Liputan Media » [SWADAYA ONLINE] Litbang Pertanian Sukseskan 1 Juta Hektar Tanam Kedelai 2017

kedelaiSwadayaonline.com – Pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan produksi kedelai nasional dengan sasaran mencapai swasembada pada tahun 2020. Namun demikian Kementerian Pertanian telah menargetkan Indonesia dapat mempercepat pencapaian swasembada kedelai tahun 2018 melalui program dan bantuan bagi para petani kedelai. Pemerintah menargetkan produksi kedelai 1,5 juta ton tahun ini dan petani diharapkan mampu meningkatkan luas tanam dan produktivitas kedelainya. Karena itu pemerintah melakukan pendataan calon petani dan calon lahan secara akurat untuk memastikan ketersediaan lahan.

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Taaman Pangan, Dr. Andriko Noto Susanto mengatakan untuk mensukseskan program pemerintah tersebut, Badan Litbang Pertanian melalui Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, kini  fokus untuk penyediaan varietas unggul baru kedelai lengkap dengan inovasi teknologi pendukungnya untuk meningkatkan produktivitas kedelai pada berbagai agroekologi di Indonesia.

1 Juta Hektar

Selain varietas kedelai yang sudah banyak dikenal petani seperti Grobogan, Anjasmoro, Tanggamus dan Ijen, Badan Litbang Pertanian mengenalkan VUB yang akan digunakan untuk mensukseskan swasembada kedelai melalui penanaman 1 juta hektar tahun 2017 yaitu varietas Deja 1 dan 2 yang tahan jenuh air pada awal pertumbuhan vegetatif, Dega yang berumur genjah (71 hst) berbiji besar,  Dena yaitu tahan naungan sehingga dapat ditanam sebagai tanaman sela perkebunan dan kehutanan. Devon dengan kandungan antioksidan isoflavon tinggi dan Dering yang dirancang tahan kering pada fase reproduktif. Pada tahun 2017 Puslitbang Tanaman Pangan telah melakukan temu lapang denfarm penerapan inovasi teknologi BIODETAS pada lahan kering di Maros, Sulawesi Selatan dengan luas 50 hektar yang dikembangkan dengan target produksi > 3,0 ton/hektar. Teknologi BIODETAS ditekankan pada penggunaan pupuk hayati Agrisoy, Biopestisida VirGra dan Be-Bas. Agrisoy adalah pupuk hayati yang mampu meningkatkan kemampuan bintil akar menambat nitrogen sehingga dapat menghemat pemakaian pupuk anorganik NP sampai 50%.

Mewujudkan Swasembada

Implementasi inovasi teknologi Biodetas yang dilakukan di Maros, merupakan upaya Badan Litbang Pertanian untuk bersama-sama mewujudkan swasembada kedelai karena selain provitas meningkat, hasilnya juga langsung digunakan sebagai sumber benih bermutu dan langsung dimanfaatkan oleh pemerintah untuk dibagikan kepada petani. “Hasil panen kegiatan tersebut akan dibeli oleh Direktorat Jenderal Tanaman Pangan sebagai benih untuk ditanam petani pada musim berikutnya” Tegas Andriko. Untuk mensukseskan program penanaman 1 juta hektar kedelai, diperkirakan akan membutuhkan 50 ribu  ton benih. Untuk itu Direktorat Jenderal Tanaman Pangan menggandeng Badan Litbang Pertanian melakukan langkah-langkah penting dengan membentuk gugus tugas yang terbagi dalam 5 kelompok, pertama gugus tugas CPCL yang bertugas memastikan ketersediaan lahan dan petaninya lengkap dengan foto open camera, kedua gugus tugas perbenihan untuk memastikan bahwa benih yang dibutuhkan bermutu dan tersedia tepat waktu serta skenario distribusinya ke petani, ketiga gugus tugas budidaya dan penanggulangan OPT, keempat gugus tugas pascapanen untuk memastikan petani dapat melakukan panen dengan lancar termasuk alat dan mesin yang diperlukan, bila terjadi hujan ada penanggulangan untuk pengeringan kedelai menggunakan alsintan, kelima gugus tugas pemasaran, untuk memastikan jaminan harga jual yang menguntungkan petani,  jangan sampai harga jatuh saat panen raya.

“Puslitbangtan tidak hanya fokus dalam penciptaan VUB beserta inovasi teknologi pendukungnya, namun juga terus berupaya menyediakan benih sumber dan sebar dalam jumlah yang cukup sesuai preferensi petani dan kondisi agroekologi untuk mewujudkan swasembada kedelai, tegasnya”

Peluang Pasar

Andriko mengatakan, tugas yang paling rentan untuk mesukseskan swasembada kedelai selain ketersedian lahan dan benih bermutu adalah memastikan peluang pasarnya. Jika pasar dan harga ditingkat petani kompetitif, petani akan termotivasi untuk terus menanam dan memproduksi kedelainya, mengingat umur kedelai bias <80 hari cocok untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan setelah padi maupun jagung.  Kementerian pertanian terus mengupayakan agar produksi kedelai dalam negeri dapat terserap pasar dengan harga memadai. Seperti halnya padi dan jagung, Bulog akan menampung hasil jika harga ditingkat petani jatuh dibawah harga dasar pembelian petani sebesar Rp. 8.500,-  sehingga petani bergairah, tegasnya.

Kemurnian Benih

Rendahnya produktivitas kedelai petani sekarang ini, Andriko menduga selain masih belum diterapkannya inovasi teknologi budidaya secara baik, juga disebabkan oleh rendahnya mutu benih dan tidak tepatnya VUB sesuai kondisi agroekologi. Benih kedelai Badan Litbang Pertanian yang dihasilkan dijamin memiliki kualitas yang bagus dan tersertifikasi. Benih yang dipakai petani saat ini umumnya berasal dari benih petani melalui ‘Jabalsim’ jaringan benih antar lokasi dan musim yang kadang tidak tertelusur dengan baik asal usulnya. Dengan meningkatkan produksi kedelai dalam negeri dan dibarengi pengurangan atau menutup import kedelai, pasti akan berdampak pada perbaikan harga kedelai didalam negeri.

Namun dengan harga acuan penjualan ke pengrajin tahu dan tempe sebesar Rp 9.200/kg sesuai dengan Permendag Nomor 63/M-DAG/per/09/2016 tentang harga acuan pembelian di petani dan harga acuan penjualan konsumen, diharapkan petani kedelai akan lebih bergairah menanam kedelai. Dengan demikian sukses swasembada kedelai bukan suatu kemustahilan  “ungkap Andriko”. SY

Sumber