Info Teknologi » Teknologi Produksi Kedelai untuk Lahan Sawah, Lahan Kering Masam, dan Lahan Pasang Surut Tipe C dan D

Benih Kedelai

Pengendalian Hama dan Penyakit

Pengendalian hama dan penyakit sedapat mungkin menggunakan teknik budi daya, seperti penggunaan varietas tahan, sanitasi (membersihkan lahan dan sekitarnya), pemberian mulsa, pergiliran tanaman, dan tanam serentak.

1. Pengendalian Hama

  • Hama utama pada tanaman kedelai meliputi lalat bibit (Ophiomya phaseoli), ulat pemakan daun seperti ulat grayak (Spodoptera litura), ulat jengkal (Chrysodeixis chalcites), ulat Heliotis sp., ulat penggulung daun (Lamprosema indicata), pengisap polong (Riptortus linearis, Nezara viridula, dan Piezodurus hybneri), penggerek polong (Etiella zinckenella), penggerek batang (Melanagromyza sojae), kutu kebul (Bemisia sp.), dan kutu daun (Aphis glycines).
  • Pengendalian secara biologis antara lain dengan memanfaatkan musuh alami hama/penyakit seperti Trichogramma untuk penggerek polong Etiella spp. dan Helicoverpa armigera; Nuclear Polyhidrosis Virus (NPV) untuk ulat grayak Spodoptera litura (SlNPV) dan Helicoverpa armigera (HaNPV) untuk ulat buah, serta penggunaan feromon seks untuk ulat grayak.
  • Penggunaan pestisida dilakukan berdasarkan hasil pemantauan, hanya digunakan bila populasi hama telah melebihi ambang kendali. Pestisida dipilih sesuai dengan hama sasaran, dan dipilih yang terdaftar/diijinkan. Informasi mengenai ambang kend
    ali masing-masing hama serta pengendaliannya disajikan pada tabel 1 dan Tabel 2.

Tabel 1. Jenis hama penting, umur tanaman terserang dan tingkat bahaya yang ditimbulkan.

Jenis hama Umur tanaman (hari)

<10 11–30 31–50 51–70 >70

1. Ophiomya phaseoli +++ +
O. phaseoli
2. Melanagromyza sojae + +
3. M. dolichostigma +++ +
4. Agrotis spp. ++ +










5. Longitarsus suturellinus + + + +

6. Aphis glycines + ++ +
7. Bemisia tabaci +++ +++ ++ +
8. Phaedonia inclusa +++ +++ +++









9. Spodoptera litura +++ +++ ++
10. Chrysodeixis chalcites + ++ ++
11. Lamprosema indicata + + +
12. Helicoverpa sp. +++ +++









13. Etiella spp. ++ +++
14. Riptortus linearis +++ +++ ++
15. Nezara viridula +++ +++ ++
16. Piezodorus hybneri +++ +++ ++









+ = kehadirannya saat itu kurang membahayakan;
++ = kehadirannya saat itu membahayakan;
+++ = kehadirannya saat itu sangat membahayakan;
– = kemungkinan kehadirannya kecil.
Sumber: Tengkano dan Soehardjan (1985).

Tabel 2. Ambang kendali dan alternatif pengendalian hama utama pada tanaman kedelai.

Jenis hama Ambang kendali Alternatif pengendalian
Lalat bibit

Ophiomyiaphaseoli

Melanagromyzasojae M. dolichostigma

• 1 imago per 5 m baris atau 1 imago per 50 rumpun

• Tanam serempak, selisih waktu tanam tidak lebih dari 10 hari

• Rotasi tanaman bukan inang lalat kacang

• Tanam varietas toleran

• Mulsa 5–10 t/ha) untuk kedelai setelah padi sawah

• Perlakuan benih untuk daerah endemis (insektisida Carbosulfan)

• Populasi mencapai ambang kendali pada umur 7–10 hari disemprot insektisida untuk lalat bibit

• Populasi lalat kacang mencapai ambang kendali pada umur 10–50 hari disemprot insektisida

Pemakan daun

Chrysodeixis chalcites

Lamprosema indicata

Spodoptera litura

• Intensitas kerusakan baru sebesar 12,5% umur 20 HST dan lebih dari 20% pada tanam an umur lebih 20 HST

