Info Teknologi » Tumpangsari Padi Gogo dengan Kedelai (Turiman Pagole)

Turiman Pagole Model 1

Turiman Pagole Model 1

Pendahuluan

Produksi kedelai nasional tahun 2018 sebanyak 982.598 ton, dari luas tanam 680.373 ha atau produktivitas 1,44 t/ha (Kementan 2019). Kebutuhan kedelai untuk beragam penggunaan tahun 2015 dan tahun 2017 berturut-turut sebesar 2.683.782 ton dan 3.103.475 ton atau meningkat 7,25%/tahun (BPS 2018), yang berarti kebutuhan tahun 2018 sekitar 3.313.322 ton. Dengan demikian, pasokan kedelai dari produksi dalam negeri tahun 2018 defisit sekitar 2,33 juta ton. Riniarsi (2016) memperkirakan komoditas kedelai tahun 2020 diperkirakan defisit 1,91 juta ton.

Upaya peningkatan produksi kedelai menghadapi tantangan cukup berat, terutama karena luas tanam cenderung turun akibat kurang diminati. Penurunan minat tersebut karena harga jual yang sangat fluktuatif dan cenderung rendah, sehingga kurang meguntungkan. Upaya yang dapat ditempuh untuk perluasan areal panen kedelai adalah dengan memasukkan kedelai di sentra produksi padi gogo dalam pola tumpangsari.

Luas padi gogo (padi ladang) di Indonesia tahun 2018 mencapai 1.273.570 ha, meningkat 10% dari tahun 2017 (Kementan 2019). Sentra padi gogo berada di tujuh propinsi dengan luas 793.000 ha (Tabel 1). Empat dari tujuh sentra padi gogo tersebut juga merupakan sentra tanaman kedelai, yaitu Sumatera Utara, Lampung, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Bila tanaman kedelai dikembangkan pada areal padi gogo dalam pola tumpangsari, maka akan diperoleh tambahan luas tanam cukup signifikan. Oleh karena itu perlu diketahui teknik penanaman yang optimal untuk kedua komoditas tersebut dalam pola tumpangsari.

Tabel 1. Luas dan Produksi padi ladang di Indonesia tahun 2018.

No Provinsi Luas

(ha)

Luas

(%)

Produksi

(ton)

Produktivitas

(t/ha)

1 Sumatera Utara 155.000 12,18 575.000 3.71
2 Jawa Timur 146.000 11,47 349.000 2,39
3 Kalimantan Barat 132.000 10,37 233.000 1,77
4 Lampung 97.000 7,62 302,000 3,11
5 Sumatera Selatan 96.000 7,54 106.000 1,10
6 Nusa Tenggara Timur 91.000 7,15 207.000 2,27
7 Jawa Barat 76.000 5,97 404.000 5,32
Indonesia 1.273.570 4.178.567 3,28

Sumber data: Kementan (2019)

Pengujian Turiman Pagole

Pada bulan Oktober 2018 hingga Januari/Februari 2019 dilakukan pengujian empat model tanam dalam pola tumpangsari padi gogo dengan kedelai (Turiman Pagole) pada lahan sawah di IP2TP Kendalpayak, Malang. Lahan yang digunakan mempunyai pH 7,1, kadar C-organik 1,2% (sangat rendah), N-total 0,12% (sedang), P-tersedia Olsen 168 ppm P2O5 (sangat tinggi), K-dd 0,21 cmol+/kg (rendah, nilai kritis untuk kedelai). Varietas padi gogo yang digunakan adalah Inpago 10, sedangkan kedelai varietas Dena 1 (toleran naungan) dan Dega 1 (berumur genjah). Padi gogo dan kedelai ditanam pada waktu bersamaan. Model tanam yang diuji adalah sebagai berikut:

