Info Teknologi » Teknologi Budidaya Kedelai

figur_1

Pupuk Hayati untuk Tanaman Kedelai di Lahan Kering Masam

Pengaruh macam inokulan pada jumlah bintil akar efektif dan hasil biji kering per tanaman telah dipelajari pada tanaman kedelai yang ditanam pada tanah masam di rumah kaca Balitkabi. Tanah diambil dari proponsi Lampung. Aplikasi multi isolat bakteri penambat N tahan kondisi masam (ILeTRIsoy-1, 2, 3 and 4) menghasilkan antara 34 – 46 bintil akar per tanaman, dan ternyata lebih tinggi dari jumlah bintil akar yang dihasilkan tanaman yang tidak diinokulasi sama sekali (2 bintil akar per tanaman), atau yang diberi 22,5 kg pupuk N per hektar saja (2 bintil akar per tanaman). Lebih lanjut, keempat multi-isolat ternyata lebih dominan dalam menghasilkan bintil akar dibanding inokulan komersial yang menghasilkan 25 bintil akar per tanaman. Di antara keempat multi-isolat, ILeTRIsoy-3 (yang terdiri atas 3 isolat tunggal tahan kondisi lahan masam) memberikan jumlah bintil akar efektif paling tinggi (46 bintil akar per tanaman), tiga multi-isolat yang lain: ILeTRIsoy-1, 2 dan 4 menghasilkan masing-masing 39, 37 dan 34 bintil akar (Fig. 1). Pola peningkatan hasil biji sama dengan pola peningkatan jumlah bintil akar efektifnya, kecuali untuk multi-isolat ILeTrisoy-3. Hasil biji per tanaman paling tinggi (4.9 g per tanaman ) dicapai tanaman yang diberi multi-isolat ILeTrisoy-4.

Figur 1. Jumlah bintil akar efektif per tanaman dan berat biji kering per tanaman  kedelai pada berbagai perlakuan macam inokulan.

Tanaman kedelai yang diberi dolomit bersama-sama dengan bahan organik Bokashi menghasilkan jumlah bintil akar efektif sebanyak 29 bintil, dan ternyata lebih tinggi dari tanaman yang tidak diberi pupuk yang menghasilkan 23 bintil. Aplikasi Dolomit saja, sebaliknya, tidak mempengaruhi jumlah bintil karena jumlah bintil akar yang dihasilkan sama dengan tanaman yang tidak dipupuk sama sekali (Fig. 2)

Aplikasi Dolomit secara nyata meningkatkan hasil biji per tanaman sebanyak 1,4 g dibanding hasil biji dari tanaman yang tidak dipupuk sama sekali (hasil biji 3,2 g per tanaman). Sedangkan aplikasi dolomit bersama-sama dengan pupuk organik Bokashi nyata meningkatkan hasil biji (Fig.2).

Figur 2. Jumlah bintil akar efektif dan berat biji kering (g) per tanaman pada beragam macam pupuk.

 

Protokol Pengelolaan Hara N, P, K untuk Tanaman Kedelai di Lahan Sawah setelah Padi

Serangkaian penelitian pengelolaan hara N, P dan K melalui metode “minus one element” telah dilakukan pada tanaman kedelai di lahan sawah pada musim kemarau setelah padi. Pada penelitian-penelitian ini dikumpulkan data ketersediaan hara N,P,K di dalam tanah sesaat sebelum tanam kedelai, efisiensi agronomi, hara N, P, K yang diserap tanaman kedelai, hasil biji dan efisiensi “recovery” hara N, P, K. Berdasarkan data yang telah dianalisis statistik, berhasil disusun protokol pengelolaan hara N, P, dan K sebagai dasar untuk menentukan dosis pupuk N, P, dan K sesuai dengan kebutuhan tanaman dan daya dukung lahan serta taraf hasil yang ingin dicapai. Perlu penelitian kalibrasi protokol PHSL kedelai di lapang untuk mendapatkan protokol siap dikembangkan untuk petani.

Mekanisasi untuk Penanganan Pascapanen Benih Kedelai

Pola tanam kedelai di lahan kering beriklim basah yang sangat tergantung pada pola curah hujan, mengakibatkan sebagian besar panen kedelai terjadi pada musim hujan. Tidak menentunya sinar matahari seringkali menyebabkan tertundanya pengeringan brangkasan dan polong hasil panen, sehingga mengakibatkan rendahnya mutu biji. Penundaan pengeringan kedelai brangkasan kadar air awal biji 35% basis basah (bb) selama empat hari dapat menyebabkan biji rusak sampai 48% karena busuk dan berjamur.

Sementara itu, penjualan jasa pengeringan kedelai brangkasan belum berkembang karena dinilai kurang menguntungkan dibandingkan dengan jasa perontokan kedelai. Dalam kondisi akses teknologi pengeringan yang kecil terutama bagi petani dengan luas pemilikan lahan sempit, cara pengeringan kedelai brangkasan dengan menggantung di rak bambu dapat mengurangi tingkat kerusakan biji dari 8,7 menjadi 1,6%. Kelemahan cara pengeringan ini yaitu kapasitas pengeringan hanya mencapai 32 kg/m2 dengan laju pengeringan sebesar 1,6% bk/jam. Oleh karena itu perlu ditingkatkan kinerjanya dengan rekayasa unit pemanas (energi pengering) yang dapat beroperasi keliling, melayani petani yang mengeringkan kedelai brangkasan.

Untuk mendukung pengembangan model mekanisasi sinergis tersebut, pada tahun 2007 telah direkayasa alat pengering tipe bak dengan konstruksi dari kayu, kapasitas 950 kg/jam dan B/C = 1,5. Pada tahun 2008 dilakukan perbaikan pada bagian plenum (penambahan komponen pembagi udara pengering) karena masih ada perbedaan laju pengeringan antara bak pengering bagian depan dengan bagian belakang (Gambar 1).

Prototipe alat pengering  kedelai

Gambar1. Prototipe alat pengering kedelai brangkasan tipe bak

Evaluasi kinerja alat menunjukkan bahwa untuk mengeringkan 900 kg kedelai brangkasan dari kadar air 44,0% bb hingga kadar air siap rontok (20,1% bb) diperlukan waktu 13 jam (kapasitas pengeringan rata-rata 70 kg/jam). Waktu pengeringan yang relatif lama ini disebabkan oleh kurang stabilnya kompor minyak tanah yang digunakan. Namun demikian pada tingkat harga alat Rp 22 juta/unit dan umur ekonomis lima tahun, alat pengering tipe bak yang disinergikan dengan unit jasa energi pengering masih cukup layak untuk pengeringan kedelai brangkasan yang akan dijadikan benih, dengan nilai B/C = 1,2 dan biaya pokok pengeringan sebesar Rp 878/kg kedelai brangkasan.