panen dan produksi kacang tanah yang terus meningkat setiap tahunnya. Minat petani yang terus meningkat dalam bididaya kacang tanah harus disertai dengan penyediaan teknologi, di antaranya varietas unggul yang sesuai dengan lingkungan dan permintaan pasar. Perluasan areal tanam dapat dilakukan di luar Pulau Jawa, antara lain Sumatera, Kalimantan, dan Papua yang merupakan daerah potensial untuk pengembangan kacang tanah. Namun, pengembangan kacang tanah di pulau-pulau tersebut berhadapan dengan masalah kemasaman lahan dan keracunan Al serta cekaman kekeringan. Varietas kacang tanah Talam 1 yang unggul dalam hasil polong, adaptif pada lahan kering masam, toleran jamur Aspergillus flavus dan tahan penyakit bercak daun merupakan jawaban untuk mengatasi masalah tersebut.

 

Talam 1 merupakan keturunan persilangan antara varietas Jerapah dan galur ICGV 91283 yang dilakukan pada tahun 1999. Varietas Jerapah memiliki adaptasi dan toleransi yang baik pada lahan kering masam, toleran terhadap kekeringan, dan toleran penyakit daun. Galur ICGV 91283 adalah kacang tanah toleran jamur A. flavus. A. flavus adalah jamur penghasil alflatoksin senyawa yang bersifat meracun (karsinogenik) pada ruminansia, unggas, dan manusia. Keturunan dari silangan ini diharapkan mewarisi karakter kedua tetuanya. Melalui seleksi dengan metode pedigri sampai F9, diperoleh galur J/91283-99-C-90-8 yang memiliki kombinasi sifat antara varietas Jerapah dan galur ICGV 91283.

Uji adaptasi terhadap galur J/91283-99-C-90-8 dilakukan pada tahun 2004–2006 di berbagai sentra produksi kacang tanah selama dua musim di setiap lokasi. Hasil analisis gabungan menunjukkan bahwa genotipe, lingkungan, dan interaksi genotipe dengan lingkungan berpengaruh nyata untuk hasil biji. Adanya interaksi genotipe dan lingkungan untuk hasil dapat menimbulkan masalah, karena hal ini mengindikasikan bahwa terdapat perbedaan keunggulan galur pada lokasi yang berbeda. Untuk mengatasi permasalahan tersebut dapat dilakukan melalui dua pendekatan. Cara pertama dilakukan dengan melakukan stratifikasi lingkungan sehingga menjadi kelompok lingkungan yang lebih homogen dan menanam varietas yang spesifik lokasi. Pendekatan kedua dilakukan dengan menanam varietas yang hasilnya stabil. Berdasarkan hasil analisis stabilitas hasil, galur J/91283-99-C-90-8 tergolong memberikan hasil stabil menurut analisis regresi (Tabel 1).

Tabel 1. Parameter stabilitas hasil polong kacang tanah di 16 lokasi tahun 2004–2006

Genotipe

Parameter Stabilitas

Hasil Yi (t/ha)

R

bi

S2di

MHS/91315-99-C-140-1

1,17 ± 0,04

0,85

1,11 ± 0,12*

0,019

MHS/91278-99-C-174-6

1,21 ± 0,07

0,72

1,04 ± 0,17

0,054*

MHS/91278-99-C-180-5

1,18 ± 0,06

0,78

1,10 ± 0,15

-0,003

MHS/91278-99-C-180-6

1,22 ± 0,03

0,67

0,89 ± 0,11

0,011

MHS/91278-99-C-180-13

1,23 ± 0,01

0,90

1,01 ± 0,08

-0,079

J/91127-99-C-120-4

1,19 ± 0,05

0,75

0,99 ± 0,14

0,036

J/91283-99-C-87-5

1,34 ± 0,02

0,86

1,04 ± 0,14

0,027

J/91283-99-C-90-8 (Talam 1)

