Info Teknologi » Umur Panen Optimal untuk Mendapatkan Kadar Pati Tinggi pada Ubi Kayu

Penampilan umbi dari varietas yang ditanam di Pati tahun 2018

Penampilan umbi dari varietas yang ditanam di Pati tahun 2018

Proporsi pemanfaatan ubi kayu paling banyak adalah untuk bahan pangan (64%), diikuti untuk bahan baku industri sebesar 13%, ekspor 11%, dan 2% untuk pakan ternak (FAOSTAT 2009). Untuk keperluan konsumsi langsung (pangan olahan segar) diperlukan jenis ubi kayu yang tidak pahit, sedangkan ubi kayu jenis pahit digunakan untuk bahan baku gaplek, tepung, pati atau industri lainnya. Ubi kayu jenis tidak pahit bila kadar HCN < 50 ppm dan pahit bila > 50 ppm. Untuk bahan baku tepung diperlukan ubi kayu yang memiliki kadar bahan kering dan pati tinggi. Selain itu, warna umbi juga berpengaruh terhadap penggunaan ubi kayu sebagai bahan olahan segar (putih dan kuning) dan bahan baku tepung atau pati (putih).

Varietas unggul ubi kayu sangat penting untuk peningkatan produksi guna memenuhi kebutuhan baik konsumsi maupun industri. Potensi produktivitas varietas unggul bisa mencapai 60 t/ha bahkan lebih dibandingkan dengan rata-rata produktivitas ubi kayu nasional sekitar 22,9 t/ha pada tahun 2015.Disamping hasil umbi, kadar pati merupakan karakter ubi kayu yang penting terutama sebagai bahan baku tapioka. Saat ini, sebagian besar hasil panen ubi kayu dikirim ke pabrik tapioka, dengan salah satu tolok ukur penting yaitu kandungan pati. Penting untuk menentukan umur panen yang tepat sehingga diperoleh kadar pati ubi kayu yang tinggi. Menurut Wargiono et al. (2006) kadar pati ubi kayu tidak menurun meski panen ditunda beberapa bulan setelah fase kadar pati optimal, bahkan hasil pati meningkat karena bobot ubi cenderung meningkat dengan bertambahnya umur tanaman.

Umur panen ubi kayu sangat bervariasi, karena tanaman ini dapat tumbuh dalam waktu yang lama. Untuk tujuan produksi umbi, umur panen tanaman ubi dikelompokkan menjadi tiga, yaitu varietas berumur genjah, dipanen pada umur 7 – 9 bulan, varietas berumur sedang pada umur 8 – 11 bulan, dan varietas berumur dalam pada umur 10 – 12 bulan (Wargiono et al. 2006; Tonglum et al. 2001).

Kadar pati bervariasi di antara varietas ubi kayu. Varietas ubi kayu UJ 5 sebaiknya dipanen setelah berumur 9 – 10 bulan karena kandungan pati yang terkandung dalam umbi ubi kayu sudah maksimal, yaitu antara 19 – 30%  dan ketika panen umur 15-18 bulan kadar pati mencapai 24%(Hafsah 2003). Untuk mendapatkan bobot umbi segar yang lebih banyak umumnya ubi kayu dipanen setelah umur 12 bulan (Tonglum et al. 2011).

Berikut ini hasil penelitian mengenai kadar pati umbi pada dua umur panen yang berbeda. Penelitian dilakukan pada awal tahun 2018, di Desa Sidomukti, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, Jawa Tengah dengan menggunakan varietas Malang 4, Adira 4, Litbang UK 2, UJ 5, dan UK 1 Agritan. Ubi kayu ditanam dengan jarak tanam 1 m x 1 m, serta pupuk  135 kg N + 60 kg P2O5 + 30 K2O + 10 ton pupuk kandang per hektar.

ubikayu2 ubikayu1
Hubungan Umur panen dengan hasil umbi beberapa varietas ubi kayu  (A) dan dengan kadar pati beberapa varietas ubi kayu (B)

Hasil penelitian menunjukkan, hasil umbi hanya dipengaruhi oleh perbedaan varietas ubi kayu, sedangkan umur panen tidak berpengaruh nyata (Gambar 1 A).  Hasil umbi per hektar tidak menunjukkan perbedaan baik yang dipanen umur 7 bulan maupun 9 bulan.   Hasil umbi tertinggi dicapai oleh varietas UK 1 Agritan yaitu 24,9 t/ha (umur 7 bst) dan 19,3 t/ha (umur 9 bst). Varietas Adira 4 dan UJ 5 menunjukkan hasil umbi yang meningkat seiring dengan bertambahnya umur panen. Namun pada varietas Malang 4, Litbang UK 2, dan UK 1 Agritan justru mengalami penurunan hasil umbi.

