Info Teknologi » Teknologi Budidaya Kedelai pada Lahan Kering Beriklim Kering

subandi

Pendahuluan Di Indonesia, hingga kini produksi kedelai masih belum dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri, sehingga pemerintah terus berupaya meningkatkan produksi kedelai dengan sasaran mencapai swasembada yang semula ditargetkan pada tahun 2014 ditunda menjadi tahun 2017. Dua permasalahan utama yang dihadapi dalam produksi kedelai di Indonesia adalah: (a) areal tanam/panen kedelai tidak luas, dalam lima tahun terakhir (2010‒2014) hanya 550–661 ribu hektar, dan (b) produktivitasnya rendah yakni 1,35‒1,55 t/ha. Selain lahan sawah sebagai lahan optimal yang luasnya sekitar 8,1 juta hektar, jenis lahan lain yang ditargetkan untuk memperluas areal tanam kedelai adalah lahan suboptimal, diantaranya adalah lahan kering beriklim kering. Lahan kering beriklim kering adalah lahan kering yang total curah hujannya kurang dari 2.000 mm/tahun. Lahan ini umumnya tersebar pada wilayah yang bertipe iklim D dan E menurut klasifikasi iklim Oldeman, sehingga mempunyai bulan basah (curah hujan >200 mm/bulan) kurang dari tiga bulan hingga empat bulan, dan memiliki bulan kering (curah hujan <100 mm/bulan) sebanyak empat bulan hingga lebih dari enam bulan dalam setahunnya. Di Indonesia, lahan kering beriklim kering menduduki areal sangat luas, yakni sekitar 13,3 juta hektar. Dari luas total lahan tersebut, 7,8 juta hektar diantaranya potensial dapat digunakan untuk pertanian. Tanah yang umum dijumpai pada lahan kering beriklim kering di Indonesia adalah Alfisol, Vertisol, Mollisol, dan Entisol yang umumnya bereaksi netral hingga agak alkalis karena relatif kaya kation/basa. Pada lahan kering beriklim kering, tanaman yang banyak diusahakan petani adalah jagung, yang dimanfaatkan selain sebagai bahan pangan pokok masyarakat, juga sebagai sumber pendapatan. Selain jagung, komoditas pangan yang juga relatif banyak ditanam adalah kacang tanah dan kacang hijau. Meskipun demikian, dari segi tanah dan iklim, kedelai juga sangat berpeluang dikembangkan pada lahan kering beriklim kering, mengingat dari segi kesuburan tanah lahan kering di wilyah beriklim kering umumnya relatif subur, serta kedelai umur panennya 73−90 hari sehingga tidak banyak beda atau relatif sama dengan umur panen jagung maupun kacang tanah, serta relatif lebih sedikit membutuhkan air daripada jagung (kebutuhan air jagung selama pertumbuhannya sekitar 450−600 mm, dan kedelai sekitar 300−350 mm).

Permasalahan lahan kering bertanah Alfisol Pada wilayah lahan kering beriklim kering, jagung adalah komoditas tanaman pangan yang dominan diusahakan petani untuk bahan pangan pokok dan/atau untuk sumber pendapatan. Sehubungan dengan hal-hal yang telah disebutkan di atas, maka dalam mengembangkan tanaman kedelai pada wilayah lahan kering beriklim kering, maka kedelai harus dibudidayakan secara tumpangsari dengan jagung. Di wilayah ini, budidaya kedelai secara monokultur dipastikan akan sulit diterima petani sebab akan mengurangi areal dan produksi jagung. Dalam budidaya kedelai pada lahan kering beriklim kering secara tumpangsari dengan jagung, ada satu hal terkait yang perlu diperhatikan, yakni varietas kedelai yang akan diusahakan hendaknya memiliki satu atau lebih karakter sebagai berikut: genjah (umur panen <80 hari), toleran kekeringan, dan toleran naungan. Ketersediaan hara N, P, K, dan S, sebagai unsur hara yang relatif banyak dibutuhkan tanaman atau hara makro (termasuk jagung dan kedelai), umumnya beragam dari status sedang hingga rendah, oleh karena itu untuk menjamin pertumbuhan tanaman dan hasil panen yang memadai masih membutuhkan tambahan hara N, P, dan K.

Teknologi Budidaya Pada lahan kering beriklim kering bertanah Alfisol di Tuban, dengan penerapan teknologi budidaya (Tabel 1), pertanaman tumbuh cukup baik (Foto 1), dan diperoleh hasil biji kering jagung (varietas Pertiwi 3) dan biji kering kedelai (Dena 1) berturut-turut 1,65 t/ha dan 1,56 t/ha. Dengan teknologi budidaya tumpangsari tersebut penggunaan lahan menjadi lebih optimal, yang ditunjukkan oleh nilai Nisbah Kesetaraan Lahan (Land Equivalent Ratio) yang lebih besar dari 1,0; yaitu 1,19. Selain hasil panen dalam bentuk biji jagung dan kedelai, juga diperoleh hasil panen dalam bentuk biomas kering hasil samping tanaman kedelai (brangkasan) dan jagung (brangkasan+klobot+janggel) sebanyak berturut-turut 3,25 t dan 1,81 t/ha, yang dapat digunakan sebagai pakan ternak, diantaranya sapi sebagai ternak besar yang banyak dipelihara oleh petani/masyarakat wilayah lahan kering beriklim kering.


Gambar. Keragaan pertumbuhan tanaman tumpangsari baris ganda jagung (varietas Pertiwi 3) dengan Kedelai (Dena 1),
pada lahan kering iklim kering bertanah Alfisol di Tuban, musim hujan tahun 2015.

Subandi