  1. Model 1: 6 baris padi gogo dengan 3 baris kedelai. Padi gogo ditanam dengan jarak tanam (20 cm x 10 cm) x 100 cm atau populasi 300.000 rumpun/ha, dosis pemupukan 200 kg/ha Urea + 350 kg/ha Phonska + 1 t/ha pupuk organik. Kedelai ditanam dengan jarak tanam 30 cm x 10 cm, 2 tanaman/rumpun atau populasi 300.000 tanaman/ha, tanpa pemupukan (Gambar 1).
  2. Model 2: 4 baris padi gogo dengan 3 baris kedelai. Padi gogo ditanam dengan jarak tanam (20 cm x 15 cm) x 120 cm atau populasi 148.000 rumpun/ha, dosis pemupukan 200 kg/ha Urea + 350 kg/ha Phonska + 1 t/ha pupuk organik. Kedelai ditanam dengan jarak tanam 30 cm x 10 cm, 2 tanaman/rumpun atau populasi 300.000 tanaman/ha, tanpa pemupukan (Gambar 1).
  3. Model 3: 4 baris padi gogo dengan 3 baris kedelai. Padi gogo ditanam dengan jarak tanam (20 cm x 15 cm) x 120 cm atau populasi 148.000 rumpun/ha, dosis pemupukan 200 kg/ha Urea + 350 kg/ha Phonska + 1 t/ha pupuk organik. Kedelai ditanam dengan jarak tanam 30 cm x 10 cm, 3 tanaman/rumpun atau populasi 500.000 tanaman/ha, dosis pemupukan 50 kg/ha Urea + 100 kg/ha SP36 + 50 kg/ha KCl + 1 t/ha pupuk organik (Gambar 1).
  4. Model 4: 3 baris padi gogo dengan 5 baris kedelai. Padi gogo ditanam dengan jarak tanam (20 cm x 15 cm) x 240 cm atau populasi 71.500 rumpun/ha, dosis pemupukan 200 kg/ha Urea + 350 kg/ha Phonska + 1 t/ha pupuk organik. Kedelai ditanam dengan jarak tanam 40 cm x 15 cm, 2 tanaman/rumpun atau populasi 238.000 tanaman/ha, dosis pemupukan 50 kg/ha Urea + 100 kg/ha SP36 + 50 kg/ha KCl + 1 t/ha pupuk organik (Gambar 1).
Gambar 1. Perlakuan empat model tanam pada Turiman Pagole. IP2TP Kendalpayak, MH 2018/2019.

Gambar 1. Perlakuan empat model tanam pada Turiman Pagole. IP2TP Kendalpayak, MH 2018/2019.

Intensitas Penggunaan Lahan (IPL)

Intensitas penggunaan lahan (IPL) merupakan indikator untuk menilai seberapa intensif suatu lahan diusahakan/digunakan, semakin tinggi nilainya berarti semakin intensif (Li et al. 2013). Berdasarkan nilai IPL, nilai IPL tertinggi terdapat pada Turiman Pagole dengan Model 3 dan terendah pada Model 4 (Tabel 2). Hal ini berarti, penggunaan lahan dalam satu musim tanam pada Model 3 lebih intensif dibandingkan model lainnya. Namun demikian, IPL yang tinggi tidak selalu memberikan hasil yang tinggi, seperti IPL pada M1 atau M2 vs M3 (Gambar 2). Hal ini karena persaingan dalam menggunakan sumberdaya lingkungan dalam pola tumpangsari selain terjadi antar komoditas, juga antar individu tanaman.

Tabel 2. Intensitas penggunaan lahan (IPL) pada Turiman Pagole. IP2TP Kendalpayak, MH 2018/2019

No Model Tanam IPL padi gogo dan Kedelai
padi Kedelai Jumlah
1 Model 1 (M1)  0,8  0,9  1,7
2 Model 2  (M2) 0,4 1,0 1,4
3 Model 3 (M3) 0,4 1,5 1,9
4 Model 4 (M4) 0,2 0,7 1,9
Gambar 2. Hubungan intensitas penggunaan lahan (IPL) dengan hasil kedelai dan padi gogo dalam pola tumpangsari. IP2TP Kendalpayak, MH 2018/2019 (M=model).

Gambar 2. Hubungan intensitas penggunaan lahan (IPL) dengan hasil kedelai dan padi gogo dalam pola tumpangsari. IP2TP Kendalpayak, MH 2018/2019 (M=model).

Keragaan Tanaman dan Hasil

Pertumbuhan kedelai saat berumur 79-81 hari pada semua model tanam tergolong baik, tetapi pertumbuhan tanaman padi kurang baik, terutama yang berdekatan dengan tanaman kedelai (Gambar 3). Tanaman padi menunjukkan gejala daun menguning, tepi dan ujung daun mengering. Berdasarkan gejala pada daun, terdapat indikasi tanaman padi mengalami kekurangan unsur hara K karena kandungan K tanah rendah.

Gambar 3. Keragaan padi gogo dan kedelai umur 79-81 hari pada empat model tanam. IP2TP Kendalpayak, MH 2018/2019.

Gambar 3. Keragaan padi gogo dan kedelai umur 79-81 hari pada empat model tanam. IP2TP Kendalpayak, MH 2018/2019.

Pada Turiman Pagole, hasil kedelai varietas Dega 1 lebih tinggi 25-87% dibanding Dena 1 (bergantung model tanam). Hasil kedelai tertinggi dari kedua varietas tersebut diperoleh pada Model 4, dan terendah pada Model 3 (Tabel 3). Hal ini karena populasi kedelai pada Model 4 lebih rendah dari model lainnya (sekitar 70% dari populasi monokultur atau IPL 0,7), dan tingkat kematian tanaman paling rendah yang ditunjukkan oleh populasi tanaman saat panen 95%. Hasil kedelai yang rendah pada Model 3 karena tingkat kematian tanaman tinggi akibat ditanam dengan populasi tinggi (sekitar 150% dari populasi monokultur atau IPL 1,5).

