Liputan Media » Dukung Swasembada Pangan, Badan Litbang Pertanian Gelar Teknologi Biodetas

swasembada_pangan

FAJARONLINE.COM, MAROS — Guna mendukung upaya peningkatan produksi untuk pencapaian swasembada kedelai, Badan Litbang Pertanian melalui Balitkabi bekerja sama dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sulsel pada musim tanam 2017 melakukan gelar teknologi biodetas di Dusun Tombolo, Desa Tompobulu Kecamatan Tompobulu, Sabtu, 15 Juli.

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan (Puslitbangtan), Andriko Noto Susanto, mengatakan bahwa pemerintah berupaya meningkatkan produksi kedelai nasional dengan sasaran mencapai swasembada pada tahun 2020. “Tadinya direncanakan selesai 2020, akan tetapi ditargetkan bisa selesai 2018,” katanya.

Guna mencapai swasembada, luas panen kedelai yang kini baru mencapai 697 ribu ha dengan produktivitas 1,57 ton per hektare harus diperluas hingga mencapai 2 juta hektare dengan produktivitas 1,70 ton per hektare.

Di Indonesia untuk perluasan areal panen kedelai tersedia lahan sawah tadah hujan 3,7 juta ha dan 263 ha di antaranya berada di Provinsi Sulsel.

Bahkan di Sulsel, Maros merupakan salah satu kabupaten yang mempunyai potensi besar untuk pengembangan kedelai pada sawah tadah hujan. Di mana luas lahan sawahnya sekitar 6.400 ha yang biasa ditanami padi sekali karena masalah air. Sehingga lahan itu bisa dimanfaatkan untuk pengembangan palawija yakni kedelai.

Lebih lanjut, kata dia, dalam rangka desiminasi teknologi budidaya kedelai dilahan sawah tadah hujan mendukung upaya peningkatan produksi untuk pencapaian swasembada, Badan Litbang Pertanian melalui Balitkabi bekerjasama dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sulsel pada musim tanam 2017 melakukan gelar teknologi biodetas di Kecamatan Tompobulu.

Dia mengatakan pada temu lapang teknologi biodetas, selain mempromosikan varietas unggul juga untuk perbaikan teknik budidaya.

“Tujuan gelar budidaya kedelai di sawah tadah hujan Tompobulu seluas 50 ha ini untuk mengembangkan teknologi biodetas yakni budidaya kedelai di sawah tadah hujan yang dapat mengurangi kebutuhan pupuk kimia dan pestisida dengan hasil 3 ton per ha,” katanya.

Selain itu juga untuk memperkenalkan beberapa varietas unggul baru kedelai kepada petani. “Supaya varietas tersebut bisa segera berkembang di masyarakat,” katanya.

Dia mengatakan, hasil panen kedelai dari kegiatan ini nantinya akan dijadikan benih. “Jadi kami berharap benih yang kita hasilkan nantinya ini bisa digunakan untuk mendukung swasembada kedelai 2017- 2018,” kata dia.

Pada kegiatan ini luas areal sawahnya sekitar 50 ha. Kepala Badan Litbang Pertanian, Muh Syakir mengatakan kegiatan ini baru langkah awal untuk swasembada kedelai. Menurutnya uji coba ini dilakukan pada sawah tadah hujan dan sawah kering yang juga tahan naungan.

“Karena bagaimanapun juga lahan banyak tersedia lahan kering dan dibawah naungan. Oleh karena itu varietas yang mendorong adalah varietas yang memiliki input teknologi,”katanya

Sedangkan Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Sumarjo Gatot Irianto mengatakan untuk lokasi pihaknya sudah memetakan sumbernya dimana. “Lokasinya ditanam dimana sudah kita petakan,” katanya.

Diakuinya swasembada pangan dimulai 2018 dengan mulai tanam Oktober. Pasca panen petani dibantu peralatan panen dan untuk sistem pemasarannya nanti akan diserap oleh pemerintah.

Dalam kegiatan ini, hadir Wakil Bupati Maros, HA Harmil Mattotorang, Kadis Pertanian dan Tanaman Pangan, M Nurdin, Komandan Kodim 1422 Maros Letkol Kav Mardi Ambar, serta sejumlah kepala desa, camat, dan petani. (rin)

Author : Indra

Sumber