Info Teknologi ยป Upaya Memperpanjang Daya Simpan Benih Kedelai di UPBS Balitkabi

Tersedianya benih sumber kedelai yang berkualitas tinggi dan terjamin mutunya menjadi salah satu tujuan dari Unit Pengelolaan Benih Sumber (UPBS) Balitkabi. Sebagai unit pengelolaan dan penyedia benih sumber aneka kacang dan umbi untuk benih penjenis (BS) dan benih dasar (FS), UPBS Balitkabi terus meningkatkan produksi maupun kualitas benih yang dihasilkan. Salah satunya adalah penanganan terhadap calon benih/benih kedelai, karena penurunan vigor selama penyimpanan lebih cepat dibandingkan dengan benih komoditas lainnya.

Penurunan vigor benih kedelai ini mempengaruhi perkecambahan benih. Vigor yang rendah mengakibatkan pemunculan kecambah di lapangan rendah, terutama dalam kondisi tanah yang kurang ideal. Oleh karena itu, benih kedelai yang akan ditanam harus disimpan dalam lingkungan yang menguntungkan agar kualitas benih masih tinggi sampai akhir penyimpanan. Penurunan mutu dan kerusakan benih selama penyimpanan tidak dapat dihentikan, akan tetapi dapat diperlambat dengan mengatur kondisi penyimpanan.

Selain pengawalan yang ketat pada penentuan waktu panen, panen dan pasca panen, perlakuan benih sebelum disimpan dan kondisi ruang simpan sangat menentukan lama simpan benih kedelai. Beberapa upaya untuk memperpanjang daya simpan benih kedelai akan diuraikan di bawah ini.

Teknologi Penyimpanan Benih di UPBS Balitkabi

  1. Pengeringan polong dan biji calon benih. Polong yang masih menempel pada brangkasan segera dikeringkan hingga kadar air 15%. Pada kadar air tersebut, calon benih telah siap menerima deraan mekanik ketika perontokan biji dan tahan deraan suhu ketika penjemuran. Hal ini sangat bermanfaat untuk menekan terjadinya kerusakan kulit calon benih maupun benih. Kulit benih yang terluka akan menyebabkan terjadinya kebocoran benih sehingga berakibat menurunkan vigor dan viabilitas. Sebelum dan sesudah pasca panen final (sortasi benih), kadar air benih dipastikan sekitar 8 – 9% dengan cara menjemur agar tercapai kadar air tersebut. Penjemuran dilakukan pagi hari pukul 08.00 WIB (embun sudah hilang) dan harus diakhiri pada pukul 12.00 WIB. Alas terpal selalu digunakan pada saat penjemuran untuk menghindari deraan panas dari lantai jemur, karena dapat merusak embrio benih (Gambar 1).
    simpan simpan1
    Gambar 1. Penggunaan alas terpal sebagai alas penjemuran polong dan calon benih.

    Perlakuan calon benih yang sangat penting pada saat penjemuran adalah pendinginan sebelum dimasukkan ke dalam kantong kemasan. Pendinginan dengan cara diangin-anginkan di tempat teduh selama sekitar 15 – 30 menit sambil dibolak-balik untuk mengeluarkan energi panas matahari yang tersimpan. Setelah calon benih benar-benar dingin, baru bisa dimasukkan ke dalam kantong kemasan (Gambar 2).

    simapn2 simpan3
    Gambar 2. Pendinginan calon benih kedelai sebelum dimasukkan ke dalam kantong kemasan.
  2. Sortasi calon benih. Tujuan sortasi adalah membuang campuran varietas lain (CVL), kotoran yang terikut dan biji pecah. Kotoran dan biji pecah dapat menjadi media tumbuhnya mikroorganisme merugikan bagi benih. Sortasi calon benih dapat dilakukan menggunakan alat (grider dengan blower) maupun secara manual (Gambar 3).
    simapn4 simpan5 simapan6
    Gambar 3. Sortasi calon benih dengan alat maupun secara manual.
  3. Pengemasan. Pengemasan menggunakan plastik PE dengan tebal 0,8 mm, kemudian melapisinya dengan karung plastik di bagian luar untuk kemasan yang berkapasitas 25 kg. Kemasan dua lapis memiliki keunggulan kedap udara yang akan meminimalisir respirasi calon benih atau benih saat disimpan. Calon benih dan benih yang akan dikemas dipastikan mempunyai kadar air 8 โ€“ 9%. Setelah benih dimasukkan ke dalam plastik PE, ujung plastik diikat hingga kedap udara kemudian dimasukkan ke karung plastik berlogo UPBS lengkap dengan label informasi benih (Gambar 4).
    simapn7 simpan8 simpan9
    Gambar 4. Pengemasan, pelabelan, penyimpanan calon benih dan benih aneka kacang di UPBS Balitkabi.
  4. Penyimpanan di gudang. Benih/calon benih dengan kadar air 8-9% disimpan di gudang (cold storage) bersuhu 10 โ€“ 14oC dan kelembaban udara 40 โ€“ 60%. Kantong-kantong benih yang telah dikemas diletakkan pada rak-rak bertingkat di dalam gudang penyimpanan (Gambar 4). Dengan pengawalan pasca panen ketat, perlakuan benih serta gudang simpan seperti tersebut di atas, benih kedelai dapat disimpan dan dipertahankan mutunya minimal selama empat (4) tahun (Pengalaman penulis saat menggunakan benih hasil panen tahun 2007 yang disimpan di gudang benih, ditanam pada tahun 2011 di IP2TP Ngale, daya tumbuh benih sekitar 85%). Sesuai dengan yang dilaporkan Kartono (2004), jika kadar air awal benih 8% secara konstan, benih kedelai dapat disimpan di gudang biasa hingga tiga (3) tahun tanpa menurunkan daya kecambahnya. Dengan penyimpanan menggunakan kemasan kedap udara dan ruangan penyimpanan bersuhu <20oC dapat mempertahankan daya kecambah benih sampai lima (5) tahun.
  5. Pengujian vigor dan viabilitas (Standar ISTA 2017). Hanya benih berviabilitas >80% yang layak mendapat label dan disimpan di gudang simpan benih. Di UPBS Balitkabi, benih yang disimpan di gudang simpan hanya benih dengan daya kecambah >85%, sedangkan benih dengan daya kecambah <80% dibuatkan berita acara untuk dijual sebagai konsumsi (bukan benih).
  6. Pelabelan. Pelabelan ulang pertama dilakukan setelah penyimpanan 4 bulan dengan menguji kadar air, vigor dan viabilitas benih. Benih dengan daya tumbuh <80% dinyatakan tidak layak dan dikeluarkan dari gudang simpan untuk dijual sebagai konsumsi. Selanjutnya, pelabelan ulang dilakukan setiap 2 bulan sekali.
  7. Pemeliharaan dan pemantauan peralatan gudang simpan. Pemeliharaan dan kebersihan gudang, mesin pendingin, mesin pengatur kelembaban juga genset dilakukan secara periodik.

Dengan teknologi panen dan pasca panen yang tepat (penentuan saat panen, cara panen, pengeringan polong, perontokan biji, penjemuran biji, sortasi, pengemasan dan bahan kemasan, serta kondisi gudang simpan yang tepat) seperti dijelaskan di atas, benih kedelai dapat disimpan selama empat (4) tahun.

Didik Sucahyono