1,35 ± 0,03

0,82

1,09 ± 0,13

0,019

J/91283-99-C-192-17

1,17 ± 0,02

0,91

1,00 ± 0,10

-0,069

J/91283-99-C-194-10

0,18 ± 0,03

0,88

1,02 ± 0,11

-0,062

J/91283-99-C-195-2

1,17 ± 0,02

0,85

1,16 ± 0,10

0,007

J/91283-99-C-195-5

1,08 ± 0,03

0,82

0,99 ± 0,10s

0,006

J/91283-99-C-196-1

1,10 ± 0,02

0,88

0,79 ± 0,09*

0,005

J/91283-99-C-196-7

1,21 ± 0,01

0,84

0,97 ± 0,07s

-0,005

J/91283-99-C-197-13

1,15 ± 0,06

0,91

0,88 ± 0,16

0,048*

J-11

1,03 ± 0,05

0,90

1,12 ± 0,10*

0,007

Jerapah

1,31 ± 0,03

0,89

0,96 ± 0,12

0,017

Rata-rata umum

1,18

0,80

 

 

Keterangan: R = nilai regresi; bi = nilai koefisien regresi; S2di = nilai simpangan regresi

*) bi = berbeda dengan 1,0; S2di = berbeda dengan 0; Galur dikatakan stabil apabila nilai bi = 1 dan nilai S2di = 0.

Untuk mengetahui adaptasinya di lahan masam, galur J/91283-99-C-90-8 bersama genotipe lain dievaluasi di Jasinga pada lingkungan masam (E1) dan lingkungan dengan pemberian 2 ton dolomit/ha (E2). Pada lingkungan E1, pertumbuhan tanaman kacang tanah beragam, dari rentan (skor 5) hingga toleran (skor antara 1 hingga 3). Dari hasil pengujian di lingkungan masam tersebut, menunjukkan bahwa galur J/91283-99-C-90-8 termasuk toleran lahan masam dengan skor 1, sedangkan galur lainnya termasuk rentan dengan skor 4 (Gambar 1).

 

Gambar 1. Toleransi kacang tanah galur J/91283-99-C-90-8 (GH 16) terhadap kemasaman tanah.

Hasil pengujian terhadap penyakit layu yang disebabkan oleh Ralstonia solanacearum menunjukkan bahwa galur J/91283-99-C-90-8 termasuk genotipe yang tahan (Tabel 2). Seleksi ketahanan terhadap penyakit layu R. solanacearum dievaluasi mulai F3 hingga F5 dengan mencabut tanaman yang layu. Dari hasil seleksi tersebut, galur J/91283-99-C-90-8 merupakan salah satu galur terpilih untuk sifat ketahanan terhadap penyakit layu. Sementara itu, hasil pengujian terhadap penyakit daun menunjukkan bahwa galur J/91283-99-C-90-8 tergolong agak tahan terhadap serangan penyakit daun, baik bercak maupun karat daun (Tabel 2). Seleksi ketahanan terhadap penyakit bercak daun (Cercospora arachidicola) dan karat daun (Puccinia arachidis) dilakukan sekaligus sampai F8. Salah satu galur kacang tanah terpilih adalah galur J/91283-99-C-90-8.

Guna memicu infeksi jamur A. flavus di lapangan, pada umur 90 hari dilakukan pengairan untuk proliferasi cendawan, dan kacang tanah dipanen pada umur 115 hari. Setelah polong kacang tanah diproses dan dikeringkan, kemudian disimpan selama 3–6 bulan untuk dilakukan pengujian ketahanan terhadap A. flavus. Hasil pengujian menunjukkan bahwa galur J/91283-99-C-90-8 memiliki ketahanannya terhadap jamur A. flavus hingga tiga bulan setelah panen, dan toleransi galur tersebut konsisten hingga enam bulan setelah panen, tetapi menjadi rentan terhadap serangan jamur A. flavus setelah polong disimpan selama tujuh bulan, sama halnya seperti varietas pembanding J11 (Tabel 2). Varietas J11 merupakan salah satu varietas kacang tanah yang tahan jamur A. flavus.

Tabel 2. Skor penyakit bercak daun, karat daun, persentase tanaman layu, dan intensitas A. flavus galur-galur kacang tanah.