• Pada fase vegetatif, 10 ekor instar 3 per10 r
umpun

• Pada fase pembungaan 13 ekor instar-3 per 10 rumpun tanaman

• Pada fase pembentukan polong: 13 ekor instar-3 per 10 rumpun tanaman • Pada fase pengisian polong 26 ekor instar 3 per 10 tanaman

• Tanam serempak selisih waktu kurang dari 10 hari

• Pemantauan rutin dan pe musnahan telur dan ulat

• Penyemprotan insektisida setelah mencapai ambang kendali

• Penyemprotan NPV (dari 25 ulat sakit dilarutkan dalam 500 l air untuk satu hektar) • Untuk ulat grayak dapat dipakai feromonoid seks 6 perangkap per hektar

Pengisap daun

Thrips

Aphis sp. Bemisia sp.

• Gejala daun keriting pada kacang hijau • Populasi Aphis, Bemisia dan Thrip cukup tinggi

• Tanam serempak dengan selisih waktu kurang 10 hari

• Pemantauan rutin • Semprot insektisida

Kumbang kedelai Phaedonia inclusa

• Intensitas kerusakan daun lebih dari 12,5% • 2 ekor per 8 tanaman atau 1 ekor/4 tanaman

• Tanam serempak

• Pemantauan rutin; pungut bila menemukan hama

• Semprot insektisida pada saat ambang kendali

Pemakan polong Helicoverpa armigera

• Intensitas kerusakan daun mencapai lebih dari 2% • 2 ekor ulat per rumpun umur lebih dari 45 HST

• Tanam serempak dengan selisih waktu kurang 10 hari

• Pergiliran tanam

• Semprot dengan insektisida bila populasi mencapai ambang kendali

• Penyemprotan NPV (25 ulat yang sakit dilarutkan dalam 500 l air untuk satu hektar)

• Tanaman perangkap jagung 3 umur: genjah, sedang dan panjang • Lepas parasitoid Trichograma spp.

Penggerek polong

Etiella sp. Maruca spp.

• Intensitas kerusakan 2 ekor ulat per rumpun umur lebih dari 45 HST

• Tanam serempak dengan selisih waktu kurang 10 hari

• Pergiliran tanam

• Semprot dengan insektisida bila populasi mencapai ambang kendali • Pelepasan parasitoid Trichogramma spp

Pengisap polong

Nezara viridula

Piezodorus sp. Riptortus linearis

• Pemantauan dilakukan umur 42–70 HST

• Intensitas kerusakan >2% • 1 pasang imago per 20 rumpun tanaman

• Tanam serempak dengan selisih waktu kurang dari 10 hari

• Pergiliran tanam

• Semprot dengan insektisida bila populasi mencapai ambang kendali

• Penanaman tanam perang kap Sesbania rostrata



2. Pengendalian Penyakit

  • Penyakit utama pada kedelai adalah karat daun Phakopsora pachyrhizi, busuk batang, dan akar Schlerotium rolfsii dan berbagai penyakit yang disebabkan virus.
  • Penyakit karat daun dikendalikan dengan fungisida yang mengandung bahan aktif mancozeb.
  • Penyakit busuk batang dan akar dikendalikan menggunakan jamur antagonis Thrichoderma harzianum.
  • Untuk penyakit virus, dilakukan dengan mengendalikan vektornya (yaitu kutu) dengan insektisida deltametrin (seperti Decis 2.5 EC) dosis 1 ml/l air, dan nitroguanidin/imidakloprit (seperti Confidor) dosis 1 ml/l air.
  • Waktu pengendalian disesuaikan dengan kondisi di pertanaman, umumnya pada umur 45–50 hari.


Panen dan Pascapanen

  • Panen dilakukan apabila 95% polong pada batang utama telah berwarna kuning kecoklatan.
  • Panen dapat dimulai pada pukul 09.00 pagi, pada saat air embun sudah hilang.
  • Panen dilakukan dengan memotong pangkal batang dengan sabit. Hasil panenan ini segera dijemur beberapa hari kemudian dikupas dengan thresher atau pemukul (digeblok).
  • Butir biji dipisahkan dari kotoran/sisa kulit polong dan dijemur kembali hingga kadar air biji mencapai 10–12% saat disimpan.
  • Untuk keperluan benih, biji kedelai perlu dikeringkan lagi hingga kadar air mencapai 9–10%, kemudian disimpan dalam kantong plastik tebal atau dua lapis kantong plastik tipis.