Rata-rata hasil umbi segar pada kedua umur panen tidak menunjukkan perbedaan nyata (Gambar 1 A). Hal ini disebabkan oleh pertumbuhan tanaman yang kurang optimal akibat kekeringan di awal pertumbuhan, seperti yang disampaikan Santisopasri et al. (2001), tanaman ubi kayu yang mengalami kekeringan pada umur 6 bulan pertama setelah tanam akan mengalami penurunan hasil.  Kondisi curah hujan di daerah Pati  sangat sedikit mulai bulan April 2018 hingga Oktober 2018 (Gambar 2). Inilah salah satu kendala  yang menyebabkan hambatan pertumbuhan dan perkembangan umbi.

Curah hujan pada Januari 2017-Nopember 2018, di Kabupaten Pati

Curah hujan pada Januari 2017-Nopember 2018, di Kabupaten Pati

Hubungan Umur panen dengan hasil pati beberapa varietas ubi kayu. Pati 2018

Hubungan Umur panen dengan hasil pati beberapa varietas ubi kayu. Pati 2018

Kadar pati dipengaruhi oleh perbedaan varietas dan umur panen (Gambar 1B). Semakin lama umbi dipanen justru menurunkan kadar pati, rata-rata kadar pati pada umur 7 bulan (16,2%) dan pada umur panen 9 bulan sebesar 14,9%. Hal ini diduga disebabkan oleh kondisi lingkungan di lokasi penelitian yang dapat menurunkan kadar pati, yaitu pada saat menjelang panen curah hujan meningkat atau terjadi hujan  (Gambar 3).

Menurut Sriroth et al. (2001) hujan yang turun menjelang panen dan setelah tanaman mengalami periode stres kekeringan akan berpengaruh terhadap kadar pati. Penurunan kadar pati ubi kayu diduga akibat meningkatnya komponen-komponen non pati seperti selulosa, hemiselulosa, pektin dan lignin. Peningkatan komponen-komponen non pati tersebut disebabkan terjadinya degradasi komponen non pati dan penurunan kadar pati (Pantastico 1975).

Hasil pati per hektar dipengaruhi oleh varietas dan umur panen yang berbeda (Gambar 3).   Hasil pati tertinggi  pada varietas UK 1 Agritan. Meskipun UK 1 Agritan memiliki kadar pati yang lebih rendah dibandingkan UJ 5, namun karena hasil umbinya lebih tinggi dari UJ 5, maka UK 1 Agritan memiliki hasil pati yang paling tinggi.  Rata-rata hasil pati pada umur 7 bst (2,3 t/ha) lebih tinggi dibandingkan umur 9 bst (1,9 t/ha). Penurunan kadar pati pada umur panen yang lebih lama disebabkan karena faktor lingkungan (Gambar 2).  Selain peningkatan curah hujan saat menjelang panen, kadar pati juga dipengaruhi oleh nutrisi tanah. Nutrisi tanah yang tidak mencukupi kebutuhan tanaman akan menurunkan hasil dan kadar pati seperti yang dijelaskan Dwijoyoseputro (1980),kekurangan C/N tanaman akan menurunkan hasil produksi dan kadar pati.

Kondisi lingkungan pada saat panen mempengaruhi kadar pati  dan hasil umbi pada ubi kayu. Dari hasil penelitian menunjukkan kadar pati dipengaruhi oleh umur panen, semakin tua umbi dipanen (9  bulan) kadar pati semakin kecil dibandingkan saat dipanen umur 7 bulan.  Apabila ditujukan untuk memperoleh pati yang tinggi dapat disarankan untuk memanen ubi kayu saat berumur 7 bulan.  Varietas UK 1 Agritan berpeluang untuk dikembangkan karena hasil umbi dan hasil pati paling tinggi saat dipanen pada umur 7 bulan.

Sri Wahyuningsih