Info Teknologi » Teknologi Produksi Ubi Kayu di Lahan Kering Alfisol

Ubi kayu merupakan sumber karbohidrat yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan pangan, pakan, dan bahan baku berbagai industri pangan dan non-pangan, termasuk untuk bahan bakar (fuel). Kenaikan jumlah penduduk, berkembangnya industri peternakan, dan industri lain berbahan baku ubi kayu menyebabkan peningkatan permintaan ubi kayu, namun produksi ubi kayu saat ini masih belum mencukupi kebutuhan tersebut. Oleh karena itu, pemerintah terus berupaya meningkatkan produksi ubi kayu, baik melalui peningkatan produktivitas maupun perluasan areal tanam. Peningkatan produktivitas masih berpeluang luas, karena usahatani yang dilakukan selama ini masih belum efektif, dan kebijakan bertanam ubi kayu sepenuhnya masih diserahkan kepada petani. Guna mendukung upaya peningkatan produksi ubi kayu, telah tersedia varietas unggul ubi kayu beserta teknologi pendukung untuk mencapai hasil yang tinggi. Ubi kayu dikenal sebagai tanaman yang beradaptasi luas sehingga dapat tumbuh di segala jenis tanah termasuk lahan kering Alfisol. Tanah Alfisol di Indonesia diperkirakan mencapai luas 15,5 juta hektar dan sangat potensial untuk pengembangan tanaman pertanian diantaranya untuk tanaman ubi kayu. Karakteristik lahan Alfisol Tanah Alfisol dicirikan dengan solum yang tebal yaitu 90–200 cm, pH sekitar 6,0–7,05. Kadar unsur hara umumnya tinggi, namun sangat ditentukan oleh bahan induknya. Kandungan bahan organik biasanya rendah, daya menahan air dan permeabilitas tergolong sedang. Tekstur bervariasi dari lempung sampai liat, konsistensi tanah gembur sampai teguh. Air pada tanah Alfisol kadang-kadang merupakan faktor pembatas. Meskipun kadar bahan organik tergolong rendah tetapi tanahnya gembur dan memiliki lapisan olah dalam, sehingga sangat menguntungkan untuk perkembangan akar ubi kayu dan bagus untuk pertumbuhan ubi kayu sehingga diharapkan terjadi peningkatan bobot umbi.
Hasil analisis tanah lahan kering Alfisol di Malang Selatan menunjukkan bahwa tanah bereaksi agak masam (6,06), kadar C-organik, N, K dan Ca pada kategori rendah yaitu berturut-turut 0,79%, 0,08 %, 0,32 me/100g, dan Ca 3,82 me/100g. Sedangkan kadar P2O5 tinggi yaitu 17,96 ppm. Lapisan olah tanah cukup dalam yaitu sekitar 50–80 cm. Teknologi produksi

Rakitan teknologi produksi ubi kayu di lahan Alfisol ini berdasarkan hasil penelitian tahun 2013 dan tahun 2014 di Kalipare Malang Selatan dengan susunan sebagai berikut:

  1. Varietas unggul ubi kayu yang digunakan adalah Malang 4, Adira 4 dan Litbang UK-2
  2. Tanah diolah intensif sampai dalam, kemudian dibuat guludan besar dengan jarak antar gulud 125 cm dan tinggi gulud 80 cm (Gambar 1)
  3. Bibit ubi kayu ditanam pada guludan dengan jarak 100 cm,
  4. Dosis pupuk 112,5 kg N + 108 kg P2O5 + 120 kg K2O/ha. Semua pupuk diberikan secara tugal pada saat tanaman berumur 2 minggu, kecuali pupuk N diberikan 2 kali yaitu 1/3 dosis pada umur 2 minggu dan 2/3 dosis pada saat berumur 2 bulan. Bila yang digunakan adalah pupuk majemuk (NPK), diberikan 2 kali pada umur tersebut diatas, masing-masing setengah dosis.
  5. Penyiangan dan pembumbunan dilakukan 2 kali yaitu pada umur 2 dan 4 bulan. Bila populasi gulma tinggi dapat dilakukan penyiangan 3 kali antara umur 1–4 bulan.
  6. Pewiwilan tunas dilakukan pada umur satu bulan dan disisakan 2 batang per pohon.


Gambar 1. Cara tanam ubi kayu menggunakan gulud besar.

Hasil ubi kayu dan komponen hasil

Teknologi produksi yang digunakan secara konsisten memberikan hasil umbi yang tinggi. Pada tahun 2013, rata-rata hasil umbi varietas Malang 4, Litbang UK-2, dan Adira 4 masing-masing 61,67 t/ha, 80,22 t/ha, dan 52,33 t/ha. Pada tahun 2014, rata-rata hasil umbi tertinggi dicapai oleh varietas Malang 4 (62,91 t/ha), diikuti varietas Litbang UK-2 (55,3 t/ha) dan Adira 4 (49,0 t/ha).


Gambar 2. Umbi varietas Malang 4 (kiri), Adira 4 (tengah), dan Litbang UK-2 (kanan). Analisis usahatani Analisis usahatani pada percobaan tahun 2014 menunjukkan bahwa biaya input untuk pembelian pupuk dan bibit ubi kayu sebesar Rp 1.723.000/ha. Biaya tenaga kerja untuk olah tanah, tanam, pemupukan dua kali, pewiwilan (pemangkasan) tunas dan dua kali penyiangan serta biaya panen dan transportasi ke pabrik mencapai Rp 14.319.625/ha, sehingga total biaya produksi mencapai Rp 16.042.625. Varietas Malang 4 yang memperoleh hasil umbi sebanyak 59,73 t/ha dan harga pada saat panen mencapai Rp 1.200, maka penerimaan yang diperoleh sebesar Rp 71.676.000 dengan keuntungan sebesar Rp 55.633.375 (B/C ratio 3,47). Dengan cara budidaya yang sama, varietas Litbang UK-2 dan Adira 4 masing-masing dapat mencapai hasil sebesar 55,3 t/ha dan 49,0 t/ha juga layak dikembangkan di daerah Malang Selatan karena dapat mencapai B/C ratio lebih dari 1 (Tabel 1 dan 2).

Berdasarkan hasil dan analisis usahatani serta nilai B/C ratio dapat disimpulkan bahwa: teknologi produksi disertai dengan penggunaan varietas unggul Malang 4 dapat memberikan hasil umbi dan keuntungan yang tinggi sehingga layak untuk dikembangkan di lahan kering Alfisol. Demikian juga varietas Litbang UK-2 dan Adira 4 juga berpotensi tinggi untuk dikembangkan di lahan kering Alfisol.

BSR