Liputan Media » [P I L A R] Inovasi Teknologi Akabi Mendukung Kedaulatan Pangan

pilar-43-1eDi Dunia, posisi Indonesia dalam komoditas aneka kacangan seperti kedelai, kacang tanah dan kacang hijau, bukanlah pelaku utama. Amerika Serikat, India, dan China produsen utama ketiga komoditas itu. Kontribusi Indonesia amat kecil, hanya 0,3% dari produksi dunia. Volume impor ketiga komoditas kacangan ini juga cenderung meningkat.

Salah satu tantangan yang dihadapi dalam pengembangan komoditas aneka kacang dan umbi (Akabi) antara lain adalah kesenjangan produktivitas potensial. Untuk itu diperlukan strategi pemanfaatan lahan suboptimal, perbaikan teknologi pascapanen, diversifikasi pangan, perubahan iklim global, dan persaingan komoditas akabi di pasar internasional.

Puslitbang Tanaman Pangan menyelenggarakan Seminar Hasil penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi pada 26 Juli 2017 di Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi) Malang, dengan tema “Inovasi Teknologi akabi Siap Mendukung Tercapainya Swasembada dan Kedaulatan Pangan”.

Seminar yang menghadirkan pembicara utama Dr. Bayu Krisnamurthi, mantan Wakil MEnteri Pertanian dan Wakil Menteri Perdagangan pemerintahan Presiden Susislo Bambang Yudhoyono (SBY) ini membahas Tantangan dan Peluang Agribisnis Tanaman Akabi. Prof. Dr. Irsal Las dari Balai Besar Sumberdaya Lahan Pertanian-Badan Litbang Pertanian membahas tentang Kualitas Lahan Pertanian Indonesia dan implikasinya bagi Pengembangan Tanaman Akabi.

Sementara Kepala Balitkabi Dr. Joko Susilo Utomo melaunching 5 varietas unggul baru (VUB) Kedelai (Dega 1, Deja 1, Deja 2, Detap 1, dan Devon 2), 2 varietas unggul baru (VUB) Kacang Tanah (Tala 1 dan Tala 2), dan 2 varietas unggul baru (VUB) Kacang Hijau (Vima 4 dan Vima 5), serta INkubator Teknologi dengan hilirisasi produk cake tape dengan Roti Boss, dengan penanda tanganan (MoU) dengan pihak Roti Boss. Hingga sekarang, Balitkabi telah melepas sebanyak 89 varietas unggul kedelai, 44 varietas kacang tanah, dan 35 varietas kacang hijau.

Event ini sangat relevan dengan upaya pengembangan tanaman Akabi sebagai peluang usaha yang menjanjikan di tengah kecenderungan menurunnya produksi tanaman akabi. Sebagaimana yang diharapkan oleh Kepala Badan Litbang Pertanian Dr. M. Syakir ketika membuka seminar.

Dia mengharapkan kegiatan seminar nasional ini dapat dijadikan sebagai koridor untuk menyalurkan hasil penelitian yang bermanfaat bagi bangsa sehingga bisa meningkatkan skala richter hilirisasi teknologi/ “haisl penelitian diharapkan bukan hanya signifikan secara statistik, tetapi harus signifikan juga secara sosial ekonomi”, tegasnya.

BALITKABI SEBAGAI PUSAT UNGGULAN IPTEK (PUI)

Balitkabi sebagai salah satu satuan kerja Balitbangtan memiliki tugas melaksanakan penelitian dan pengembangan di bidang tanaman aneka kacang dan umbi dengan komoditas utam akedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubikayu, serta ubijalar.

Sejak tahun 2015 Balitkabi ditetapkan sebagai Pusat Unggulan Iptek (PUI) Aneka Kacang dan Umbi oleh Kementerian Ristek Dikti. Dengan demikian Balitkabi menjadi lembaga rujukan IPTEK dan sumber inovasi teknologi tanaman aneka kacang dan umbi.