Galur

Skor Penyakit

Persen tanaman layu

Intensitas A. flavus

Bercak

Karat

Tiga bulan

Tujuh Bulan

MHS/91315-99-C-140-1

6,5

5,5

14,0 (T)

5,33 (R)

30,00 (SR)

MHS/91278-99-C-174-6

6,0

4,5

28,9 (R)

5,11 (AT)

4,33 (AT)

MHS/91278-99-C-180-5

5,5

5,0

16,6 (T)

10,44 (SR)

11,56 (SR)

MHS/91278-99-C-180-6

6,0

5,0

18,5 (AT)

10,89 (SR)

6,33 (R)

MHS/91278-99-C-180-13

5,5

5,0

40,6 (R)

2,44 (AT)

2,00 (AT)

J/91127-99-C-120-4

6,0

4,5

17,8  (T)

1,22 (T)

20,89 (SR)

J/91283-99-C-87-5

6,0

5,0

12,4 (T)

3,11 (AT)

24,11 (SR)

J/91283-99-C-90-8 (Talam 1)

6,0

5,0

13,3 (T)

2,67 (AT)

7,67 (R)

J/91283-99-C-192-17

6,0

5,0

18
,1 (AT)

1,22 (T)

8,22 (AT)

J/91283-99-C-194-10

6,0

4,0

20,7 (AT)

11,11 (SR)

26,51 (SR)

J/91283-99-C-195-2

6,0

5,0

13,7 (T)

8,44 (AT)

17,33 (SR)

J/91283-99-C-195-5

6,0

5,5

11,6 (T)

4,78 (AT)

9,44 (SR)

J/91283-99-C-196-1

6,0

5,5

17,5 (T)

3,89 (AT)

13,31 (SR)

J/91283-99-C-196-7

6,0

5,0

13,8 (T)

11,44 (SR)

7,62 (AT)

J/91283-99-C-197-13

6,0

4,0

13,5 (T)

2,67 (AT)

9,11 (SR)

J-11

6,0

6,0

51,6 (R)

1,33 (T)

8,1 (R)

Jerapah

6,5

4,5

16,2 (T)

4,89 (AT)

8,89 (SR)

Keterangan: T = tahan, AT = agak tahan, R = rentan, SR = sangat rentan

Galur J/91283-99-C-90-8 juga terindikasi memiliki ketahanan terhadap hama kutu kebul. Pada evaluasi toleransi kacang tanah di musim kemarau tahun 2011 di kebun Muneng, Probolinggo, terjadi serangan hama kutu kebul (Bemisia tabaci) yang berat. Di antara 50 genotipe kacang tanah yang diuji, terdapat tanggap beragam terhadap serangan kutu kebul dari rentan hingga toleran (Gambar 2). Kacang tanah yang toleran pertumbuhannya normal, sedangkan genotipe kacang tanah yang rentan tumbuh lebih pendek. Pada kondisi serangan B. tabaci yang berat tersebut, galur J/91283-99-C-90-8 memperlihatkan toleransi terhadap serangan kutu kebul.

Gambar 2. Penampilan varietas Talam 1 terhadap kutu kebul di KP Muneng tahun 2011.

Secara umum, keunggulan galur J/91283-99-C-90-8 meliputi hasil, toleransi terhadap kemasaman lahan, ketahanan terhadap penyakit layu, penyakit daun (karat dan bercak daun), dan ketahanan terhadap jamur A. flavus. Matriks keunggulan galur J/91283-99-C-90-8 dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Matriks keunggulan galur J/91283-99-C-90-8 (Talam 1) terhadap dua varietas pembanding

Karakter

Genotipe

Talam 1

J11

Jerapah

Hasil polong rerata (t/ha)

1,44

1,17

1,41

Hasil polong di lahan masam (t/ha)

1,59

0,91

1,33

Ketahanan terhadap penyakit layu

Tahan

Rentan

Tahan

Ketahanan terhadap bercak daun

Agak tahan

Rentan

Agak tahan

Ketahanan terhadap karat daun

Agak tahan

Rentan

Agak tahan

Ketahanan terhadap A. flavus

Agak tahan

Tahan

Agak tahan

Ketahanan terhadap kemasaman lahan

Tahan

Peka

Agak tahan

Jumlah polong/tanaman

27,0

20,0

Lukisan jaring polong

Jelas

Tidak jelas

Kadar protein

26,3

21,5

Kadar lemak

45,4

43,0

 

Gambar 3. Polong kacang tanah varietas Talam 1 (galur J/91283-99-C-90-8).

Disarikan oleh Apri Sulistyo dari: Astanto Kasno, 2010. “Talam 1” varietas kacang tanah unggul baru adaptaif lahan masm dan toleran Aspergillus flavus. Bul. Palawija, 19 : 19-26