Info Teknologi » Vima 2: Varietas Baru Kacang Hijau, Alternatif untuk Mengatasi Lahan Bera

Kacang hijau di Indonesia menempati urutan ketiga terpenting sebagai tanaman pangan legum, setelah kedelai dan kacang tanah. Komoditas kacang hijau memiliki beberapa kelebihan dibandingkan tanaman pangan lainnya, yaitu berumur genjah (55–65 hari), toleran kekeringan, dan dapat ditanam pada daerah yang kurang subur sehingga menjadikan komoditas tersebut potensial untuk dikembangkan di lahan-lahan sub optimal. Produk terbesar hasil olahan kacang hijau di pasar berupa taoge (kecambah), bubur, makanan bayi, industri minuman, kue, bahan campuran soun, dan tepung hunkue. Dengan potensi tersebut, kacang hijau dapat mengisi kekurangan protein, perbaikan gizi, dan sekaligus menaikkan pendapatan petani. Untuk memenuhi kebutuhan kacang hijau dalam negeri, hingga saat ini masih tergantung pada kacang hijau impor. Dilaporkan bahwa Indonesia pada periode lima tahun terakhir mengekspor kacang hijau sebanyak 24.019 ton, sedangkan impor sebanyak 42.655 ton. Peluang untuk meningkatkan produksi kacang hijau nasional masih terbuka yaitu dengan memanfaatkan lahan-lahan bera setelah tanaman padi pada musim kemarau. Letak Indonesia secara geografis sangat cocok untuk pengembangan kacang hijau. Kacang hijau dengan karakteristik umur genjah dan hasil tinggi, menjadikan komoditas tersebut potensial untuk dikembangkan baik di lahan sawah maupun di lahan kering. Pada lahan kering, kacang hijau biasa ditanam sesudah padi gogo atau jagung. Peran kacang hijau sebagai komponen pola tanam cukup penting, dan ditanam paling akhir dari suatu pola tanam sehingga sifat umur genjah dan tahan kekeringan sangat penting. Pada daerah-daerah dengan keterbatasan tenaga kerja, maka varietas kacang hijau yang memiliki karakteristik masak serempak dan hasil tinggi menjadi sangat penting. Di lahan sawah, kacang hijau juga ditanam terakhir, bahkan sangat mungkin ditanam pada lahan sawah bekas padi yang diberokan, karena tidak adanya pengairan, sehingga karakteristik tahan kering dan masak serempak merupakan dua karakter yang harus dimiliki oleh suatu varietas. Vima 2, varietas baru kacang hijau yang dilepas pada tahun 2014 memiliki karakter umur genjah (56 hari), masak serempak dan hasil tinggi (2,44 t/ha). Varietas ini sangat cocok dikembangkan di daerah dengan pengairan yang terbatas, yaitu lahan-lahan yang dibiarkan bera setelah pertanaman padi. Percobaan telah dilakukan di berbagai lokasi seperti di Gresik, Lamongan, Madiun, dan Demak. Dengan menanam varietas Vima 2, petani dapat memperoleh hasil antara 1,75−2 t/ha, dengan tanpa pengairan selama pertumbuhan tanaman. Budidaya kacang hijau di lahan bekas pertanaman padi dilakukan paling lambat seminggu setelah padi dipanen. Jerami padi dibabat hingga pangkal batang, kemudian segera ditugal dan ditanami dengan jarak 40 x 10 cm, dengan harapan masih ada sisa air tanah yang cukup untuk perkecambahan tanaman, tetapi apabila lahan terlalu kering, maka benih kacang hijau direndam 2−3 jam pada malam hari kemudian ditiriskan dan ditanam pada keesokan paginya. Setelah tanam, jerami yang dihamparkan di lahan digunakan sebagai mulsa untuk menghambat penguapan dan pertumbuhan gulma, serta mengurangi resiko serangan lalat bibit.


Keragaan pertanaman Vima 2 pada MK 2014 di Madiun. Hal lain yang perlu menjadi pertimbangan adalah adanya serangan hama penyakit pada musim kemarau. Serangan hama thrips pada kacang hijau merupakan faktor pembatas produksi, dimana hama ini menyerang baik pada fase vegetatif maupun generatif. Pada fase vegetatif, serangan hama thrips menyebabkan daun keriting dan tanaman menjadi kerdil, sedangkan pada fase generatif, serangan menyebabkan kerontokan bunga sehingga gagal membentuk polong. Serangan yang parah dapat menyebabkan gagal panen/puso. Dengan menanam Vima 2, maka masih besar harapan untuk mendapatkan hasil panen, karena varietas ini terindikasi toleran terhadap serangan hama thrips. Dengan demikian lahan yang tadinya dibiarkan bera tanpa menghasilkan sesuatu, dengan ditanami kacang hijau akan diperoleh hasil paling sedikit satu ton/ha. Dengan asumsi harga kacang hijau Rp12.000,-/kg, maka petani akan memperoleh penghasilan Rp12,000,000, dalam waktu kurang dari dua bulan. Cukup menggairahkan dan layak dicoba.

RI