Tabel 3. Keragaan hasil kedelai dan padi gogo pada Turiman Pagole. IP2TP Kendalpayak, MH 2018/2019

Model Tanam Kedelai Padi gogo Total hasil

(t/ha setara padi)2)

Populasi

Tanaman

Panen

(%)1)

Hasil Biji k.a 12% (t/ha) Populasi

Tanaman

Panen

(%)1)

Hasil gabah

(t/ha)

Padi + Dega 1 padi + Dena 1
Dega 1 Dena 1 Rata-rata
Model 1 58,3 c 1,1 0,6 0,8 bc 71,1 b 3,2 a 4,8 4,1
Model 2 78,1 b 1,4 0,8 1,1 b 86,5 a 2,7 ab 4,7 3,9
Model 3 45,2 d 0,9 0,5 0,7 c 88,5 a 2,1 b 3,4 2,8
Model 4 94,5a 2,0 1,6 1,8 a 87,8 a 1,2 c 4,1 3,5

Keterangan: angka sekolom yang didampingi huruf sama berarti tidak berbeda nyata menurut uji BNT 5%;1)persentase populasi saat panen terhadap populasi saat tanam; 2)konversi hasil kedelai kedalam hasil padi berdasarkan harga, kedelai Rp8000/kg dan padi Rp5500/kg.

Hasil padi gogo tertinggi diperoleh pada Model 1 (3,2 t/ha gabah kering), dan terendah pada Model 4 (Tabel 3). Hal ini karena populasi tanaman padi pada Model 1 lebih banyak (sekitar 80% dari populasi monokultur), serta jumlah gabah isi/malai lebih banyak dan lebih bernas yang ditunjukkan oleh bobot gabah 10 tanaman lebih tinggi dibandingkan pada model lainnya. Pada Model 4, jumlah anakan produktif serta jumlah gabah isi lebih banyak dan lebih bernas dibandingkan model lainnya, tetapi populasi tanaman rendah (sekitar 20% dari populasi monokultur) sehingga hasil yang diperoleh rendah (Tabel 4).

Tabel 4. Tinggi tanaman dan komponen hasil padi gogo pada Turiman Pagole. IP2TP Kendalpayak, MH 2018/2019

Model Tanam Tinggi Tanaman

(cm)

Panjang malai

(cm)

Jumlah

anakan/rumpun

Jumlah

anakan produktif/rumpun

jumlah

gabah isi/malai

jumlah

gabah hampa/malai

Bobot

gabah 10 tanaman

k.a 12%

(g)

Model 1 118 26 11 9 123 37 265
Model 2 117 26 11 9 104 42 227
Model 3 113 25 10 9 91 37 239
Model 4 118 26 14 11 221 42 284

Proporsi dan populasi tanaman pada Turiman Pagole menentukan hasil masing-masing komoditas dan total hasil. Total hasil (padi+kedelai) tertinggi diperoleh pada Model 1, dimana proporsi padi dan kedelai berdasarkan luasan efektif adalah 60:40 dan berdasarkan nilai IPL adalah 0,9/0,8 (kedelai/padi), dengan hasil padi 3,2 t/ha dan kedelai 1,1 t/ha menggunakan varietas Dega 1. Total hasil padi dan kedelai (setara hasil padi) tertinggi diperoleh pada Model 1 dan Model 2 menggunakan kedelai varietas Dega 1 (Tabel 3). Hal ini memberikan implikasi bahwa pada daerah dimana padi gogo merupakan tanaman utama, maka kedelai berpeluang dimasukkan dalam pola tumpangsari Model 1 (IPL 1,7) dan Model 2 (IPL 1,4) menggunakan varietas Dega 1. Artinya intensitas penggunaan lahan pada Model 1 dan Model 2 berturut-turut 1,7 dan 1,4 kali lebih tinggi dari monokultur.

Model Turiman Pagole yang Optimal

Berdasarkan tingkat hasil yang diperoleh, model tanam pada Turiman Pagole yang optimal adalah Model 1 dan Model 2 menggunakan kedelai varietas Dega 1, dengan keuntungan masing-masing Rp9.086.500 dan Rp8.896.500/ha dan secara ekonomi layak (Tabel 5). Intensitas penggunaan lahan dengan Model 1 dan Model 2 berturut-turut 1,7 dan 1,4 kali lebih tinggi dari monokultur. Penggunaan varietas kedelai berumur genjah Dega 1 lebih dianjurkan karena produktivitas dan perolehan pendapatannya lebih tinggi dibandingkan menggunakan varietas Dena 1.

