Info Teknologi » Viabilitas Benih Kedelai dan Kacang Tanah Selama Masa Penyimpanan

yuniUpaya peningkatan produktivitas kedelai dan kacang tanah memerlukan dukungan varietas unggul dan benih bermutu, yang mencakup aspek genetik, fisiologis, dan fisik. Penggunaan benih varietas unggul menjadi persyaratan dalam upaya peningkatan produksi. Salah satu penyebab rendahnya produktivitas kedelai dan kacang tanah di sebagian wilayah Indonesia adalah penggunaan benih bermutu rendah. Benih yang mutunya rendah sangat riskan ditanam pada lingkungan yang kurang optimum, karena perkecambahan dan pertumbuhan kecambah yang tidak optimal mudah mengalami cekaman (Sadjad, 1993). Perkembangan teknologi perbenihan merupakan langkah awal dalam kegiatan budi daya tanaman. Salah satu kegiatan perbenihan yang cukup penting adalah pengujian daya berkecambah dan kekuatan tumbuh suatu benih.

Secara ideal semua benih harus memiliki kekuatan tumbuh yang tinggi, sehingga bila ditanam pada kondisi lapangan yang beraneka ragam akan tetap tumbuh sehat dan kuat serta berproduksi tinggi dengan kualitas baik. Sadjad (1993) menyatakan bahwa viabilitas benih adalah daya hidup benih yang dapat ditunjukkan melalui gejala metabolisme dan atau gejala pertumbuhan, selain itu daya kecambah juga merupakan tolak ukur parameter viabilitas potensial benih. Pada umumnya viabilitas benih diartikan sebagai kemampuan benih untuk tumbuh menjadi kecambah. Perkecambahan benih mempunyai hubungan erat dengan viabilitas benih dan jumlah benih yang berkecambah dari sekumpulan benih merupakan indeks dari viabilitas benih.

Daya berkecambah (viabilitas) dan kekuatan tumbuh (vigor) merupakan salah satu komponen dari mutu benih (selain, kemurnian dan kadar air). Viabilitas benih harus diikuti dengan vigor yang tinggi, Kedua nilai fisiologi ini menempatkan benih pada kemungkinan kemampuannya untuk tumbuh menjadi tanaman normal meskipun keadaan biofisik lapangan produksi sub-optimum atau sesudah benih melampaui suatu periode simpan yang lama (Tekrony dan Egli, 1991). Benih yang mempunyai viabilitas dan vigor yang baik akan berdampak pada produktivitas tanaman. Salah satu kriteria benih bervigor tinggi adalah apabila tidak terjadi perbedaan yang besar antara kinerja perkecambahan di lapangan dengan di laboratorium (Sadjad, 1995). Benih yang berhasil tumbuh dengan baik pada pengujian laboratorium diharapkan pula akan tumbuh baik di lapangan.

1. Viabilitas Benih Kedelai

Daya berkecambah benih kedelai pada tiga varietas yang diuji menunjukkan bahwa pada varietas Argomulyo memiliki daya berkecambah paling tinggi (95,5%), KAb (3,50%), dan BM (1,00%) benih yang berkecambah tidak normal sebanyak 3 biji dan hanya 1 biji yang mati. Kedelai varietas Panderman nilai daya berkecambah sebesar (82,4%), KAb (5,75%), dan BM (10,75%) dengan sebanyak 5 biji berkecambah abnormal dan benih yang mati sebanyak 10 biji. Pada varietas Wilis, nilai daya berkecambah sebesar (84,6%), KAb (7,00%), dan BM (8,30%). Hal ini berarti bahwa benih yang berkecambah tetapi tidak normal sebesar 7 biji dan benih mati sebanyak 8 biji. (Tabel 1).

Tabel 1. Viabilitas benih kedelai, 2014
Varietas  Asal Benih Umur Simpan
(bulan)
Kadar Air KN KAb BSTT BM
Argomulyo  Kendalpayak 12 8,8% 95,5% 3,50% 0 1,00%
Panderman  Ngale 8 9,2% 82,4% 5,75% 0 10,75%
Wilis  Ngale 8 9,9% 84,6% 7,00% 0 8,30%
Keterangan: KN = Kecambah Normal, KAb = Kecambah Abnormal, BSTT = Benih Segar Tidak Tumbuh, BM = Benih Mati.

