Info Teknologi » Teknologi Perbaikan Klorosis pada Kacang Tanah di Tanah Alkalis

Di Jawa Tengah dan Jawa Timur, kacang tanah sebagian besar ditanam di lahan Alfisol dan Ultisol dengan kisaran pH 5,0−8,4 (Taufiq 2001). Pada pertanaman kacang tanah di Alfisol dengan pH tinggi/alkalis (>7,5), daun kacang tanah mengalami klorosis. Gejala klorosis kacang tanah diawali dengan memucatnya warna daun antara tulang daun muda, kemudian berubah menjadi kuning bahkan sampai putih (Gambar 1). Pada klorosis tingkat lanjut, pertumbuhan dan batang jadi terhambat yang berpengaruh terhadap perkembangan polong sehingga dapat menyebabkan penurunan hasil polong sebesar 40−60% (Harsono et al. 1998). Kendala utama budi daya tanaman kacang tanah di tanah alkalis adalah rendahnya kandungan bahan organik dan hara esensial seperti N, S, P, dan Fe. Penyebab utama klorosis diduga karena pH tinggi dan defisiensi Fe yang seringkali berasosiasi dengan defisiensi S (Taufiq dan Sudaryono 1998, Taufiq 2001). Upaya untuk menekan terjadinya klorosis dan meningkatkan produktivitas tanaman kacang tanah di lahan alkalis dapat dilakukan dengan pemupukan anorganik, pemberian pembenah tanah dan pupuk hayati serta teknik budi daya tumpang sari.

infotek-22092017

Gambar 1. Gejala klorosis kacang tanah di lapang. Lamongan, 2014.

Teknologi yang dapat dilakukan untuk menekan klorosis dan meningkatkan produksi tanaman kacang tanah di tanah alkalis yaitu:

(1) Aplikasi bubuk belerang sebesar 300−400 kg/ha dengan cara dicampur rata dengan tanah dan diberikan pada alur tanaman sebelum tanam. Serbuk belerang memiliki kadar 90−99% S, berwarna kuning, bersifat inert dan tidak mudah larut dalam air. Proses pengubahan S menjadi SO42- berlangsung lambat sehingga tidak mudah mengalami pencucian. Proses oksidasi S menjadi SO42- oleh mikroorganisme menghasilkan ion H+ yang dapat menyebabkan penurunan pH tanah (Scherer 2001). Pada percobaan di rumah kaca, pemberian belerang pada tanah dengan pH >8 dapat menekan klorosis dan meningkatkan pertumbuhan tajuk dan polong kacang tanah (Gambar 2).

infotek-22092017-12

Gambar 2. Tanaman kacang tanah pada tanah alkalis (pH >8) yang diberi bubuk belerang terlihat lebih hijau dan subur (gambar atas) dan menghasilkan polong lebih banyak (gambar bawah) dibandingkan kontrol. Rumah kaca Balitkabi, 2015.

(2) Pemupukan dengan pupuk anorganik urea sebanyak 50 kg/ha, SP36 100 kg/ha dan KCl 50 kg/ha dan disertai penambahan pupuk organik (pupuk kandang) sebanyak 2,5 ton/ha. Kombinasi pemupukan tersebut dapat meningkatkan produksi kacang tanah Varietas Tuban sebesar 60% dan Varietas Kancil sebesar 82% dibandingkan tanpa penambahan pupuk anorganik dan pemberian pupuk organik 10 t/ha (Taufiq et al. 2007).

(3) Penyemprotan larutan yang mengandung 0,5−1% FeSO4, 0,1% asam sitrat, 3% ammonium sulfat (ZA), 0,2% urea pada daun kacang tanah pada umur 30, 45, 60 hari dapat mempercepat pemulihan klorosis.