Komoditas aneka kacang merupakan sumber protein penting bagi masyarakat Indonesia, karena harganya relatif terjangkau. Dari aneka kacang yang mendapat perhatian pemerintah, yakni kedelai. Ini bisa dilihat dari jumlah kebutuhan, peranannya dalam perekonomian nasional dan jumlah petani yang terlibat dalam proses produksi kedelai.

Kebutuhan kedelai sekitar 2,7 juta ton per tahun, dan petani yang terlibat dalam produksi kedelai berdasarkan data BPS (SP-2013), sekitar 1,2 juta orang. Jumlah ini menyusut, karena sesuai Sensus Pertanian 2013, jumlah petani palawija dalam 10 tahun terakhir (2003-2013) menurun 21,2%.

Peran kedelai dalam perekonomian bisa dilihat dari rantai kegiatan yang menghidupi jutaan rakyat, mulai dari petani kedelai, produsen tempe-tahu-kecap-tauco-susu kedelai dan makanan ringan, pedagang tahu-tempe hingga penjual gorengan pinggir jalan.

Oleh sebab itu, kedelai masuk dalam program khusus (Upaya Khusus) percepata swasembada pangan yang dicanangkan oleh Menteri Pertanian Amran Sulaiman. Maka, peran Balitkabi sangat penting dan strategis dala mewujudkan kedaulatan pangan.

INOVASI TEKNOLOGI SPESIFIK LOKASI

Masalah utama peningkatan produksi pangan adalah keterbatasan lahan, terutama di Jawa. Terjadi perebutan lahan antara komoditas. Maka, diperlukan inovasi teknologi spesifik lokasi untuk pengembangan Akabi.

Teknologi spesifik lokasi di lahan suboptimal terutama rawa lebak dan pasang surut sangat diperlukan untuk pengebangan aneka kacang dan umbi. Ketepatan dalam pemilihan dan penerapan teknologi budidaya yang sesuai dengan kondisi rawa lebak dan pasang surut sangat diperlukan sehingga diperoleh hasil yang optimal.

Varietas Lawit dan Menyapa diantara varietas unggul kedelai adaptif pada lahan pasang surut dan lahan sawah. Keistimewaan dari kedua varietas ini adalah pengujian multilokasinya dilakukan di dua agro-ekologi, yaitu lahan pasang surut dan lahan sawah, sehingga memiliki daya adaptasi yang luas.

Di Lahan pasang surut, kedua varietas ini dapat ditanam di lahan dengan tipe luapan B, C, dan D, baik pada musim hujan maupun kemarau. Pada lahan bertipe luapan C dan D, dapat ditanam pada musim hujan dan musim kemarau, tanpa pembuatan guludan. pada musim hujan, di lahan bertipe luapan B perlu dibuat guludan untuk menghindari genangan pada saat pasang, karena genangan dapat merusak perakaran.

Menurut Saragih (2015), terdapat empat kunci keberhasilan dalam pengelolaan lahan rawa secara berkelanjutan (sustainable agriculture), yaitu: penataan lahan, pemilihan komoditas adaptif dan prospektif, pengelolaan air, dan penerapan teknologi budidaya yang sesuai.

Sejalan dengan itu, Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi menganjurkan paket teknologi budidaya kedelai pada lahan lebak dangkal dan lebak tengahan sebagai berikut: 1. pengolahan tanah minimal dilakukan dengan TOY. 2. varietas kedelai yang adaptif untuk lahan lebak adalah wilis, Rinjani, Lokon, Dempo, Galunggung, Lawit, dan Menyapa.

Selain itu harus dibuatkan saluran drainase dengan jarak antar saluran 4-5 meter dengan ukuran drainase lebar 50 cm dan kedalaman 70-80 cm. Panjang drainase disesuaikan dengan petakan atau bentang lahan yang ditanami kedelai. (RS)

 

Sumber: Pilar Edisi 43 (Agustus 2017)

Halaman: 43-44

pilar-43-1pilar-43-2