Tabel 1 menunjukkan bahwa daya berkecambah benih kedelai dipengaruhi oleh kadar air benih. Kadar air terendah pada benih kedelai varietas Argomulyo (8,8%) menghasilkan daya berkecambah tertinggi (95,5%), kadar air varietas Panderman (9,2%) menghasilkan daya berkecambah sebesar (82,4%) dan kadar air varietas Wilis (9,9%) menghasilkan daya berkecambah sebesar (84,6%). Dari data tersebut dapat terlihat bahwa semakin tinggi kadar air, semakin rendah daya kecambahnya. Kadar air yang terlalu tinggi dapat menyebabkan naiknya aktivitas pernafasan yang dapat berakibat terkuras habisnya bahan cadangan makanan dalam benih (Pramana, 2012). Selain itu, faktor yang mempengaruhi daya berkecambah pada benih kedelai varietas Argomulyo adalah daya simpannya paling lama. Varietas Argomulyo merupakan kedelai berbiji besar, sehingga cadangan makanan yang terkandung dalam benih juga lebih besar daripada varietas wilis. Benih tanaman dengan ukuran yang lebih besar mempunyai banyak cadangan makanan daripada benih berukuran kecil, sehingga kemampuan berkecambahnya juga lebih tinggi, karena adanya perubahan energi yang besar (Samuel et al. 2012).

2. Viabilitas benih kacang tanah

Tabel 2 menunjukkan daya berkecambah benih kacang tanah berkisar antara 93,00%–96,75%. Benih varietas Kancil daya berkecambah sebesar 96,00% dengan kadar air sebesar 5,50%, dengan jumlah kecambah yang tidak normal dan benih mati sebanyak 2 biji. Benih varietas Hypoma 1 memiliki daya berkecambah sebesar 93,00% dan kadar air sebesar 6,50% dengan jumlah benih yang berkecambah tidak normal sebanyak 4 biji, benih sehat tidak tumbuh 1 biji dan benih mati 1 biji. Pada varietas Bison, daya berkecambah sebesar 96,75% dengan kadar air sebesar (6,20%), jumlah benih yang berkecambah tidak normal sebanyak 3 biji, dan benih mati sebanyak 1 biji. Viabilitas benih kacang tanah yang paling tinggi pada varietas Kancil dan Bison.

Tabel 2. Viabilitas benih kacang tanah, 2014.
Varietas Asal benih Umur simpan (bulan) Kadar air KN KAb BSTT BM
Kancil  Muneng  6  5,50%  96,00%  2,00%  0  2,00%
Hypoma 1  Muneng  6  6,50%  93,00%  4,50%  1,25%  1,25%
Bison  Muneng  7  6,20%  96,75%  3,00%  0  0,25%
Keterangan: KN = Kecambah Normal, KAb = Kecambah Abnormal, BSTT = Benih Segar Tidak Tumbuh, BM = Benih Mati.

Faktor-faktor yang mempengaruhi viabilitas benih kedelai maupun benih kacang tanah selama penyimpanan dibagi menjadi faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal mencakup sifat genetik, daya tumbuh dan vigor, kondisi kulit dan kadar air benih awal. Faktor eksternal meliputi kemasan benih, komposisi gas, suhu, dan kelembaban ruang simpan (Copeland dan Donald, 1985).

Dari hasil pengamatan dapat terlihat bahwa viabilitas benih yang tinggi baik pada benih kedelai maupun benih kacang tanah dipengaruhi oleh kadar air. Kadar air yang rendah selama masa penyimpanan memiliki daya kecambah paling tinggi.

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa viabilitas paling baik pada kedelai varietas Argomulyo dan kacang tanah varietas Kancil. Faktor internal (kadar air dan daya tumbuh) merupakan faktor yang mempengaruhi viabilitas kedua komoditas ini.

Sri Wahyuningsih