(4) Aplikasi bahan pengkelat sintetis Fe-EDDHA (iron ethylenediaminedio-hydroxyphenylacetate) yang mengkelat Fe3+ dan mengubah menjadi Fe tersedia bagi tanaman. Fe-EDDHA yang diaplikasikan ke tanah meningkatkan serapan Fe oleh tanaman, meningkatkan hasil sebesar 30% dan kandungan Fe jaringan tanaman hingga 50% (Schenkeveld et al. 2008). Namun keberhasilan penggunaan Fe-EDDHA dipengaruhi oleh stabilitasnya dalam mengkelat Fe dan stabilitas tersebut dapat dipertahankan pada pH di bawah 6,5. Pada pH di atas 6,5, Fe mudah ditukar oleh kation yang lain seperti Ca2+, Zn2+ dan Cu2+ kemudian mengalami pengendapan sehingga aplikasinya harus diulang (Pestana et al. 2003).

(5) Aplikasi Pseudomonas fluorescens, mikroba pengkelat Fe. Bakteri P. fluorescens merupakan salah satu bakteri pemacu tumbuh atau PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) yang dapat digunakan sebagai pelarut P (Rodriguez dan Fraga 1999) dan agens hayati pengendali penyakit tanaman seperti penyakit layu yang disebabkan oleh Fusarium (Soesanto et al. 2010). Pada kondisi Fe rendah, P. fluorescens menghasilkan senyawa siderophore yang berperan dalam pengkelatan Fe3+ dan mereduksinya menjadi bentuk yang dapat diserap oleh P. fluorescens sendiri dan juga oleh tanaman inang. Aplikasi P. fluorescens pada tanah dengan pH >7,5 dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil kacang tanah hingga 28% dibanding kontrol (Gambar 3). Aplikasi P. fluorescens dengan konsentrasi 109 cfu/mL pada tanah dengan pH >8 dapat meningkatkan Fe tersedia di tanah hingga 35% (Pratiwi et al. 2016).

infotek-22092017-3

Gambar 3. Pengaruh tiga strain P. fluorescens terhadap perkembangan polong kacang tanah. Gambar tanaman sebelah kiri pada masing-masing foto adalah tanaman non inokulasi sedangkan tanaman sebelah kanan diinokulasi dengan P. fluorescens. (Sumber Dey et al. 2004)

(6) Tumpangsari jagung dan kacang tanah dapat menekan kejadian klorosis pada kacang tanah (Gambar 4). Jagung berperan dalam menyediakan nutrisi Fe yang dibutuhkan kacang tanah melalui interaksi di daerah perakaran. Terdapat dua macam respon strategi tanaman dalam menghadapi defisiensi Fe. Tanaman kacang tanah tergolong dalam tipe strategi I sedangkan jagung tergolong dalam tipe strategi II. Tanaman dengan tipe strategi I merespon defisiensi Fe dengan cara meningkatkan aktivitas ferric reductase akar dan mengasamkan daerah perakaran melalui pelepasan proton dari akar. Tanaman tipe strategi II merespon defisiensi Fe dengan cara melepas phytosiderophore untuk mengkelat Fe di daerah perakaran dan mengubahnya menjadi bentuk yang tersedia bagi tanaman. Fe tersedia yang dihasilkan oleh perakaran jagung dapat dimanfaatkan oleh tanaman kacang tanah. Pada simbiosis legume dan rhizobium, Fe dibutuhkan oleh bakteroid untuk menyusun enzim penambat nitrogen yaitu enzim nitrogenase (Brear et al. 2013) sehingga ketersediaan Fe di tanah meningkatkan fiksasi nitrogen dan juga meningkatkan pembentukan klorofil daun pada kacang tanah.

infotek-22092017-4567

Gambar 4. Tanaman kacang tanah yang ditanam monokultur baik di lapang maupun di percobaan pot menunjukkan gejala klorosis yang lebih parah (Gambar A dan C) dibandingkan dengan kacang tanah yang ditanam tumpangsari dengan jagung (Gambar B dan D). (Sumber: Knörzer et al. 2009).

Herdina Pratiwi