Info Teknologi » Variasi Warna Ulat Tanduk pada Tanaman Ubi Jalar

Ulat tanduk (Agrius convolvuli, Lepidoptera: Sphingidae) atau yang biasa disebut dengan ulat keket merupakan salah satu hama penting tanaman ubi jalar. Ulat tanduk menyerang daun ubi jalar terutama pada daun muda, namun saat populasi tinggi larva juga akan memakan daun tua hingga menyisakan hanya tangkai daun. Serangan hama dalam jumlah besar dapat mengakibatkan defoliasi total terhadap daun sehingga menurunkan kualitas dan kuantitas hasil produksi. Hama ulat tanduk di Indonesia belum banyak mendapatkan perhatian, status hama tersebut bukan berperan sebagai hama penting. Akan tetapi, ulat tanduk berperan penting di luar negeri seperti Afrika Selatan, Kenya dan pada tahun 2007 pernah terjadi ledakan populasi di Papua New Guinea. Pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa ulat tanduk memiliki beberapa variasi warna yaitu hijau muda, hijau dan cokelat. Ulat tanduk berwarna hijau muda (Gambar 1a) memiliki garis berwarna kuning pada bagian tepi dan spirakel berwarna oranye pada setiap segmen tubuhnya. Variasi warna larva yang kedua adalah tubuh larva berwarna hijau dengan corak garis berwarna hitam pada bagian tepi dan punggungnya, sedangkan warna spirakel adalah hitam-putih (Gambar 1b). Ulat tanduk dengan warna tubuh cokelat, memiliki garis berwarna putih melintang pada bagian tepi tubuhnya. Terdapat corak garis putih-hitam dan spirakel berwarna hitam pada setiap segmen tubuhnya (Gambar 1c). Meskipun memiliki warna tubuh yang bervariasi, ulat tanduk memiliki warna tanduk yang sama, yaitu berwarna oranye dengan bagian ujungnya berwarna hitam.


Gambar 1. Variasi warna larva Agrius convolvuli.Pupa ulat tanduk berwarna cokelat kemerahan mengkilap, ditandai dengan adanya tangkai yang menonjol dan melengkung ke bawah (Gambar 2). Pupa ulat tanduk berukuran kurang lebih 5 cm. Pupa ditemukan di tanah atau di bawah tanaman. Pupa sangat sensitif dan aktif, akan bergerak-gerak dengan keras jika terganggu, biasanya dijumpai di tanah basah berongga dengan kedalaman 10‒20 cm.


Gambar 2. Pupa Agrius convolvuli.

Sulistyo Dwi S.