Liputan Media » [TRUBUS] Duet Maut Tanah Masam

520-maret-2013-55Generasi terbaru kacangtanah. Produktif, tahan penyakit, dan toleran tanah masam.

Perkenalkan dua calon kacangtanah Arachis hypogaea unggul baru hasil rakitan periset di Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (Balitkabi), Prof Dr Astanto Kasno. Keduanya belum bernama, masih berupa galur yang menandai urutan penelitian, yakni galur harapan 3 (GH-3) dan galur harapan      4 (GH-4). Namun, lihatlah keandalan mereka. Produktivitas keduanya bukan basa-basi. Potensi hasil  GH-3 mencapai 2,5 ton per ha per musim tanam, GH-4 sebesar 2,6 ton.

Itu jauh melampaui rata-rata produksi nasional yang hanya 1,3 ton per ha. Potensi itu juga mengungguli 2 varietas terdahulu yang menjadi pembanding, yaitu jerapah (1,94 ton) dan talam 1 (2,13 ton). Yang disebut terakhir juga kacangtanah unggul dari Balitkabi karena tahan penyakit layu bakteri, berproduksi tinggi, toleran di tanah asa, dan kualitas polong sesuai untuk pasar lokal (baca Trubus edisi April 2012, Kacang Jagoan Antilodoh).

Keduanya tidak hanya produktif, tapi juga toleran lahan masam. Saat uji multilokasi, keduanya tumbuh baik di tanah ber-pH kurang dari 5. Bandingkan dengan keasaman tanah di sentra kacangtanah pulau Jawa, yang berkisar 6—6,5. Sudah begitu, kedua varietas itu juga mampu bertahan di bawah cekaman kekeringan maupun serbuan layu bakteri. “Saat tanaman di sekitarnya terkena layu bakteri, kedua kacang baru itu tetap berproduksi,” kata Astanto Kasno.

Prof Dr Astanto Kasno, perakit kacangtanah galur baru

Prof Dr Astanto Kasno, perakit kacangtanah galur baru

Empat tahun

Kedua varietas itu merupakan hasil persilangan kacangtanah varietas gajah sebagai induk betina dengan varietas ICGV 92088 sebagai tetua jantan. “Varietas gajah adaptif, tahan layu bakteri, tapi rentan terhadap penyakit daun. Adapun ICGV 92088 tahan penyakit daun seperti karat dan bercak daun, tetapi rentan penyakit layu,” tutur Astanto.

Astanto memulai persilangan pada 2006. Pengembangan galur hasil persilangan dilakukan dengan skema seleksi pedigri atau silsilah. Seleksi galur  dilakukan di laboratorium dengan cekaman pH rendah—berkisar 4. Kemudian ia menyeleksi dan memperbanyak galur terpilih di lahan kering masam di Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Tahapan itu berlangsung sampai 2010 alias menghabiskan waktu 4 tahun.

Pada 2011, Astanto memulai uji daya hasil di 8 lokasi: Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan, Rumbia (Lampung Tengah), Rejobinangun (Lampung Timur), Sukadana (Lampung Timur), dan Sungkai Utara (Lampung Utara). “Rata-rata pH tanah lokasi uji kurang dari 5,” tutur Astanto. Akhirnya, dari 50 galur yang diseleksi, terpilih GH-3 dan GH-4 yang akan dilepas akhir 2013.

Selain produktif dan tahan lahan kering masam, GH-3 dan GH-4 mewarisi gabungan sifat kedua induknya, yaitu tahan layu bakteri dan karat daun. Layu bakteri, penyakit utama kacangtanah, dipicu serangan bakteri Ralstonia solanacearum. Menurut Prof Dr Nasir Saleh, ahli hama dan penyakit di Balitkabi, layu bakteri dapat menyerang kacangtanah di semua fase pertumbuhan.

Jika serangan terjadi ketika tanaman sudah membentuk polong alias umur 40—45 hari pascatanam, “Kegagalan panen bisa mencapai 50%,” kata Prof Nasir. Lebih mengerikan lagi serangan terhadap tanaman muda yang belum membentuk polong. Petani bisa rugi 100%. Daun tanaman terserang lodoh seperti tersiram air panas. Sementara serangan karat daun yang disebabkan oleh cendawan Puccinia arachidis menurut Astanto Kasno mampu menurunkan hasil hingga 35%.

Biji dua

Mengapa Balitkabi meriset kacangtanah yang toleran kekeringan dan tanah masam? Berdasarkan Atlas Sumberdaya Tanah Eksplorasi Indonesia, dari sekitar 148-juta ha lahan kering di Indonesia, 102,8-juta ha (69,4%) berupa tanah masam. Lahan yang sesuai untuk kawasan budidaya pertanian seluas 55,8-juta ha, sebagian besar terdapat di dataran rendah beriklim basah.  Menurut Dr Achmad Rahman MSc, mantan periset Balai Penelitian Tanah yang kini menjabat Atase Pertanian Kedutaan Besar Indonesia di Amerika Serikat, tanah masam biasanya terbentuk dari hasil pelapukan organisme hidup seperti pohon maupun serasah daun. Itu berbeda dengan tanah di Pulau Jawa, yang cenderung memiliki pH mendekati netral lantaran terbentuk dari pasir silika hasil aktivitas vulkanik.

Hasil penelitian Anny Mulyani dari Balai Penelitian Tanah, Bogor, lahan kering dapat dibedakan menjadi lahan kering masam dan nonmasam. Lahan kering masam bila pH tanah kurang dari 5 dan kejenuhan basa kurang dari 50%. Di Indonesia, penyebaran lahan kering masam cukup luas, terutama di wilayah beriklim basah seperti Sumatera, Kalimantan, dan Papua. “Kedua galur harapan itu cocok di lahan kering masam yang belum tergarap,” kata Astanto.

Karakter GH-3 dan GH-4 merupakan kacangtanah tipe spanish alias kacang tanah dengan 2 biji per polong. “Tipe itu cocok untuk kacang garing,” kata  Astanto. Beragam keunggulan dua kacang tanah baru itu tentu dinanti para petani maupun penyuka kacangtanah di tanahair. Rencananya, akhir 2013 mendatang Balitkabi akan melepas GH-3 dan GH-4 dengan nama Talam 2 dan Talam 3. Talam merupakan akronim dari tahan lahan masam. (Bondan Setyawan)