Tabel 5. analisis finansial pada Turiman Pagole

No Uraian Nilai Finansial
Model 1 Model 2 Model 3 Model 4
 1  Komponen Biaya(C)
 Saprodi (Rp/ha) 4.316.000  4.386.000  6.151.000  5.501.000
Tenaga Kerja (Rp/ha) 12.997.500  12.767.500 12.887.500 12.679.500
Jumlah (Rp/ha)  17.313.500  17.153.500 19.038.500 18.180.500
 2 Hasil (kg/ha) 
Kedelai Dega 1  1.100 1.400 900 2.000
Kedelai Dena 1 600 800 500 1.600
Padi 3.200 2.700 2.100 1.200
3 Penerimaan (Rp/ha)
Kedelai Dega 1 8.800.000 11.200.000 7.200.000 16.000.000
Kedelai Dega 2 4.800.000 6.400.000 4.000.000 12.800.000
Padi 17.600.000  14.850.000  11.550.000  6.600.000
 Jumlah (Rp/ha)
Padi +Kedelai Dega 1 26.400.000 26.050.000 18.750.000 22.600.000
Padi +Kedelai Dena 1 22.400.000 21.250.000 15.550.000 19.400.000
4 Keuntungan (Rp/ha)(B)
Padi + kedelai Dega 1 9.086.500 8.896.500 (288.500) 4.419.500
Padi + kedelai Dena 1 5.086.500 4.096.500 (3.488.500) 1.219.500
5 Nisbah B/C
Padi + kedelai Dega 1 0,5 0,5 (0,0) 0,2
Padi + kedelai Dena 1 0,3 0,2 (0,2) 0,1

Keterangan: harga kedelai kadar air 12% Rp8.000/kg, padi kadar air 12% Rp5.500/kg; nisbah B/C≥0,06 menguntungkan dan layak (berdasarkan tingkat suku bunga bank).

Implikasi dan Perkiraan Dampak

Model tanam pada Turiman Pagole menggunakan Model 1 dan Model 2 memberikan hasil padi masing-masing 3,2 t/ha dan 2,7 t/ha gabah kering. Produktivitas padi gogo monokultur pada daerah sentra di Sumatera Utara, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Lampung, Sumatera Selatan, dan Nusa Tenggara Timur adalah 1,77-3,71 t/ha, sedangkan di Jawa Barat 5,32 t/ha (rata-rata Indonesia 3,28 t/ha). Hal ini menunjukkan bahwa tanaman kedelai berpeluang dikembangkan di sentra-sentra padi gogo tersebut menggunakan model tanam 1 (Model 1) atau model tanam 2 (Model 2) karena dari aspek produktivitas padi gogo berada pada kisaran produktivitas pola monokultur di wilayah tersebut. Dengan masuknya kedelai dalam pola tanam padi gogo, maka akan mendapatkan tambahan hasil dari kedelai 1,1-1,4 t/ha (dengan varietas Dega 1).

Luas areal padi gogo pada tujuh sentra produksi tersebut mencapai 793.000 ha. Luas efektif kedelai pada Model 1 dan Model 2 masing-masing 40% dan 50%. Artinya, total tambahan luas tanam netto kedelai dari ketujuh wilayah tersebut mencapai 317.200-396.500 ha. Sumbangan terhadap produksi padi dan kedelai dengan penerapan Turiman Pagole Model 1 adalah 2,54 juta ton padi dan 872,3 ribu ton kedelai. Bila menerapkan Turiman Pagole Model 2, maka akan diperoleh produksi padi 2,14 juta ton dan kedelai 1,11 juta ton.

Apabila tanaman padi gogo lebih diutamakan, maka lebih disarankan menggunakan Turiman Pagole Model 1, yaitu: 6 baris padi gogo dengan jarak tanam 20 cm x 10 cm. Setiap 6 baris padi gogo diberi jarak 100 cm untuk ditanami 3 baris kedelai dengan jarak tanam 30 cm x 10 cm, 2 tanaman/rumpun. Pada Model 1 tersebut, populasi padi gogo adalah 300.000 rumpun/ha dan kedelai 300.000 tanaman/ha atau masing-masing 75% dan 90% dari populasi monokultur. Dosis pemupukan padi gogo 200 kg/ha Urea + 350 kg/ha Phonska + 1 t/ha pupuk organik. Tanaman kedelai pada percobaan ini tanpa pemupukan. Apabila diterapkan pada lahan yang tidak subur, maka sebaiknya kedelai dipupuk dengan 75 kg/ha Phonska dan 750 kg/ha pupuk organik. Pada lahan masam dengan pH 4,5-5,5 perlu disertai pemberian dolomit dosis 750-1000 kg/ha.

 

Abdullah Taufiq